Dokter Anna Lucia, Nona Ambon Pertama Penerima Medali Emas dari Paus Pius XII

Dokter Anna Lucia Ongkiehong (cadillackoen.nl)

Ambon, Malukupost.com – Tahun 2025 lalu, sejumlah tokoh di Indonesia menerima penghargaan berupa medali emas Pro Ecclesia et Pontifice dari Paus Leo XIV. Mereka antara lain Pastor Agustinus Heri Wibowo, Pastor Hani Rudi Hartoko, Kepala Protokol Negara Andy Rachmianto, Muliawan Margadana, Irjen Pol (Purn) Widyo Sunarko, Irjen Pol (Purn) Heribertus Dahana, Brigjen TNI (Purn) Gunung Sarasmoro, Bambang Thjahyono, Aristotle, dan sejumlah biarawati dan pastor yang terlibat dalam kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia.

Medali emas Pro Ecclesia et Pontifice pertama kali diberikan oleh Paus Leo XIII pada 17 Juli 1888 untuk memperingati 50 tahun tahbisan imamatnya. Penghargaan ini diberikan kepada individu awam maupun tokoh gereja yang mempunyai jasa luar biasa kepada gereja dan paus. Sepuluh tahun kemudian, Oktober 1898, Paus Leo XIII menetapkan medali ini sebagai tanda kehormatan permanen bagi individu yang dinilai berjasa bagi Gereja Katolik dan Paus.

Di Indonesia, orang pertama penerima medali ini adalah seorang katekis sederhana pada tahun 1928. Namanya Barnabas Sarikromo. Dia dinilai berjasa besar karena selalu mendampingi Pastor Frans Van Lith SJ di Jawa. Pastor van Lith sendiri sangat berjasa besar bagi perkembangan umat Katolik di Indonesia, terutama di Tanah Jawa.

Tidak banyak yang tahu, bahwa 60 tahun lalu, medali emas Pro Ecclesia et Pontifice pernah juga diberikan kepada seorang perempuan Ambon bernama Anna Lucia Ongkiehong. Memang, Anna tidak berdarah Maluku. Ayahnya Ong Kie Hong dan Ibunya Njio Kiok Nio. Pasangan konglomerat kelahiran Ambon ini berasal dari garis keturunan Tionghoa.

Anna Lucia Ongkiehong lahir di Ambon, 15 Juli 1899. Dia anak ke-11 dari 15 bersaudara. Nama Tionghoanya Ong Aan Nio. Keluarga Ongkiehong tinggal di sebuah rumah Tionghoa besar bersama keluarga besar Njio Kik Tjien, yang terdiri dari 12 anak.

Rumah orang tua Anna berada di dekat Pelabuhan Ambon, sekarang menjadi ruko di Jalan AM Sangadji, menghadap Masjid Alfatah Ambon. Namun, Anna tidak terlalu lama tinggal di situ. Setelah menempuh pendidikan dasar di Ambon, sang ayah Ong Kie Hong mengirim Anna ke Belanda, mengikuti kakak-kakaknya yang sudah lebih dulu belajar di sana.

Di Belanda, pada usia 13 tahun, Anna menempuh Hoogere Burgerschool (HBS) di Waldeck Pyrmontkade, Den Haag. Lulus dari HBS, Anna masuk pendidikan kedokteran di Leiden. Pada musim semi tahun 1929, Anna lulus kuliah dan bergelar dokter. Dia sempat ke Roma, tinggal beberapa waktu di sana, karena baru saja menjadi penganut Katolik. Dari Roma, barulah Anna kembali ke Indonesia.

Dokter Anna Ongkiehong tercatat sebagai perempuan pertama kelahiran Ambon yang lulus di Eropa dan bekerja di Indonesia. Mulanya dia menjadi sukarelawan di pemerintahan Belanda, dan ditempatkan di Jakarta.

Sebagai dokter muda, Anna tertarik pada perawatan ibu dan anak. Dia pun terlibat dalam pelatihan gadis-gadis pribumi untuk menjadi perawat dan bidan. Tercatat, Dokter Anna bekerja secara berturut-turut di sekolah-sekolah kebidanan di Jakarta dan Semarang.

Dokter Anna sempat menyatakan niatnya untuk menjadi biarawati. Akan tetapi ketika niat itu disampaikan kepada Uskup Jakarta Mgr. Willekens, sang uskup justru memberi jalan lain. Menurut Uskup Willenkens, Dokter Anna lebih baik melayani masyarakat sebagai dokter awam.

