Kreativitas Dan Empati Seniman Ambon Di Tengah Pandemi

  • Whatsapp
Eko Saputra Poceratu, penyair pasca realitas paling produktif dari Maluku. (foto dok)
Tampilan youtube Kelompok KAK5  saat membawakan lagu “Pela” karya Pendeta Seniman Christian Tamaela, yang berpulang 19 April lalu.

Laporan Rudi Fofid-Ambon

Ambon, Malukupost.com – Kenza Trona adalah satu dari begitu banyak anak muda Ambon yang punya banyak talenta. Salah satu keahliannya yakni membuat musik untuk para rapper.

Dari rumahnya, Kenza membuat sebuah komposisi musik. Jadilah “beat” lagu hiphop yang kemudian dibagikan ke sejumlah rapper Ambon dari tiga grup berbeda. Mereka memang sudah bangun komunikasi lewat telepon dan whatsup.

Di rumah masing-masing, para rapper merekam sendiri suara mereka sesuai pembagian verse dan durasi. Rapper Deco Hukom yang hijrah dari Ambon ke Papua Barat, juga ambil bagian. Rekaman dari masing-masing pesawat smartphone kemudian dikirim kepada Kenza.

Kenza selaku beatmaker, selanjutnya menyatukan semua rekaman tersebut. Dia kemudian menjadi editor. Mixing dan mastering dia kerjakan. Hasilnya, sebuah lagu bertajuk “Ghetto vs Covid” yang diluncurkan di kanal youtube.

“Sebuah ajakan dari katong voor teman teman dimanapun berada, untuk pertama kalinya dengan do nothing katong bisa selamatkan keluarga yang katong sayangi. Jang saling menyalahkan, cukup saling ingatkan!
yang berkelebihan bisa berbagi dengan yang membutuhkan.
Bersama #DIRUMAHAJA
Sama Sama #DIRUMAHSADOLO
Katong #LAWANCOVID
Hormat dar Katong, GHETTO SIDE”. Demikian catatan keterangan pada akun youtube Sang Saka.

Kenza Trona dan pesan-pesan dalam Ghetto vs Corona

Publik bisa mendengar musik hiphop rasa totobuang Ambon, lantas menyimak pesan-pesan agar terhindar dari bahasa virus corona. Rapper-rapper popular di Ambon ini berturut-turut tampil. Mereka adalah Novel Muskitta (AHH), Ongker Cols(AHH), Filaz Sinmiasa (SangSaka), Deco Hukom (AHH), Mack Jamco (SangSaka),   Dave Talabessy (AHH), Marco Saiya (AHH), Phey Wattimena (AHH), Grizzly Nahusuly (SangSaka), Pavel Thenu (TCP).

Para muda Ambon sudah terbiasa bekerja begini. Bahkan sebelum dunia dilanda virus corona, aktivitas sosial dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, sudah sering mereka lakukan. Penyebaran corona membuat para muda yang tinggal di rumah saja ini, tidak diam-diam saja. Mereka tetap peduli, mereka tetap kreatif, mereka tetap berkarya.

Pandemi Covid-19 akibat penularan virus corona di muka Bumi, terbukti tidak lantas menginfeksi kreativitas seniman-seniman di Ambon. Justru dari rumah masing-masing, mereka melahirkan karya-karya baru.

Para seniman Ambon tidak hanya para rapper SangSaka, AHH, atau TCP yang peduli. Ada banyak lagi kelompok dan perorangan secara terpisah merespon beragam peristiwa, seperti pandemi corona, wafatnya seniman tenar Glenn Fredly dan maestro musik Christian Izaac Tamaela.

Kelompok KAK5 (baca Kaks) adalah salah satu di antara para seniman Ambon yang terus berkreasi. KAK5 terdiri dari Figgy Papilaya, Falantino Latupapua, Gideon Beffers, Margie Sipahelut, dan Marieonie Serhalawan.

Melalui kanal youtube, KAK5 merilis dua video. Mereka menyanyikan lagu “Terpesona” untuk menghormati Glenn Fredly yang berpulang 8 April. Lagu “Pela” dinyanyikan KAK5 untuk menghormati penulis lagu tersebut Christian Tamaela. Tamaela berpulang 19 April lalu.

Sebelumnya, penyanyi reggae Rio Efruan lebih dulu merilis lagu “Pahlawan Di Garis Corona”. Rio merekam lagu tersebut sebagai tanda empati kepada para dokter dan paramedis yang berjuang di garis depan, dan gugur sebagai pahlawan.

Sementara itu, penyair milenial paling produktif Eko Saputra Poceratu merilis beberapa karya puisi, juga di akun youtube dalam bentuk videografi. Ia membaca puisinya berjudul Toki Gong, Ama (Untuk Sang Maestro Pdt Christian Izaac Tamaela). Eko adalah alumnus Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Ambon. Sebab itu, dia memiliki relasi emosi dengan dosennya Pendeta Christian Tamaela. Tidak heran, ia menulis puisi untuk sang maestro.

Eko juga membaca puisinya untuk kepergian Glenn Fredly, dan merilis melalui akun youtubenya. Puisinya berjudul “Glenn Fredly Adalah Maluku”.

Eko masih membuat konten youtube yang lain untuk menghormati Glenn Fredly. Ia membacakan tiga naskah prosa yang disiarkan di Media Online Maluku Post, berjudul “In Memoriam Franky Sahilatua, Georgie Leiwakabessy”, “Tujuh Rahasia Glenn Fredly”, dan “Salam Arafura Ley Glenn Fredly”. Masih dari Eko, karyanya yang lain yakni “Maluku vs Corona”.

Kelompok Teater Karaberi yang tampil dengan nama Paparisa Kacil Reborn tidak ketinggalan.  Bekerja sama dengan TVRI Ambon, mereka mementaskan teater situasi dengan pesan-pesan kepada publik agar tanggap covid-19.

Paparisa Kacil Reborn dari Sanggar Kabaresi yang popular sejak akhir 1990an. (crts acim-tvri)

Alfrido Ralahalu yang memerankan karakter pria Muslim Ambon bernama Acim, bersama rekan-rekannya yang berada di jalur teater sejak masih bocah, mampu menarik perhatian publik pengguna media sosial.  Dalam beberapa hari, menurut Acim, penonton akun  youtube mencapai 10  ribu .

“Danke banya voor kurang lebih 10 ribu orang basodara yang su menonton video ini dan sudah dibagikan sebanyak kurang lebih 600 kali. Baik di FB bahkan sosial media yang lain. Semoga katong bisa memaknai setiap pesan dari video ini supaya katong bisa bersma memutuskan mata rantai penyebaran Covid 19,” tulis Acim di akun facebooknya.

Sementara itu, dari Pulau Seram Maluku, para penyair Paparisa Sastra Nusa Ina menerbitkan antologi puisi secara digital. Antologi itu diberi judul “Virus Puisi Anti Virus Corona”. Menurut Ketua Umum Paparisa Sastra Nusa Ina Ard Latakua, mereka menerbitkan puisi tersebut sebagai tanda empati kepada para pahlawan di garis depan, maupun para korban Covid-19.

Masih banyak lagi karya seniman Ambon menyikapi realitas hari ini. Mereka melakukan kerja kreatif di rumah, lantas menggunakan media sosial untuk mempublikasikannya. (Malukupost.com)

Pos terkait