Kegiatan TP-PKK Kota Ambon bersama Hope Worldwide Indonesia tersebut diikuti kader PKK. Dua narasumber dari Jakarta, Danang Esitoro dan Yuka Esitoro, hadir untuk memberikan materi terkait pola komunikasi dan kebutuhan emosional anak.
Lisa mengatakan kasih sayang tidak selalu diberikan dalam bentuk materi. Perhatian, komunikasi, waktu bersama, pelayanan, hingga sentuhan fisik menjadi bagian dari cara anak merasakan kehadiran orang tua.
“Anak-anak membutuhkan kasih sayang yang diberikan secara tepat. Karena itu, orang tua dan keluarga perlu memahami bagaimana cara anak menerima dan merasakan kasih sayang,” kata Lisa.
Lima bahasa kasih yang diperkenalkan dalam kegiatan itu meliputi kata-kata pujian atau afirmasi, waktu berkualitas, pemberian hadiah, pelayanan, dan sentuhan fisik.
Melalui pendekatan tersebut, orang tua diajak mengenali bentuk perhatian yang paling mudah diterima anak dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan tersebut tidak selalu berkaitan dengan pemberian barang atau sesuatu yang bernilai mahal.
“Kadang-kadang anak tidak membutuhkan sesuatu yang mahal. Mereka hanya ingin didengarkan, ditemani, dipuji ketika melakukan sesuatu yang baik, dan merasakan kehadiran orang tua di tengah-tengah mereka,” ujar narasumber.
Lisa menilai kader PKK dapat berperan dalam meneruskan pemahaman tersebut kepada keluarga di lingkungan masing-masing. Edukasi soal pola pengasuhan diharapkan dapat membantu keluarga membangun komunikasi yang lebih dekat dengan anak.
“Kami berharap ilmu yang diperoleh dalam kegiatan ini tidak berhenti di ruangan ini saja, tetapi dapat diteruskan kepada keluarga dan masyarakat. Kader PKK harus menjadi penggerak dalam membangun keluarga yang penuh kasih sayang dan ramah terhadap anak,” pungkasnya.
Sosialisasi ini menjadi bagian dari kegiatan TP-PKK Kota Ambon dalam memperkuat peran keluarga pada proses pengasuhan. Materi lima bahasa kasih juga diarahkan agar dapat diterapkan secara sederhana melalui kebiasaan orang tua saat berinteraksi dengan anak.


