Mengenang 68 Tahun Dewesy Di Negeri Mamala

  • Whatsapp
Dominggus William Syaranamual alias Dewesy (Dok MI)

Oleh: J. Lisapaly

PENGANTAR
Kliping tulisan sastrawan J. Lisapaly di Mimbar Indonesia (kliping tanpa tahun)
ini tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Yassin Jakarta.  Pegiat literasi Adlun Fiqri membuat fotokopi,
walau beberapa paragraf tidak utuh. 
Redaksi membuat kembali dengan ejaan baru dan penyuntingan kecil, dari Judul
asli Sijaranamual, Pengembara Jang Tewas.  Tulisan ini dimuat sebagai peringatan 68 tahun
“Pelarian Terakhir” Dominggus Willem Syaranamual ke Negeri Mamala, dan hari
pemakamannya 22 November 1951.

Sewaktu pada suatu tempat dari Nusantara kita, orang
digemparkan oleh suara yang tiba-tiba saja sebagai suatu proklamasi dalam
kesusastraan, maka di bagian timur, di Pulau-Pulau Maluku, muncul beberapa
tahun sesudah itu, tunas-tunas muda yang memberikan harapan.

Jika membicarakan kebudayaan baru Indonesia, maka pikiran
kita sekalian bertumpu pada orang Chairil Anwar sebagai pelopor Angkatan 45,
yang kian hari ramai diperdebat sebagai tamparan yang hebat bagi Pujangga Baru,
yang terlalu mementingkan “keindahan dengan segala bunga kata, royal dengan beeldspraak
dan dengan mengemukakan segala yang puitis” (kata Arsul Sani), seakan-akan
hidup di sorga kita sekalian ini di antara dewa dan bidadari, dengan tidak melihat
masalah-masalah yang terjadi di sekeliling kita.

Dan di dalam menerjang segala yang using itu, maka Chairil
Anwar adalah manusia utama, yang kemudian member satu patokan yang hidup untuk
pembentukan manusia baru Indonesia. 
Sayang sekali dia telah meninggalkan kawan-kawannya dalam usia muda,
sehingga bentuk yang kuat ini, juga turut kita rasakan lenyap bersama-sama
dengan dia pula.

Berbarengan dengan ini, muncullah orang-orang yang bukan di
Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi saja timbulnya, pengikut-pengikut yang
membonceng pada teriakan Chairil Anwar yang mengutamakan bentuk dan visi, juga
sampai ke Maluku, dengan Syaranamual, Chris Latuputty, dan lain-lain lagi.

Mereka baru saja mulai. 
Kita sangat bergembira karena biarpun mereka dating dari berbagai-bagai
daerah, tetapi suara yang diperdengarkan adalah nyanyi kesatuan dan
kemerdekaan, justru pada masanya kita masih terlibat dalam rantai
penjajahan.   Mereka dengan ini telah
berhasil memberi bentuk yang nyata pada api revolusi nasional kita
selanjutnya.  Tepat sekali ……. (paragraf hilang-redaksi)    teguh
bentuk sajak sebagai syarat mutlak. 
Berkali-kali mereka memperingatkan agar bentuk sebagai yang dimiliki
Angkatan 45  serta kebesaran nilainya
jangan dipersoalkan karena yang diperlukan ialah keindahan semata.  Dalam hal ini timbul perdebatan secara lisan
di antaranya dengan mereka wakil-wakil penyair angkatan 33.

Ada sekali aku tanyakan 
kepadanya: Berhasilkah nanti saudara memberikan keinsyafan   untuk
kembali ke pokok persoalan yang sebenarnya?” Dia tertawa.  “Suatu kesalahan pada kita,” katanya, “ialah
selalu berputus asa dalam menghadapi setiap kesulitan, padahal kalau dipikir,
sejauh-jauhnya kita menempuh suatu pengalaman yang serba pahit, membuka
kemungkinan besar untuk memperoleh kemenangan”.

Dia seorang yang keras hati dan syarat inilah yang dia
gunakan untuk rintisan pertama untuk menghancurluluhkan bentuk
kolonialisme.  Gelanggangnya sewaktu ia
mulai ialah “Suluh Ambon”, dari dari sinilah gema rintihan jiwanya berkumandang
dengan memakai nama samara Dowisy.

Di belakang sajak-sajaknya, Nampak dalam majalah Mimbar
Indonesia.….   (paragraf hilang, redaksi).
Ia lahir pada 9 Mei 1926 di Desa Itawaka (Saparua).   Sejak kecilnya sampai masuk pendidikan guru
di zaman Jepang, aku bekenalan baik dengan dia. Barulah pada waktu itu
kegemarannya dalam karang-mengarang member kesempatan luas untuk lebih memperdalam
dan mencari bentuk sendiri.

Setelah Jepang menyerah, mengikuti kursus V. O. di Saparua
tetapi kemudian mengadakan pemogokan bersama-sama kawan-kawannya.  Setahun lamanya dia menetap di desa bersama
ibu angkatnya, dan pada tahun 1947 bulan Maret, bekerja pada Kantor Cabang
Kementerian Penerangan NIT di Ambon bagian perencanaan. Tahun 1949 pernah
mengikuti kursus kader penerangan yang diadakan di Makassar,  dan lulus dengan angka yang baik.  Sejak itu maka bakatnya untuk
karang-mengarang semakin dipergiat.

Sewaktu menjelmanya apa yang dinamakan RMS, dia menjadi
bulan-bulanan dan pusat perhatian MID dan waktu pendaratan APRI di Kota Ambon tanggal
3 November 1951, dia selalu dikejar karena disangka “merah” (satu istilah pada
orang pro RI). Karena merasa diri terancam, 
pada suatu malam melarikan diri ke daerah pendudukan dan terus ke Mamala
(sebuah desa di utara Jazirah Hitu).

Beberapa hari di sana, tiba-tiba sakit perut dan meninggal
pada tanggal 19 November 1951 jam 4.30 petang, jauh dari orang tua, sonder pamitan
sama kawan-kawannya. Selama hidupnya dia mencipta.  Dalam zaman kekacauan,  barulah selesai naskah bukunya yang pertama: “Ibu
Angkat”.  NAskah buku ini katanya akan
dikirim nanti bersama kumpulan sajaknya bersama kawan-kawannya yang diberi
nama: “Gema Pulau Sagu” ke salah satu percetakan untuk diterbitkan kalau
keadaan telah beres lagi.

Tetapi usaha sekian banyak itu tidak luput dari zaman
persamarataan menjadi umpan api bersama-sama kediamannya.  Waktu melarikan diri, ada juga dia bersajak,
sajak mana…….. (Paragraf hilang, redaksi).

Dengan kata-kata ini, 
dia meninggalkan satu perjalanan yang ruwet dan belum selesai, pergi,
dan tidak kembali lagi. Kelakarnya serta tutur kata yang bersungguh-sungguh
(ernstig), selalu menarik simpati, hilang untuk selama-lamanya.

Angkatan muda di Maluku merasa suatu kekurangan yang
besar,  penuh tenaga konstruktif, dan
kreatif.  Semoga dilapangkan Allah,
arwahnya.  Semoga pula jejaknya ini akan
dituruti oleh yang lain-lain untuk memberi bentuk yang kuat dalam perkembangan
kesusastraan Indonesia seterusnya. (Sumber: Mimbar
Indonesia/PDS HB Yassin
)

Pos terkait