
Catatan Robert B. Baowollo-Yogyakarta
Panggilan oikumene – panggilan kembali ke keesaan Gereja – itu adalah kerja Roh Kudus. Tetapi tanpa orang kuat yang terpanggil dan bersedia memberi perhatian serius untuk merintis gerakan oikumene di bumi Maluku maka panggilan itu hanya menjadi gema di ruang hampa.
Dua tokoh sentral perintis gerakan oikumene di Maluku di tahun 1980-an adalah Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku Pendeta Bram Soplantila dan Uskup Amboina Mgr. Andreas P.C. Sol, MSC.
Jabatan Ketua Sinode – jika melirik pada struktur Gereja Protestan-Lutheran di Jerman – adalah jabatan Uskup (Landesbischof) setara dengan jabatan Uskup pada Gereja Katolik. Jadi ada dua Uskup, pimpinan tertinggi Gereja di Maluku yang bekerja sama dalam senyap tanpa banyak diketahui orang.
Dalam senyap mereka membangun jembatan persahabatan, merajut kembali tenun kebersamaan oikumenis di antara denominasi Gereja-Gereja di Maluku yang memiliki latar belakang sejarah Gereja di Eropa yang penuh konflik dengan residu politik yang sangat ‘beracun’ di tanah jajahan.
Sebelum saya berangkat ke Jerman di tahun 1980an bersama beberapa teman dari FKIP Unpatti, Dekan FKIP Drs. Henny. M. Soplantila, memberi arahan kepada kami dan menyinggung bahwa ada saudaranya jadi pendeta di Wupertal Jerman. Pada waktu itu hanya satu sahabat kami yang sempat mengunjungi keluarga Bram Soplantila di Wupertal.
Kembali ke Indonesia, ada hajatan rohani oikumenis dalam skala besar di Maluku yang dikenal sebagai kegiatan Pesat. Kegiatan ini dimotori oleh sebuah yayasan di Salatiga melibatkan ‘seribu hamba Tuhan di seluruh Maluku”. Secara demonimasi, organisasi yang menyelenggarkan kegiatan ini bukan dari rumpun gereja mainstream.
Pihak GPM dan Keuskupan Amboina dengan sangat hati-hati tetapi amat bijak menyambut kegiatan ini. Pimpinan tertinggi masing-masing Gereja memilih mengutus wakil mereka (sesuai level birokrasi gereja) untuk menjadi bagian dari panitia penyelenggara kegiatan tersebut. Dan saya menjadi wakil Gereja Katolik.
Kegiatan yang sebagian besar mengambil bentuk seminar tematik itu tidak luput dari kerikil-kerkil perbedaan teologis antar denominasi. Ada pembicara yang sama sekali tidak mengenal dengan baik doktrin gereja yang lain dalam penyampaian materi mereka sehingga beberapa kali menimbulkan kegelisahan hingga protes.
Kegelisahan-kegelisahan yang tidak cukup diantisipasi oleh panitia itu membuat para petinggi Gereja besar di wilayah ini, GPM dan Keuskupan Amboina, harus melakukan berbagai pertemuan senyap di belakang layar untuk meluruskan berbagai kesalahpahaman, baik karena ketidaktahuan maupun karena sikap-sikap naif dalam berteologi.
Di sinilah saya mengenal dari dekat betapa kedua pimpinan tertinggi Gereja di Maluku, Pendeta Bram Soplantila dan Uskup Andreas Sol, sangat intensif bertemu dalam sunyi, berdialog dari hati ke hati, berbagi gagasan dan saran untuk mengawal embrio benih oikumene di Maluku agar benih itu jatuh di tangan petani yang tepat, menemukan lahan persemaian yang benar, bertumbuh dengan sehat, dan menjanjikan.
Kedekatan Pendeta Bram Soplantila dengan Uskup Andreas Sol adalah antitesis terhadap realitas “kebersamaan yang masih berjarak” antara umat Protestan dan umat Katolik, antara Pendeta dan Pastor. Umat dan para pastor serta pendeta tidak sepenuhnya bersalah karena mereka mewarisi, atau dilahirkan dari, sejarah hubungan antar-gereja kolonial yang tidak bersahabat sejak dari sono.
Perjumpaan personal (persönliche Begegnung) saya dengan keteladanan oikumenis dan dalam semangat rendah hati dari Pendeta Bram Soplantila (bersama Uskup Andreas Sol) menjadi bekal bagi saya untuk lebih percaya diri berjalan dan berada di antara jemaat-jemaat oikumenis di Hamburg, di seluruh Jerman, bahkan di Eropa (PERKI) selama kurang lebih 13 tahun.
Dalam iman akan Yesus Kristus yang bangkit kembali, saya percaya Pendeta Bram Soplantila telah menyelesaikan tugasnya secara paripurna di dunia dan kembali dalam damai bertemu dengan Sang Khaliknya.
Requiescat in Pace!
Yogyakarta, 30 Maret 2020
Penulis adalah pekerja sosial, tinggal di Yogyakarta


