Paula Renyaan, Perempuan Cemerlang Dari Evav

  • Whatsapp

Laporan Rudi Fofid-Ambon

Malukupost.com – “Anda besok dilantik jadi Wakil Gubernur Maluku.  Apa visi kepemimpinan anda?” Seorang wartawan bertanya kepada Paula Maria Renyaan.

“Sebagai wakil gubernur, saya tidak punya visi.  Saya bahkan tidak boleh punya visi.  Saya hanya menjalankan visi gubernur,” jawab Paula.

“Anda bertugas lama sekali di luar Maluku.  Sekarang, anda kembali ke Maluku.  Sejauh mana anda kenal Maluku?” Tanya wartawan lain.

“Saya lahir di Maluku.  Saya mandi laut di pantai-pantai Pulau Banda.  Hutan-hutan Waenahia, Siri-Sori, di Saparua, itu tempat saya dan kawan-kawan semasa remaja mencari buah-buah.  Saya sudah berlayar di Maluku Tenggara sampai Maluku Utara.  Bahkan pernah terkatung-katung di laut berhari-hari,” jawabnya lagi.

Tanya-jawab Paula dan wartawan Ambon berlangsung dalam suatu konferensi pers di Hotel Mutiara Ambon, Jumat, 18 September 1998. “Cerdas,” kata seorang wartawan, usai konferensi pers tersebut.  Semua terkesan dengan jawabannya yang sangat siap, dan tidak asal.

Paula boleh disebut sebagai perempuan Kei paling bersinar di Indonesia di jalan politik maupun karier kepolisian.  Ia memiliki rekor abadi, yakni sebagai perempuan pertama di Indonesia yang menjabat wakil gubernur.  Demikian pula, Paula tercatat sebagai perempuan Maluku pertama yang mencapai jabatan perwira tinggi kepolisian dengan pangkat brigadir jenderal, termasuk Sekretaris Fraksi ABRI di DPR RI era Presiden Soeharto.

Angin reformasi sedang berhembus kencang ketika Paula dilantik menjadi Wakil Gubernur Maluku.  Gubernurnya adalah Saleh Latuconsina.  Hari Senin, 21 September 1998, hari pertama Paula masuk kerja, Dino Umahuk dkk dari Universitas Darussalam Ambon melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Maluku.

Dari ruang kerja, Paula menuruni tangga yang bisa dilihat langsung oleh ratusan pengunjuk rasa. Ia bertepuk tangan mengikuti nyanyian protes di lapangan.  Sampai di tengah kerumunan mahasiswa, Paula berubah menjadi konduktor yang terus menyemangati mahasiswa bernyanyi-nyanyi.

Setelah itu, barulah Paula meminta mahasiswa membacakan pernyataan sikap.  Ia merespon satu demi satu pernyataan tersebut.

“Setuju dengan anda.  Hutan-hutan sagu harus kita lindungi.  Itu adalah makanan kita.  Sagu, enbal, laut, darat, semuanya harus kita lindungi,” seru Paula membuat mahasiswa merasa senang.  Setelah itu, atas permintaan Paula, mahasiswa pun membubarkan diri dengan tenang.

Hanya tiga bulan, Paula menjalankan tugas secara normal.  Akibat konflik melanda Maluku, maka fokusnya penyelesaian konflik.  Paula menjabat Ketua Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) Provinsi Maluku.

Pada masa kepemimpinan Saleh Latuconsina-Paula Renyaan, konflik pecah tetapi keduanya berjuang keras mendamaikan Maluku, dengan dukungan berbagai pihak.  Tahun 2003, keduanya tetap berpasangan, walau akhirnya kalah dari pendatang baru Karel Albert Ralahalu/Memet Latuconsina.

Sebelum Pilkada langsung tahun 2003, sempat beredar rumor bahwa Paula akan maju sebagai Calon Gubernur Maluku.  Ketika dikonfirmasi, Paula membantah.

“Itu tidak benar.  Sampai hari ini,  saya tidak pernah mengeluarkan pernyataan atau melakukan suatu gerakan menuju ke sana.  Sama sekali tidak ada.  Saya ini wakil gubernur.  Selama gubernur belum  menyatakan apa-apa, saya tidak boleh lakukan apa-apa mendahului gubernur,” kata Paula.

Paula adalah sosok sederhana, namun cerdas,  dan tegas.  Gubernur Saleh Latuconsina pernah berkisah, dirinya beruntung memiliki Paula seorang wakil gubernur.

“Wagub bentak beta.  Beta kaget.  Baru pernah, beta dapa bentak dari wagub,” kata Saleh.

Saleh menuturkan, waktu itu sudah malam hari, ia masih di kantor.  TVRI Ambon sedang menyiarkan berita dari sebuah negeri di Ambon.  Gubernur ada di sana, dan membuat sebuah pernyataan mencengangkan.

“Kamong barenti bakalae sudah.  Kalau seng berenti bakalae, lebe bae beta  barenti,” kata Saleh.

Reporter TVRI kemudian bertanya kepada gubernur, apa maksud kalimat “beta barenti”. Saleh menjelaskan, kalau konflik berjalan terus dan orang-orang tidak mau berhenti bertengkar, lebih baik ia berhenti  dari jabatan gubenur.

