Langgur, Malukupost.com – Bupati Maluku Tenggara (Malra), M. Thaher Hanubun mengatakan, masyarakat Kei di Malra, provinsi Maluku, memiliki tradisi Yelim yang merupakan bagian penting dari kearifan lokal untuk menghormati sesama, sehingga harus terus dilestarikan.
“Yelim adalah kekayaan masyarakat suku Kei yang perlu terus dilestarikan,” ujarnya di Langgur, Sabtu (12/6/2021).
Bupati Hanubun menjelaskan, Yelim merupakan tradisi yang hampir mirip dengan seserahan, di mana kelompok masyarakat atau keluarga yang duduk bersama, mengumpulkan barang atau lainnya, kemudian dihantarkan kepada orang yang sedang mengadakan hajatan tertentu.
“Tradisi ini dikembangkan sejak masa leluhur masyarakat Kei, tanpa memandang status sosial dan agama tertentu,” ujarnya.
Tradisi juga Yelim menggambarkan kuatnya ikatan persaudaraan masyarakat Kei, dimana Leluhur mereka merasa saling memiliki tanpa memandang perbedaan antara satu dan lainnya.
“Karena itu, Pemkab Malra berupaya untuk melestarikan tradisi tersebut dengan ikut berpartisipasi dalam proses Yelim dalam rangka peresmian Gereja Katolik Santo Josep di Ohoijang pada 14 Juni nanti,” bebernya.
Menurutnya, hal tersebut dilakukan untuk mendorong masyarakat lainnya untuk tetap menjaga tali persaudaraan tanpa memandang status sosial maupun agama.
Untuk diketahui, Pemkab Malra telah menghantarkan Yelim kepada panitia pentahbisan dan peresmian gedung gereja Paroki Ohoijang tersebut pada 11 Mei 2021 lalu.
“Saya mencoba mengembalikan atau menghidupkan kembali apa yang dilakukan oleh pendahulu kita, khususnya bagi kami di lingkup pemerintahan,” tandasnya.


