Dari Krisis ke Akselerasi: Inovasi 4 Bulan Perumda Panca Karya Catat Kinerja Positif

Ambon, MalukuPost.com – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Panca Karya Maluku mulai menunjukkan akselerasi kinerja setelah melewati fase krisis berkepanjangan. Dalam empat bulan kerja Direksi dan Dewan Pengawas (Dewas) baru, serangkaian inovasi dan langkah strategis berhasil menggerakkan kembali roda bisnis perusahaan, memulihkan operasional unit usaha, serta menata fondasi keuangan menuju perusahaan daerah yang sehat dan produktif.

Saat Direksi dan Dewan Pengawas (Dewas) resmi menjabat per September 2025, dengan Direktur Utama (Dirut) Rany Tualeka, Maya Kailola Direktur Keuangan, Syaifuddin Go Direktur Operasional atau Pemasaran. Dewas Joni Wattimena, Ayu Hasanussi danOyang Nego Petrusz, kondisi perusahaan tergolong berat. Saldo kas hanya sekitar Rp363 juta, sementara total kewajiban perusahaan mencapai Rp22 miliar. Sejumlah kapal tidak beroperasi, unit transportasi darat merugi akibat pencabutan subsidi, aset perusahaan tidak produktif, serta disiplin pembayaran gaji karyawan kerap tersendat. Situasi tersebut menjadi titik awal dilakukannya pembenahan menyeluruh.

Langkah pertama difokuskan pada pemulihan unit usaha pelayaran yang menjadi tulang punggung bisnis. Dari empat kapal komersial dan lima kapal subsidi yang dikelola, kondisi per September 2025 menunjukkan tujuh kapal berada dalam proses docking dan hanya satu kapal yang beroperasi. Melalui percepatan perbaikan dan negosiasi biaya, enam kapal kini kembali melayani rute-rute strategis antarwilayah di Maluku. Bahkan KMP Bahtera Nusantara 02 yang sempat berhenti beroperasi selama dua tahun akibat kerusakan mesin, berhasil diaktifkan kembali.

Efisiensi biaya menjadi kata kunci dalam proses akselerasi. Direksi berhasil memperoleh potongan biaya docking sebesar 15 persen dari Dok Wayame untuk sejumlah kapal utama. Langkah ini tidak hanya menekan pengeluaran, tetapi juga mempercepat kembalinya kapal ke lintasan pelayanan dan komersial.

Di sektor transportasi darat, Unit Usaha Trans Amboina yang sempat terpuruk setelah subsidi dihapus sejak Juni 2025, mulai bangkit. Penyesuaian tarif rental, perbaikan fisik armada, serta optimalisasi pemanfaatan aset membuat seluruh 13 unit bus dan satu unit tangki air kini siap beroperasi dan kembali menghasilkan pendapatan.

Sementara itu, Unit Usaha Kehutanan mencatat perbaikan signifikan. Produksi dan penjualan kayu periode September-November 2025 mencapai 990 pcs atau setara 4.752,95 meter kubik dengan nilai lebih dari Rp808 juta. Dalam empat bulan kerja, manajemen memastikan seluruh hasil penjualan tertagih, sekaligus menyiapkan langkah menuju target produksi tahunan yang lebih agresif.

Terobosan juga dilakukan pada pengelolaan aset Christian Center. Aset yang sebelumnya tidak produktif dan justru membebani perusahaan melalui biaya rutin, kini dikelola bersama pihak ketiga. Skema kerja sama tersebut membuat aset mulai memberikan keuntungan sekaligus menutup biaya operasional yang selama ini membebani keuangan perusahaan.

Dari sisi internal, Direksi melakukan restrukturisasi organisasi dengan memisahkan fungsi personalia dan divisi umum, serta melakukan rotasi dan promosi pegawai untuk penyegaran organisasi. Disiplin keuangan juga mulai ditegakkan, ditandai dengan pembayaran gaji dan tunjangan hari raya tepat waktu, sesuatu yang jarang terjadi pada periode sebelumnya.

Dalam empat bulan tersebut, Perumda Panca Karya juga mampu membayar kewajiban perusahaan senilai Rp2,47 miliar yang berasal dari tagihan kapal dan bagi hasil HPH. Dukungan pembiayaan diperkuat melalui pencairan kredit Rp3,5 miliar dari Bank Maluku Malut untuk kebutuhan docking kapal dan stabilisasi operasional.

Ke depan, manajemen menargetkan laba sebelum pajak tahun 2026 sebesar Rp4,04 miliar, dengan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Diversifikasi usaha, efisiensi biaya, serta penerapan indikator kinerja utama menjadi pilar dalam strategi jangka menengah perusahaan.

Transformasi dalam empat bulan ini menandai pergeseran penting Perumda Panca Karya, dari perusahaan yang bergulat dengan krisis, menuju fase akselerasi yang membuka harapan baru sebagai BUMD yang profesional, inovatif, dan berdaya saing.

Pos terkait