Membawa Jebolan Sekolah GPM Ke Panggung Dunia

  • Whatsapp
Ketua Umum Yayasan Pembinaan Pendidikan Kristen (YPPK) Dr J.B. Sitanala Dr Sarlota Singerin M.Pd diwawancarai wartawan di tengah suasana Rapat Kerja, di Student Center FKIP Universitas Pattimura, Selasa (19/10)

Laporan Rudi Fofid-Ambon

Malukupost.com – Sejarah pendidikan formal di Nusantara bermula dari Tanah Maluku.  Sejarawan M. Adnan Amal menyebutkan,  Gubernur Portugis Antonio Galvao mendirikan seminari di Ternate tahun 1536.  Hampir seabad kemudian yakni tahun  1607, VOC mendirikan sekolah bagi kaum bumiputera di Ambon.

Menyusul itu, Pendeta Belanda Sebastian Danckaerts mendirikan pula sekolah guru agama di Ambon tahun 1620. Dua abad kemudian yakni tahun 1835, Guru Bernhard N. J. Roskott yang sering disebut sebagai Pendeta Roskott mendirikan Institut Pendidikan Guru Agama di Batumerah, Ambon.

Tonggak penting pendidikan formal era Portugis dan Belanda tersebut, tidak lantas hilang begitu saja.  Gereja Kristen Hindia Belanda (Indische Kerk) maupun Gereja Protestan Maluku (GPM) tercatat terus merawat tradisi  pendidikan formal dari masa ke masa.

Para pendeta, guru, dosen, birokrat, dan tokoh-tokoh Kristen di Maluku terus berkolaborasi membangun dunia pendidikan melalui sekolah-sekolah Kristen.   Salah satu upaya paling  legendaris di Maluku dan Maluku Utara adalah Yayasan Pembinaan Pendidikan Kristen (YPPK) Dr J.B. Sitanala.

YPPK Dr J.B. Sitanala kini berusia 44 tahun. Dalam usia tersebut, Pengurus Pusat   dengan 34 Pengurus Cabang YPPK Dr J.B. Sitanala mengelola 442 unit sekolah, dari taman kanak-kanak, SD, SMP, sampai SMA dan SMK.

Tidak gampang mengurus 442 lembaga pendidikan yang tersebar di pulau-pulau bahkan sampai ke kampung-kampung terpencil di Maluku dan Maluku Utara.  Berbagai persoalan pelik dihadapi yayasan dari masa ke masa, dari satu pengurus ke pengurus yang lain.

Kini, Pengurus Pusat YPPK Dr J.B. Sitanala dipimpin Ketua Umum Dr Sarlota Singerin M.Pd dan Sekretaris Umum Pendeta Andrew F. Paliama M.Pd.  Meskipun baru bertugas dua bulan, namun kepengurusan yang didominasi perempuan dan sosok-sosok muda Kristen sudah langsung tancap gas.  Seusai melakukan kunjungan kerja ke sejumlah mitra di Jakarta, 12-14 Oktober lalu, pengurus pusat langsung menggelar rapat kerja, Selasa (19/10).

Rapat Tahunan Pengurus Pusat YPPK Dr J. B. Sitanala digelar sehari penuh di Student Center FKIP Universitas Pattimura.  Rapat dibuka Ketua MPH Sinode GPM Pendeta Elifas Tomix Maspaitellla dan ditutup Anggota MPH Sinode GPM Pendeta Nancy Souisa.

Mengawali rapat, peserta lebih dulu mendalami tema dan sub tema dengan menghadirkan narasumber Wakil Sekretaris Umum MPH Sinode GPM Pendeta Rudy Rahabeat.  Rapat mengusung tema  “Britakan Tahun Rahmat Telah Datang dan Kerjakanlah Keselamatanmu”.  Sub tema rapat adalah “Wujudkan Paradigma Baru Pendidikan Kristen yang Handal demi Peningkatan Kualitas SDM di Maluku dan Maluku Utara”.

Rahabeat menyebutkan kiprah para pendeta dan guru injil dalam dunia pendidikan di Maluku sudah menyejarah, dan dapat disebut sebagai bagian dari rahmat.  Ia menekankan pentingnya kolaborasi dan sinergitas dari berbagai kalangan untuk mengembangkan rahmat Tuhan di dunia pendidikan.

“Dalam situasi ini, berpikir baru adalah sesuatu yang tidak terelakkan,”  kata Rahabeat.

Meskipun rapat berlangsung lancar, peserta dari 34 cabang se-Maluku dan Maluku Utara tetap melontarkan gagasan kritis.  Beragam persoalan yang melanda sekolah-sekolah YPPK Dr J.B. Sitanala menjadi sorotan, baik regulasi pemerintah, tenaga kependidikan, dana, sampai ke peningkatan mutu pendidikan.

Salah satu persoalan paling pelik adalah tenaga guru PNS di sekolah yayasan. Sekolah-sekolah di bawah naungan  YPPK Dr J.B. Sitanala masih didominasi guru-guru PNS.  Ketua Umum YPPK Dr J.B. Sitanala Sarlota Singerin menegaskan, yayasan terus berjuang untuk mencapai situasi “merdeka guru” yakni sekolah yang seluruh gurunya adalah pegawai organik yayasan.

“Dengan 722 Jemaat GPM, dengan asumsi satu jemaat menyumbang satu tenaga guru, maka persoalan tenaga guru mesti bisa kita selesaikan,” papar Singerin.

Selain mengelola potensi jemaat GPM, Singerin juga menyebutkan adanya rencana pembentukan ikatan alumni sekolah YPPK Dr J. B. Sitanala.  Para alumnus yang kini menjadi tokoh-tokoh nasional dan daerah diharapnya menjadi satu potensi lain untuk berkolaborasi memajukan pendidikan Kristen di Maluku dan Maluku Maluku Utara.

Saat menutup rapat, Pendeta Nancy Souisa menyatakan, peran gereja-gereja di Indonesia Timur dalam memajukan dunia pendidikan di tanah air sangat menonjol.  GMIM, GKI, Gemih, maupun GPM disebutnya punya kontribusi besar.

Sebab itu, ia berharap, Pengurus Pusat YPPK Dr J. B. Sitanala dapat bekerja secara maksimal sehingga yayasan maupun gereja dapat memberi kontribusi yang lebih besar pada level yang lebih tinggi.  Ia mengharapkan, sekolah Kristen di Maluku akan memberi kontribusi SDM yang berkiprah pada level global.

“Tekad kita sudah bulat untuk memajukan pendidikan.  Kita berharap, dengan semua upaya ini, anak-anak kita akan duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan siapapun di manapun di dunia, apalagi pendidikan global sudah jauh lintas batas agama dan negara,” papar Souisa. (Malukupost)

Pos terkait