Ketika Pendeta Bram Soplantila Minum Sopi

Pendeta Bram Soplantila (foto sinode gpm)

Catatan Rudi Fofid-Ambon

Ambon, Malukupost.com – Pendeta Bram Soplantila angkat sloki. Ia lebih dulu “toast” dengan sahabat karibnya di samping. Sekejap saja, sopi dalam sloki langsung ditelan. Ludes. Ribuan orang yang menyaksikan adegan minum sopi itu bertepuk-tangan, bersorak-sorai.

Hari itu, Jumat, 14 Februari 1992 sungguh berkesan. Bahkan, untuk sebuah sejarah, peristiwa minum sopi di Negeri Soya Ambon tersebut, jangan sampai dilupakan. Kala itu, Pendeta Bram atau Abraham Jonas Soplantila, masih menjabat Ketua Badan Pekerja Harian (BPH) Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM). Sebab itu, adegan ketua sinode minum sopi, sungguh menjadi pusat sorotan.

Ketua sinode tidak sendiri. Ada sahabat karib di sampingnya yakni Monsigneur (Mgr) Andreas Petrus Cornelius Sol MSC, Uskup Diosis Amboina. Ketua sinode dan uskup minum sopi adalah sebuah peristiwa layak berita. Bukan saja itu. Ketua Majelis Jemaat GPM Soya Pendeta J. D. Istia dan Pastor Paroki Katedral P. Yonas Batlyol MSC juga minum sopi. Ketua AMGPM Cabang Soya Matheis Temtalahitu dan Ketua Perhimpunan Muda-Mudi Katolik Katedral (Pemukka) Nico Rotama, juga melakukan hal yang sama.

Pesta-pora mabuk-mabukan? Tentu tidak. Justru ketua sinode, uskup, pendeta, pastor, dan ribuan anggota Jemaat Katolik dan Protestan berkumpul di halaman Gereja Soya untuk suatu ritual sakral yang belum pernah ada sebelumnya: Angka Pela Rohani Katolik-Protestan antara Jemaat GPM Soya dan Umat Katolik Paroki Katedral.

Sudah 28 tahun peristiwa angka pela pada masa pemerintahan Raja Soya Rene Rehatta itu berlalu. Uskup Andreas Sol sudah tiada setelah hidup lebih 100 tahun. Kini sahabat karibnya, Pendeta Bram giliran dipanggil menghadap Bapa di Surga. Akan tetapi, peristiwa minum sopi sebagai tanda dimulainya pela rohani, akan terus menjadi monumen hidup. Sejumlah orang muda di Soya dan Katedral, bahkan sudah merindu-rindukan panas pela tersebut.

Pela Soya-Katedral bukan sebuah pela hampa. Ada banyak ikatan emosi antara warga Katedral dan Jemaat Soya. Salah satu peristiwa paling heroik adalah ketika gedung gereja dan rumah warga diterjang bom pada malam hari dan jatuh korban jiwa. Pada malam nan mencekam, seorang biarawati Katolik berjalan meninggalkan biara. Biarawati itu, Brigita Renyaan di Biara Putri Bunda Hati Kudus (PBHK) Ambon.

Tanpa takut, Brigita melintasi malam, menumpang ojek gratis pria tidak dikenal dari sudut Polda Maluku terus ke Soya. Di sana, Brigita melakukan investigasi. Esoknya, Brigita melakukan konferensi pers mengumumkan hasil investigasi bahwa Gereja Soya bukan diterjang serangan bom dari Laskar Jihad, Kelompok Mujahidin, atau kelompok Islam manapun sebagaimana prasangka sepanjang malam. Brigita mengumumkan nama sebuah kelompok milisi bukan Muslim yang dipersenjatai sebagai pelaku penyerangan ke Soya.

Peristiwa ketua sinode dan uskup minum sopi tersebut, merupakan sebuah puncak keintiman Katolik dan GPM yang tahun-tahun sebelumnya diprakarsai Pendeta Bram dan Uskup Sol. Melalui serangkaian perjumpaan dan dialog yang intensif, banyak sekali kemajuan yang dicapai kedua gereja.

Misalnya saja, kalau terjadi pindah gereja. Orang Katolik masuk GPM atau sebaliknya, maka tidak akan terjadi baptisan ulang sebab ada saling pengakuan bahwa baptisan di gereja asal sudah sah. Bila terjadi perkawinan antar dua mempelai GPM dan Katolik, maka dalam perkawinan ekumenis, pastor dan pendeta sama-sama hadir dengan penuh penghargaan satu sama lain.

Jemaat GPM di Gereja Maranatha maupun Jemaat Paroki Katedral sempat terkejut tetapi menyambut dengan gembira dengan pertukaran mimbar. Dalam ibadah di Gereja Maranatha, khotbah disampaikan oleh pastor Katolik. Sedangkan dalam Misa di Gereja Katedral, khotbah disampaikan oleh Pendeta GPM. Sungguh semua ini mencairkan kebekuan hubungan Katolik-Protestan yang sepanjang sejarah penuh persaingan. Apa yang dirintis Pendeta Bram dan Uskup Sol, sungguh monumental. Uskup pengganti maupun ketua sinode setelah itu, semuanya menjalin hubungan intim, dan boleh menjadi contoh kehidupan ekumenis di Nusantara. Keduanya bolehlah disebut sebagai “Bapak Oikumene Maluku”.

Persahabatan Pendeta Bram dan Uskup Sol tidak hanya terjadi semasa keduanya berada dalam jabatan formal. Ketika sudah sama-sama pensiun dan menempuh usia lanjut, persahabatan itu terus berlangsung. Pernah dalam suatu hari ulang tahun Uskup Sol ke-95, Pendeta Bram didampingi puterinya Debra, datang dari Halong ke Batugantung. Dua sahabat lama itu berjabatan, berpelukan, dan saling rindu. Rindu kaum tua yang sangat luhur.

Tulisan pendek ini dibuat dari kekurangan bahan, baik wawancara maupun bahan dokumen tertulis. Mencari nama Uskup Amboina Mgr Andreas Sol, pada mesin pencari google misalnya, ada begitu banyak naskah. Mencari nama Pendeta Bram Soplantila, maka sulit menemukan naskah segar tentang profil sang pendeta yang sangat penting ini.

Orang muda gereja, perlu kiranya membuat dokumentasi yang memadai tentang para tokoh, baik di level ketua sinode, pendeta-pendeta, sampai ke koster-koster di jemaat kampung-kampung terpencil dan heroik. Masing-masing memiliki panggilan sejarahnya sendiri, dan sangat sayang jika artefak-artefak hidup itu dilupakan begitu saja.

Pendeta Bram Soplantila, pergilah dengan jaya dan perkasa. Kami cinta dan mengenangmu sepanjang umur.

Ambon, 29 Maret 2020

Penulis adalah Redaktur Pelaksana Media Online Maluku Post

Pos terkait