Panah Ikan “Kurkurat” Secara Tradisional Bukti Terpeliharanya Kearifan Lokal Ohoi Kolser

Langgur, MalukuPost.com – Setiap ohoi (desa) di Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) memiliki kekayaan dan keunikan tersendiri. Baik itu sumber daya alam di laut maupun darat. Salah satunya yakni di ohoi Kolser, Kecamatan Kei Kecil.

Menyemarakan Festival Pesona Meti Kei (FPMK) 2022, pemerintah dan warga ohoi setempat melaksanakan kegiatan lomba panah ikan secara tradisional, Selasa (25/10/2022).

Salah satu jenis ikan yang menjadi kebanggaan sekaligus pusaka bagi warga ohoi setempat yakni kurkurat.

Kurkurat (ikan pusaka Ohoi Kolser)

Lomba panah ikan dengan khas tradisional ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal warga ooi Kolser sejak para leluhur hingga kini masih terpelihara dengan baik.

Bupati Malra M. Thaher Hanubun didampingi ibu Eva Eliya Hanubun juga tidak ingin ketinggalan momen yang langka ini, dimana mereka berdua pun turut ambil bagian dalam lomba dimaksud.

Bukan hanya warga/wisatwan lokal yang menumpuk di sepanjang pantai ohoi Kolser, namun hadir pula wisatawan manca negara disana.

Seperti halnya peserta lomba yang lain, para wisatawan manca negara ini juga dilengkapi dengan alat memanah ikan seperti panah-panah dan serampang (tombak/kalawai)

Kepada awak media disela-sela lomba, ketua panitia lomba Hani J. G. Reyaan mengungkapkan, kegiatan tersebut dilaksanakan untuk melestarikan budaya kearifan lokal ohoi Kolser.

Selain itu, tambah Hani, kegiatan ini juga untuk memperkenalkan kepada banyak orang bahwa lomba panah kurkurat ini bisa dijadikan atraksi wisata untuk menunjang dan mendukung pariwisata di Kepulauan Kei, khususnya di Malra.

Untuk diketahui, panah kurkurat adalah tradisi yang dilakukan oleh para pria ohoi Kolser (yang dikenal dengan sebutan Mebut Elkel dan perempuan disebut Dit El Kaneuw. Mereka mencari ikan kurkurat disaat surutnya air laut.

Untuk ukuran ikan kurkurat sendiri mencapai 10-12 cm (ikan dewasa). Memiliki ciri mata yang menonjol, dan banyak ditemukan di bagian barat pantai ohoi Kolser.

Sejak zaman leluhur yang mendiami ohoi Kolser, ikan kurkurat ditangkap dengan cara tradisional yakni menggunakan bambu sebagai busur dan tulang daun sagu sebagai runcingnya.

Saat ini, warga ohoi Kolser telah memodifikasi alat tersebut yakni sepotong bambu dan tali sebagai busur dan seutas senar sebagai busur, dilengkapi dengan potonga bambu yang diikat dengan kawat pada bagian ujungnya.

Sebelum lomba digelar, terdengar yel-yel sebagai penyemangat bagi peserta lomba yakni Koyama, Kolser Yang Manis. Kurkurat, am mam vu’ut pusak (kurkurat, ikan pusaka kami). MTH, Maluku Tenggara Hebat. FPMK sukses.

Pos terkait