“Berita di TVRI itu belum selesai, kaget lae ada telepon.  Ini telepon khusus jalur wakil gubernur.  Beta angkat, beta kaget,” cerita Saleh.

“Pak Gubernur! Ini saya brigadir jenderal mau bicara.  Pernyataan gubernur di TVRI saat ini sangat berbahaya.  Tidak boleh ulang lagi, sebab dengan pernyataan begini, orang akan menuntut gubernur mundur dari jabatan,” kata Paula sebagaimana  dikisahkan Saleh.

Paula benar.  Satu bulan setelah pernyataan itu, seorang pemuda Ambon bernama Donald membuat pernyataan di surat kabar.  Ia menuntut Saleh meletakkan jabatan gubernur karena konflik masih terus berlangsung.

“Gubernur harus mundur sesuai ucapannya sendiri,” tuntut Donald.

FILIPINO

Paula  lahir 16 September 1942 di Saumlaki. Ayahnya Petrus Paulus Renyaan, sedangkan ibunya seorang perempuan Filipina bernama Kresensia Rebanyo. Paula lulus SMA di Ambon tahun 1962, dan bermaksud kuliah  di Bogor.

Saat sudah di Bogor, Paula malah banting setir. Ia menyatakan niat masuk polwan. Sang ayah menentang.  Justru  ibu dan empat kakaknya mendukung.  Ayah pun berubah pikiran dan balik mendukung jalan yang dia pilih.

Paula masuk Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).  Ia mengikuti pendidikan di Porong dan Makassar (1963-1966) sampai lulus dan berpangkat letnan dua.  Ia pun terus kuliah dan meraih gelar sarjana tahun 1971.

Tugas kepolisian diawali di Surabaya.  Tahun 1983, ia bertugas di Polda Maluku sebagai Kepala Binmas.  Secara kedinasan, namanya lebih dikenal sebagai Paula Bataona/R. Dengan menyandang nama suami Joseph Petrus Bataona di belakang namanya, banyak orang tidak tahu latar belakangnya.

Di Bacan, Maluku Utara, dalam suatu sesi tanya-jawab, ada warga yang bertanya tentang latar belakangnya. Paula tersenyum mendapat pertanyaan tersebut, tetapi ia tetap meladeni.

“Nama saya Paula Maria Bataona garis miring R.  Bataona itu suami saya, sedangkan R itu Renyaan dari Kei,”  kata Paula disambut tepuk tangan komunitas Kei di Bacan, Halmahera Selatan.

Paula masih sempat dipindahkan kembali ke Jawa Timur dan berpangkat kolonel tahun 1985.  Tahun 1991, Paula dikaryakan dari tugas kepolisian ke politik.  Ia diangkat menjadi anggota DPR RI tahun 1991.

Tahun 1995, barulah Paula dipromosi menjadi brigadir jenderal.  Inilah capaian tertinggi di kepolisian oleh perempuan Maluku.  Paula menjadi perempuan ketiga yang menyandang pangkat tersebutsetelah Jeanne Mandagi dan Roekmini. Mandagi pernah menjabat Kabinmas Polda Maluku dan menjadi staf pengajar di Fakultas Hukum Universitas Pattimura, Ambon.

Karier Paula di DPR RI cukup cemerlang.  Ia menjadi anggota DPR RI tiga periode. Periode pertama tahun 1991-1992, karena ada pergantian antar waktu.  Periode kedua 1992-1995, dan periode ketiga (1995-1997).  Di sinilah, ketika TNI dan Polri masih berada dalam satu institusi besar ABRI, Paula selama dua periode menjabat Sekretaris Fraksi ABRI DPR RI.

Dalam satu percakapan pribadi di Ambon, Paula berkisah, dirinya pernah menggunakan jabatannya sebagai sekretaris fraksi untuk menelepon menteri transmigrasi.

“Saya baca berita yang anda tulis tentang keberatan warga Kei Kecil di Ohoinol dan sekitarnya atas rencana transmigrasi nelayan ke sana.  Saya langsung telepon menteri, saya bilang, itu kampung saya. Jangan bikin kacau kampung saya yang pulaunya kecil.  Tidak cocok untuk transmigrasi,” papar Paula.

Alhasil, meskipun para kepala ohoi tahun 1995 di sudah menandatangani persetujuan di Kantor Bupati Maluku Tenggara, rencana tersebut tidak pernah terealisasi.  Itu karena Paula.

Tahun 1996, dokter memvonis Paula mengidap kanker.  Paula bertahan di rumahnya, di  Surabaya.  Setahun berjuang melawan kanker,  akhirnya ia menghembuskan nafas terakhir pada 4 November 2007, satu minggu jelang peringatan hari pahlawan di kota pahlawan.

Bagaimanapun, Paula telah menoreh sebuah sejarah manis, bukan untuk dirinya, komunitas Evav, atau Maluku.  Ia telah mengabdikan dirinya secara penuh untuk Indonesia.  Ia menerima penghargaan Satyalancana Nararya dari pemerintah Indonesia dan Tunas Kencana dari Gerakan Pramuka (Malukupost.com)

Pos terkait