Ambon, Malukupost.com : Gubernur Maluku Said Assagaff minta para petani tidak monokultur pada pengembangan tanaman cengkeh dan pala tetapi sebaiknya melakukan diversifikasi tanaman.
“Harga cengkeh dan pala di pasaran sekarang ini anjlok dan berada di level Rp60.000 hingga Rp70.000 per kilogram tentunya berpengaruh terhadap pendapatan petani,” kata Said Assagaff di Ambon, Rabu (19/8).
Sehingga petani sebaiknya tidak terlalu bergantung pada kedua komoditi tersebut dan perlu memanfaatkan lahannya untuk melakukan diversifikasi tanaman.
Diversifikasi ini bisa dilakukan petani dengan menanam kopi, vanili atau coklat, sehingga bisa mengantisipasi anjloknya harga cengkeh dan pala.
“Kalau dahulu kita bisa kendalikan harga komoditas tersebut termasuk bahan pokok, bahkan dolar AS pun bisa dikendalikan, tetapi sekarang era pasar bebas dan sangat terbuka sehingga kita tidak bisa menekan orang,” ucap Said Assagaff.
Pemprov Maluku juga pernah membantu para petani dengan cara mengumpulkan hasil pertanian maupun perikanan lewat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan mencari pasaran di luar Maluku untuk menjualnya.
“Kita pernah coba BUMD seperti Bank Maluku membeli ikan dari nelayan dan menjual ke Surabaya (Jatim), tetapi resikonya sangat besar dimana begitu harga tiba-tiba anjlok yang disalahkan siapa,” ujarnya.
Sehingga diperlukan prinsip kehati-hatian, meski ide seperti itu sangatlah bagus dalam membantu para petani maupun nelayan.
Pemprov juga membeli komoditi cengkih lalu diatur dengan perusahaan rokok di Surabaya untuk mengambil cengkeh petani dan sementara waktu dititipkan di Perusahaan Daerah Panca Karya untuk dijual tetapi akhirnya dirasakan kurang efektif juga. (ant/mp)


