Ambon, Maluku Post.com – Gubernur Maluku Said Assagaff bersama pimpinan TNI/Polri dan tokoh agama memukul beduk raksasa menandai pelaksanaan gema takbir menyambut 1 Syawal 1437 Hijriah di Kota Ambon dan Maluku, Selasa (5/7) malam.
Pemukulan beduk raksasa yang dipusatkan di kawasan perempatan ruas Jalan Masjid Alfatah tersebut dilakukan Gubernur Said secara bersama-sama Wagub Zeth Sahuburua, Ketua DPRD Maluku, Edwin Huwae, Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Donny Munardo, Kapolda Maluku Brigjen Ilham Salahudin, Danlanud Pattimura Kol (Pnb) Aldrin Mongan, serta Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy dan Wakil Wali Kota Sam Latuconsina.
Selain itu, sejumlah pemuka agama lain juga terlibat memukul beduk bersama Gubernur yakni Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) Ates Werinussa, Ketua Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) John Ruhulessin, Ketua Parisada Hindu Dharma I Nyoman Sukadana, Ketua Walubi Wilhelmus Jawerissa, Ketua MUI Idrus Toekan, dan Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Maluku, Abidin Wakano.
Gubernur Said menyatakan bergembira dan berbahagia dengan keterlibatan para tokoh agama untuk membuka gema takbir menyambut hari kemenangan sekaligus menandai perayaan Idulfitri 1437 Hijriah.
“Saya merasa sangat bergembira dan berbahagia karena seluruh tokoh lintas agama hadir untuk bersama-sama merayakan hari kemenangan umat Muslim di seluruh dunia, terutama di Maluku setelah melaksanakan puasa selama sebulan,” katanya lagi.
Said juga menyambut secara positif keputusan PHBI Maluku yang meniadakan pawai dan konvoi kendaraan bermotor di berbagai ruas jalan di kota Ambon, dengan memusatkan perayaan malam takbiran pada setiap lingkungan masing-masing.
“Saya mendukung keputusan PHBI Maluku menggelar malam takbiran berbasis masjid dalam dua tahun terakhir. Hal ini untuk menjaga nilai siar, suasana keteduhan dan ketenangan, kebeningan dan kekhusyukan jiwa umat dalam mengungkapkan rasa syukur melalui takbir, tahmit, tasbih dan tahlil di malam takbiran,” katanya.
Dia mengakui, perayaan malam takbiran di Indonesia saat ini sangat variatif dan animo umat Islam untuk berpartisipasi semakin berkembang, dengan rata-rata dirayakan dengan konvoi kendaraan bermotor serta berbagai dekorasi bernilai seni budaya Islam di nusantara yang sangat beragam.
Begitu pun cara mengumandangkan takbir juga semakin dinamis, tidak hanya irama dan ragunya, tetapi juga alat musik yang digunakan mulai dari tradisional seperti beduk dan tifa hingga alat musik moderen.
Kendati alat musik terus berkembang dan semakin moderen, tetapi tradisi menyambut Idulfitri di Tanah Air, termasuk di Maluku masih menggunakan beduk sebagai ikon takbiran.
Ekspresi gembira menyambut Idulfitri juga semakin semarak, bahkan dirayakan hingga dusun terpencil dan jauh dari keramaian.
Gubernur mengajak seluruh umat Muslim di Maluku untuk merayakan malam takbiran dengan penuh kesyahduan tanpa diwarnai aksi balapan liar dan mabuk-mabukan serta tanpa petasan, karena sangat merusak kesucian malam perayaan kemenangan tersebut.
“Takbiran dengan balapan liar dan mabuk-mabukan sama arinya dengan ‘bertakaburan’. Makna sejati malam takbiran adalah membesarkan asma Allah SAW sambil merendah diri di hadapanNya melalui takbir, tahmit, tasbih dan tahlil,” katanya.
Semeriah apapun keramaian malam takbiran, kata Gubernur, tujuannya hanya untuk mengekspresikan kegembiraan menyambut hari kemenangan dengan harapan dapat menjadi pemenang sejati yaitu kembali kepada kemanusiaan sejati.
Dia berharap perayaan malam takbiran di Ambon dan Maluku pada umumnya dapat berjalan lancar, aman dan lancar dengan mendapat dukungan penuh seluruh umat beragama guna mewujudkan Maluku sebagai laboratorium kerukunan umat beragama di Indonesia bahkan di dunia. (MP-4)


