Ini Penjelasan Ketua Panitia Terkait Festival Pesona Meti Kei 2022

Ketua Panitia Festival Pesona Meti Kei (FPMK) Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2022, Viktor E. Budhi Tofi

Langgur, MalukuPost.com – Festival Pesona Meti Kei (FPMK) tahun 2022 kembali digelar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maluku Tenggara (Malra).

Ketegasan tersebut disampaikan Ketua Panitia FPMK Viktor E. Budhi Tofi kepada awak media di Langgur, Sabtu (24/9/2022).

Terkait pelaksanaan kegiatan dimaksud, panitia penyelenggara telah melakukan sejumlah persiapan yang dimulai dengan tahap pra iven, termasuk melalui rapat dengan seksi-seksi lomba/kegiatan.

Budhi menjelaskan, pihaknya juga sudah melakukan sosialisasi kepada warga di kecamatan Kei Kecil dan Kei Kecil Timur sebagai lokasi (venue) pelaksanaan beberapa iven, sekaligus melakukan rapat dengan beberapa seksi lainnya.

“Mudah-mudahan pekan depan kita sudah bisa lakukan rapat akbar dengan seluruh panitia (rapat lengkap) sebelum rangkaian kegiatan FPMK dibuka secara resmi oleh Bupati Malra pada tanggal 1 Oktober 2022,” ujarnya.

Sejumlah iven akan dilombakan dalam FPMK 2002 diantaranya dayung sampan dipusatkan di ohoi Wain (19-23 Oktober), futsall ekstrim (1-15 oktober) dengan lokasi kegiatan pada ohoi Ohoidertawun. Sementara puncak pertandingan futsaal itu dilaksnakan pada tanggal 24 karena ada beberapa tim yang datang dari Fak-fak dan Kaimana (Papua).

Selain itu, sejumlah kepala daerah daerah dari Papua juga ingin hadir saat acara puncak FPMK.

Untuk lomba voli pantai digelar selama sepuluh hari (dimulai tanggal 5 Oktober), sementara babak finalnya digelar tanggal 22 Oktober. Adapula lomba lari 10 Km dengan titik start di ohoi Kolser, dan finish di lokasi pantai Ngiarwarat Ohoidertawun.

“Tahun lalu itu kita punya lomba layangan, namun tahun kita kemas dalam bentu eksebisi bersamaan dengan kegiatan Bameti (cari ikan di laut) di lokasi pantai Ngiarwarat Ohoidertawun. Untuk kegiatan seni-budaya Kei berupa tarian dan lain-lain, akan dilaksanakan disela-sela kegiatan pameran. Ada pula permainan tradisional kei yang diperagakan oleh anak-anak, dan digelar hingga acara puncak FPMK. Seluruh pemenang untuk tiap-tiap perlombaan akan menerima hadiahnya diatas panggung utama FPMK saat acara puncak,” tuturnya.

Budhi jelaskan, tema FPMK tahun 2022 adalah Melalui FPMK Kita Jadian Maluku Tenggara Sebagai Pusat Olahraga Pantai.

“Kenapa harus olahraga panai yang diangkat ? Berbicara tentang meti Kei, kita punya pantai yang surutnya sangat ekstrim (fenomena ekstrim). Dengan kondisi pantai demikian maka dapat dilakukan berbagai kegiatan olahraga pantai. Kondisi pantai yang surutnya ekstrim di waktu-waktu tertentu itu tidak ada di daerah lain kecuali di Kepulauan Kei,” bebernya.

“Ketika ini disebarluaskan oleh teman-teman wartawan secara sporadis lewat pemberitaan, maka akan menjadi perhatian sekaligus referensi juga dari Kemenparekraf dan Kemenkomaritiman. Tahun kemarin itu Menteri Parekraf bapak Sandiaga Uno sudah menyebutkan bahwa Malra punya pasir terhalus di dunia, maka bukan tidak mungkin kalau pusat olahraga pantai terbaik ada di Kepulauan Kei tepatnya di Maluku Tenggara,” tambah Budhi.

Lebih jauh Budhi mengungkapkan, tahun lalu itu pihaknya memiliki satu atraksi unggulan yakni wer warat (menangkap ikan secara tradisional/tarik tali). Sementara untuk tahun ini, panitia menggunakan konsep “Taba Ta Met” atau It Ba Ta Met” (yang artinya mari kita pergi bameti cari ikan di laut).

“Esensi dari meti kei itu sendiri yakni kegiatan pergi bameti bersama-sama. Menariknya adalah akan ada banyak orang yang pergi ke pantai untuk tikam ikan, ambil kerang-kerangan dan lain-lain. Mereka (warga) yang turun ke laut untuk bameti itu juga tidak akan menggunakan kostum (seragam) tapi menggunakan pakaian biasa (sehari-hari),” bebernya.

Kegiatan bameti bersama ini akan dilaksanakan serentak di 11 kecamatan saat acara puncak FPMK. Untuk mendukung hal tersebut, panitia akan melakukan sosialisasi dengan para Camat.

“Jika setiap Camat menginstruksikan seluruh ohoi dalam wilayahnyaa melakukan kegiatan bameti bersama, maka dengan jumlah ohoi di Malra sebanyak 192 yang warganya lakukan bameti bersama maka akan menjadi tontonan menarik,” imbuhnya.

Budhi mengungkapkan, konsep FPMK tahun ini memang agak berbeda. Bukan berarti pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya tidak menarik.

Menurutnya, setiap tahun iven harus mengalami peningkatan, karena FPMK ini sudah masuk dalam kalender iven nasional Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparkeraf), dan tahun ini adalah tahun resmi keduanya.

Pihaknya berharap, tahun depan nanti bisa tertuang dalam kalender tahun ketiga, agar nantinya FPMK ini menjadi modal utama, dan kita jadikan iven lainnya seperti Nen Dit Sakmas masuk dalam kalender iven nasional Kemenparkeraf RI.

“Kami juga mengharapkan bantuan dari teman-teman media (melalui kerjasama) untuk membantu menyebarluaskan lewat pemberitaan (media online/prtal berita, media cetak dan elektronik), agar warga yang ada di luar maupun dalam daerah ini bisa mengetahui dengan pasti tentang kegiatan FPMK ini,” pungkasnya.

Pos terkait