Selama pendudukan Jepang, Dokter Anna kembali dari Semarang ke Jakarta. Semua program pelatihan telah dihentikan Jepang. Maka di sebuah rumah biasa, Dokter Anna mendirikan rumah sakit kecil untuk merawat bayi yang sakit.

Bagi penguasa Jepang waktu itu, Dokter Anna dicurigai sebagai mata-mata. Mereka mengenalnya sebagai seorang terpelajar, keturunan Tionghoa, belum menikah. Maka Dokter Anna pun ditangkap, diinterogasi, dipukuli, tetapi akhirnya dibebaskan.

Meskipun tidak menikah sampai akhir hayat, Dokter Anna yang mencintai anak-anak akhirnya mengadopsi seorang bayi yang sakit menjadi anaknya. Namanya Letty. Dokter Anna mengasuh Letty laksana anak kandungnya sendiri.

Pada 12 Juni 1945, Dr. Lippits menawarkan kepada Kementerian Wilayah Luar Negeri Belanda, sepuluh biarawati misionaris medis untuk memberikan bantuan medis ke Indonesia. Ada kebutuhan mendesak akan bidan dan perawat yang terlatih dengan baik.

Dokter Henricus Adrianus Petrus Canisius Oomen yang menjadi Direktur Rumah Sakit Stella Maris di Makassar, tidak menyia-nyiakan upaya apa pun dalam mendirikan sekolahnya sendiri; yang pertama di Timur. Maka Dokter Anna didekati untuk menjadi direktur medis sebuah sekolah kebidanan bekerja sama dengan para Suster Jesus Maria Josep (JMJ) di Makassar.

Mengingat pengalaman luas Dokter Anna dalam jenis pelatihan ini, para Suster JMJ sangat gembira ketika Dokter Anna setuju menerima tugas ini. Menurut hukum, ia sudah mendekati usia pensiun, jadi pada tahun 1947 ia memulai pekerjaan yang benar-benar inovatif di lingkungan yang asing baginya.

Selama 20 tahun berikutnya, Dokter Anna terus mendedikasikan dirinya untuk kesehatan ibu dan anak serta pelatihan bidan. Hal itu menjadi pekerjaan seumur hidupnya. Ia membantu ribuan ibu dan bayi. Namun, perhatian khususnya selalu terfokus pada kaum miskin dan yang paling rentan.

Bahkan, pada tahun 1947, ketika Dokter Anna menghabiskan beberapa bulan di Belanda, dia sempat membimbing sepuluh gadis Indonesia untuk menyelesaikan studi mereka.

Selama di Makassar, Dokter Anna sangat memperhatikan pelatihan bagi tenaga muda. Dengan kesabaran yang tak terbatas, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam memberikan pelajaran tambahan kepada siswa yang kesulitan. Ia selalu memberi motivasi untuk mengabdikan diri dalam membantu orang lain.

Berkat pandangannya yang jauh ke depan, siswa-siswa yang berprestasi dikirim ke pendidikan tinggi, sehingga mengembangkan guru-guru mereka sendiri yang menyebar ke seluruh Sulawesi dan pulau-pulau lain serta memimpin sekolah-sekolah di sana. Dokter tersebut terus mengikuti jejak mereka dengan penuh minat dan nasihat yang bijaksana.

Atas jasanya, Paus Pius XII menganugerahkan medali “Pro Ecclesia et Pontifice,”. Dokter Anna menerima medali itu pada hari Minggu, 21 November 1954, dari Vikaris Apostolik Makassar Mgr. Nicolas Martinus Schneiders, CICM.

Pada awal tahun 1967, Dokter Anna kembali ke Belanda, pada usia 68 tahun. Namanya sangat dikenal luas di Makassar. Selalu peduli pada orang lain, dia hanya membutuhkan sedikit untuk dirinya sendiri.

Dokter Anna tetap menjadi dokter pemerintah. Namun ia tidak pernah khawatir tentang masa depan. Saat mengurus naturalisasinya, ia diingatkan tentang haknya atas pensiun, sesuatu yang tidak lagi ia duga.

Ketika ia diundang kembali dari Indonesia beberapa tahun kemudian untuk melihat perkembangan pekerjaannya di Makassar, Dokter Anna menjawab, sekarang ia terima pensiun, dapat sekali lagi membantu seorang siswa miskin menyelesaikan studinya. Itu adalah ciri khasnya. Rasa tanggung jawabnya tidak mengenal batas.

Setelah ke Belanda, Dokter Anna tidak pernah kembali lagi ke Indonesia. Ia tutup usia pada 7 Desember 1978, dalam usia 79 tahun. (Sumber foto & teks,  cadillackoen.nl)

Pos terkait