Pemkab MBD Jajaki Pengembangan Industri Garam Rakyat

  • Whatsapp
ilustrasi

Ambon, malukupost.com – Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) menjajaki kemungkinan pengem-bangan industri garam rakyat di daerah tersebut.

“Kami masih menjajaki kemungkinan pengembangan industri garam rakyat di beberapa Pulau di MBD, karena kondisi cuaca mendukung untuk pengembangannya terutama saat musim kemarau panjang,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan MBD, John James Kay yang dihubungi dari Ambon, Minggu (29/3).

Menurut John, beberapa pulau di kabupaten yang berbatasan dengan negara tetangga Timor Leste tersebut diantaranya Pulau Luang Kecamatan Mdona Hyera dan Pulau Damer sangat cocok untuk pengembangan komoditi garam.

Masyarakat di kedua pulau tersebut sejak puluhan tahun lalu sudah terbiasa membuat garam secara tradisional untuk dikonsumsi sendiri.

“Masyarakat di dua pulau tersebut selama ini mengambil air laut dengan ember, kemudian menampungnya pada kulit kima berukuran besar dan dijemur dibawah terik matahari selama berbulan-bulan hingga menjadi kristal garam, dan digunakan untuk konsumsi setiap hari,” katanya.

Khusus di Pulau Luang, masyarakat memanfaatkan garam yang dibuat secara tradisional tersebut untuk membuat ikan asin.

“Makanya selain sebagai sentra produksi rumput laut, Pulau Luang sejak puluhan tahun telah terkenal sebagai daerah penghasil ikan asin. Ikan Asinnya dipasarkan hingga ke Ambon, ibu kota provinsi Maluku dan sangat diminati masyarakat,” ujar John.

John mengakui, potensi pengembangan industri garam rakyat di kedua wilayah yang telah ditetapkan sebagai sentra produksi perikanan di kabupaten MBD tersebut, sangat besar dan pengembangannya bisa menggunakan teknologi sederhana serta biaya murah.

Lahan di pesisir pantai kedua pulau tersebut masih sangat luas dan tinggal dibuat seperti petak-petak sawah untuk menampung air laut yang disedot, kemudian dijemur selama beberapa bulan hingga menjadi garam.

Apalagi musim kemarau panjang yang terjadi di daerah setempat antara enam hingga delapan bulan, sehingga cocok untuk mempercepat proses kristalisasi air laut menjadi garam.

Pihaknya, lanjutnya, saat ini sedang melakukan kajian dan studi kelayakan guna menjajaki pengembangan industri garam rakyat di dua dua wilayah tersebut.

“Jika industri garam rakyat ini dapat dikembangkan maka berdampak besar mengurangi ketergantungan masyarakat akan garam yang masih didatangkan dari Pulau Jawa, maupun garam impor.

Selain itu, hasil produksinya jika dilakukan dalam skala besar dapat dipasok ke kabupaten terdekat diantaranya Maluku Tenggara Barat (MTB), Kepulauan Aru, Maluku Tenggara dan Tual dengan memanfaatkan transportasi laut yang semakin lancar. (ant/MP)

Pos terkait