Gadis Maluku Dien Tamaela di Tengah Revolusi, Melawan Dengan Tuts Piano

  • Whatsapp
Dien Tamaela (Foto Meutia Muskita, pewarnaan oleh Almascatie)

Laporan Rudi Fofid-Ambon

Malukupost.com – Tidak sia-sialah Dokter Lodwijk Tamaela dan Jacomina Pattiradjawane membeli sebuah piano untuk putri sulungnya Leonardine Hendriette Tamaela. Saat itu, sang gadis sedang berangkat remaja di Modjokerto, tahun 1933. Tiada yang menyangka, kemahirannya bermain piano kelak dikerahkan untuk membela orang Maluku dalam pusaran revolusi yang terkadang menelan anak kandungnya sendiri.

Gadis pemain piano itu populer dengan nama Dien Tamaela. Dia abadi dalam puisi “Cerita Buat Dien Tamaela”. Puisi itu ditulis kekasihnya, Chairil Anwar. Andai Dien hanya seorang puteri pejuang pendiri Jong Ambon Lodwijk Tamaela, dia tidak cukup penting untuk dikenang. Andai Dien hanya kekasih penyair tenar, dan namanya jadi judul puisi, itu pun tidak penting-penting amat untuk diingat. Dien Tamaela layak dikenang dan dihormati, justru oleh kehadirannya pada satu momentum yang pas yakni pasca Indonesia Merdeka.

Bagi orang Maluku yang bekerja sebagai tentara KNIL dan tetap loyal kepada Pemerintah Belanda, Proklamasi 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56 Jakarta oleh Soekarno-Hatta adalah sebuah kecelakaan sejarah. Sebaliknya bagi tokoh-tokoh Maluku yang ikut membangun nasionalisme Indonesia, proklamasi adalah buah perjuangan panjang yang melegakan.

Sebelum 17 Agustus 1945, informasi tentang rencana proklamasi kemerdekaan Indonesia sudah bocor di kalangan warga Batavia. Perlakuan kasar tentara KNIL kepada warga sipil selalu diingat warga. Peran tentara KNIL asal Maluku yang sangat menonjol dan tak terlupakan dalam memori banyak orang, telah menumbuhkan semacam semangat untuk balas dendam.

Perempuan-perempuan Maluku di Batavia juga sudah mendengar ancaman itu. Ketika berada di pasar atau melintas di keramaian, warga Batavia gampang mengenal wajah Maluku yang khas. Nada-nada sinis dan ancaman sudah dilontarkan warga secara terbuka.

Benar saja. Sehari setelah Indonesia merdeka, aksi balas dendam kepada tentara KNIL dan keluarganya mulai merebak. Hari-hari pasca kemerdekaan adalah hari-hari terburuk bagi warga Maluku di Batavia. Terlebih lagi, penduduk ibukota tidak kenal siapa orang Maluku yang nasionalis, dan siapa yang loyal kepada Pemerintah Belanda. Mereka menganggap semua orang Maluku adalah antek Belanda.

Sepanjang Agustus hingga September, teror kepada warga terus berlangsung. Ada kekerasan melalui kata-kata, namun serangan fisik secara langsung terjadi di mana-mana. Rumah warga Maluku dilempari batu, dan ada yang dibakar. Banyak warga Maluku terpaksa meninggalkan rumah mereka. J. D. de Fretes dalam buku “Kebenaran Melebihi Persahabatan” menggambarkan serangan kepada keluarga-keluarga Maluku secara lebih detail.

Euforia kebebasan pada diri warga Batavia menjadi malapetaka bagi warga Maluku. Hal ini membuat Gubernur Maluku J. Latuharhary frustrasi. Berbagai upaya sudah dilakukan namun gagal. Latuharhary kemudian memanggil para mahasiswa Maluku yang punya markas di Prapatan 10. Ia mencurahkan kegundahannya, dan meminta pendapat kaum muda.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan. Kita kalah massa, kita tidak punya senjata. Tidak mungkin melakukan perlawanan. Satu-satunya yang kita punya adalah kesenian. Kita bisa andalkan itu,” kata mahasiswa kedokteran Butje Tahalele.

Butje Tahalele, Dee Tamaela, Frans Pattiasina, Alex Hukom dan eksponen mahasiswa Maluku lainnya membuat negosiasi dengan Gubernur Latuharhary. Hasilnya para mahasiswa boleh bernyanyi di studio radio Jakarta. Maka tampillah mereka sekali sepekan di bekas studio milik Jepang yang kemudian diambil alih menjadi studio Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta.

“Butje Tahalele bikin komposisi musik, beta dan kawan-kawan mahasiswa menjadi penyanyi, sedangkan Dien menjadi pemain piano mengiring kami,” cerita Dee Tamaela, adik kandung Dien Tamaela.

Dee Tamaela kelak dikenal sebagai perempuan pertama asal Maluku yang berprofesi dokter, aktivis perempuan yang pertama kali menjadi Ketua Umum PB GMKI, dan pelopor radiologi anak di Indonesia.

Dien tidak kuliah, hanya sempat jadi pegawai administrasi di kantor pemerintah Jepang. Sebab itu, Dien tidak punya karya besar seperti adiknya. Akan tetapi, jemari tangan Dien Tamaela menekan tuts-tuts piano mengiring puteri-puteri Maluku menyanyikan lagu Maluku dan lagu perjuangan, telah membuka mata publik Jakarta.

“Selain bernyanyi, kami memang memperkenalkan diri. Kami adalah mahasiswa Maluku di Jakarta. Terimalah persembahan lagu-lagu Maluku dan lagu-lagu perjuangan. Sekali merdeka, tetap merdeka,” ungkap Dee.

Beberapa minggu melantunkan lagu-lagu dalam irama Maluku di Radio Jakarta, akhirnya serangan kepada orang Maluku berkurang bahkan hilang sama sekali.

“Warga Jakarta semakin paham dan bisa membedakan orang Maluku pendukung kemerdekaan, yang berbeda dengan saudara-saudara kita yang tetap di KNIL,” papar Dee, dalam sebuah wawancara dengan saya di Jakarta, beberapa tahun sebelum tutup usia.

Dien lahir di Palembang, 27 Desember 1923. Ia tutup usia di Jakarta, 8 Agustus 1948 dan dimakamkan di Petamburan. Kini, sosok Dokter Lodwijk Tamaela, Jacomina Pattiradjawane, dan kedua puteri mereka Dien Tamaela dan Dee Tamaela sudah disatukan di dalam satu makam di Tanah Kusir. Keluarga heroik ini tidak mempunyai keturunan gadis lurus, sebab Dee maupun Dien memilih hidup membujang sepanjang usia!

(Sumber: Rudi Fofid, Beta Pattiradjawane, Kisah Keluarga Tamaela Nan Heroik, Kantor Bahasa Maluku, 2018)

Pos terkait