Kisah Pilu Atlet Hapkido Maluku Hingga Meraih Lima Medali Di PON Papua

  • Whatsapp

Ambon, MalukuPost.com – Dibalik gemilang prestasi diraih atlet Maluku pada eksebisi Hapkido Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua XX, terdapat sebuah kisah piluh perjuangan 8 atlit, didampinggi dua pelatih dari bumi raja-raja ini, masing-masing Yanto Mansyur, Yohanis Pumaratu, Reinhard Koibur, Kelvin Kleven Lakuteru, Fitri Mansytu, Yulianus Batmomolin, Fredek Onaola, Ivon Silaya, Arilando Ohleky, Santri Madidi.

Walaupun bermodalkan nekat berangkat ke tanah Papua. tanpa dukungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku, lima dari delapan atlet yang bertanding di eksebisi Hapkido, mampu menunjukan tajinya dengan menorehkan lima medali, masing-masing satu medali perak ivon Silaya (kelas under 51 kg putri), empat medali perunggu diraih Arilando Ohleky (kelas under 54 kh putra), Yulianus Batmamolin (Kelas under 62 kg putra), dan Santri Madidi (Kelas under 59 Kg).

Capaian yang didapat oleh putra-putri kebanggaan Maluku langsung mendapat pujian baik dari masyarakat Maluku maupun masyarakat Maluku di perantauan tanah Papua. Namun banyak yang tidak tahu, keberhasilan yang dicapai ini tidak semudah membalik telapak tangan.

Feros Akollo Sohilait dalam cuitan akun Facebook-nya “Tetap Semangat Pattimura Pattimura Muda, wakupun kalian tiba di Jayapura untuk mengikuti PON 2021 di Cabor eksebisi Hapkido dengan semangat kalian sendiri, tanpa diperhatikan/ dibawa KONI Maluku tetapi kalian lah pahlawan Maluku dengan membawa pulang 5 medali pertama bagi Maluku. KONI Maluku kalian berdosa dan tidak punya hati untuk anak-anak ini, mereka mencari uang saku mereka dengan kerja selayaknya tukang bangunan dengan mengangkut pasir dan kerikil 9 ret untuk mereka punya uang saku, di Jayapura rela tinggal di kos-kosan. Tuhan Yesus terima kasih telah memberikan hasil yang luar biasa….amin,

Dikonfimasi melalui via telepon, senin (27/09/2021), Akollo yang mendampingi Atlit Hapkido sejak tiba sampai saat ini, merasa prihatin dengan perjuangan putra-putri dari negeri para raja-raja ini.

Pasalnya sebelum datang di Jayapura, ia ditelepone oleh temannya dari atlet Hapkido yang juga merupakan anggota TNI-AD, terkait jadwal kedatangan di tanggal 23 September lalu. Ia kaget ditelpon temannya saat tiba Bandara Sentani Jayapura, sembari menanyakan kos-kosan untuk tempat tinggal mereka.

Mendengar hal tersebut, Mantan Anggota TNI-AD ini kemudian menelpon Ketua Ikatan Keluarga Maluku (IKEMAL) Christian Sohilait terkait hal ini. Dari penjelasan Ketua IKEMAL berdasarkan hasil komunikasi dengan Ketua KONI Maluku, Hapkido ternyata tidak dibawah naungan KONI. Dari penjelasan itu, ia meminta ketua IKEMAL walaupun tidak dibawah naungan KONI, namun tetap harus diperhatikan karena mereka juga orang Maluku.

Dari hasil komunikasi tersebut, ia kemudian memberikan penjelasan kepada atlet maupun Pelatih Hapkido, yang sementara menunggu di Bandara sudah sehari tanpa mandi dan makan, kemudian dijawab bahwa KONI Maluku hanya memberikan Rp10 juta.

Karena tidak tega dengan kondsi atlet , Akollo yang bekerja sebagai security di Suni Garden Lake Hotel, Jayapura ini kemudian membawa atlit Hapkido untuk tinggal dirumahnya.

Dari hasil perbincangan, ternyata untuk datang ke Papua, selain bermodalkan Rp10 Juta dari KONI Maluku yang telah habis dipakai untuk membeli tiket, ternyata atlet harus terpaksa bekerja sampingan menjadi tukang bangunan untuk mengangkut pasir dan kerikil guna menambah uang saku.

“Saya bangga atas perjuangan putra-putri kita, untuk membeli tiket disamping Rp10 juta dari KONI Maluku, mereka rela skop pasir dan kerikil sembilan truck baik itu laki-laki maupun perempuan untuk dapatkan uang saku satu orang Rp500 ribu,”ucap Akollo sambil meneteskan air mata.

Menurutnya, perlakuan terhadap atlet Hapkido Maluku sangat berbeda jauh dengan provinsi lainnya, dimana mereka masuk dalam kontingen, namun di Maluku tidak, bahkan tidak ada perhatian dan pendampingan sedikitpun dari Pemda maupun KONI Maluku.

“Sebagai security di Suni Garden Lake Hotel tempat pelaksanaan Cabor Hapkido, saya sempat menanyakan ke provinsi lain, ternyata mereka termasuk dalam kontingen, sehingga semuanya difasilitasi oleh pemda mereka. Namun berbeda dengan jauh Maluku, tanpa sedikitpun perhatian dari Pemda. Seharusnya mereka masuk dalam kontingen walaupun eksebisi, sehingga mendapat pelayanan yang baik, seperti atlit-atlit PON lainnya,”bebernya.

Walupun perjalanan dari atlet Hapkido yang begitu ironis, dirinya mengaku bangga atas prestasi yang dicapai putra-putri dari negeri seribu pulau ini. Alhasil, kini atlet Hapkido Maluku disegani oleh atlit dari provinsi lain.

“Walaupun Dengan keterbatasan yang dimiliki, hanya makan roti gula sebelum bertanding. Namun prestasi yang telah dicapat adik-adik kita dari Maluku sudah sangat luar biasam,”cetusnya.

Untuk itu, sebagai pemerhati masyarakat Maluku diperantauan, Akollo berharap Pemprov dan KONI Maluku harus memberikan perhatian serius kepada atlet yang telah mengharumkan nama Maluku, jangan ditelantarkan begitu saja.

“Sekarang mendapat medali apa yang kalian berikan, bahkan ada atlit kita yang sampai patah tangan. Saya harap pemda Maluku tolong memperhatikan anak-anak beprestasi, jangan membunuh talenta yang dimiliki mereka,”pintanya.

Sebagai saksi perjalanan atlet Hapkido Maluku, Akollo menegaskan yang diperlukan atlit Hapkido Maluku, yaitu biaya kepulangan mereka ke Maluku. Kiranya hal ini mendapat perhatian serius dari Pemda dan KONI Maluku.

“Yang diinginkan atlet Hapkido saat ini uang tiket pulang ke Maluku. Namun dari hasil Penjelasan Ketua IKEMAL, mereka ditahan dulu sampai Wakil Gubernur, Barnabas Orno datang untuk ucapkan selamat,”tutupnya.

Pos terkait