Jubelium Emas AMGPM Ranting Gibatha: 50 Tahun Berakar, Bertumbuh, Berbuah dan Menjadi Terang

AMBON, Malukupost.com – Lima puluh tahun bukan sekadar perjalanan waktu. Bagi AMGPM Ranting Gibatha, Cabang Rehoboth 1, setengah abad menjadi perjalanan iman yang dipenuhi doa, pergumulan, pelayanan, perjuangan dan sukacita yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Memasuki usia emas tersebut, AMGPM Ranting Gibatha menggelar perayaan syukur Jubelium Emas 50 tahun di Serbaguna Imanuel, Batu Gantong Goga, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, Kamis (13/8/2026).

Ranting Gibatha tepat berusia 50 tahun pada 8 Agustus 2026. Namun, perayaan syukur baru dilaksanakan pada 13 Agustus karena resepsi yang sebelumnya direncanakan pada puncak perayaan 8 Agustus mengalami penundaan akibat kendala teknis.

Perayaan berlangsung dalam suasana penuh sukacita. Penyambutan tamu undangan diawali dengan tarian Cakalele yang diiringi bunyi Tahuri dan tifa, kemudian dilanjutkan dengan pembakaran obor sebagai simbol semangat pelayanan yang terus menyala.

Rangkaian sukacita kemudian diisi dengan puji-pujian dan tari-tarian yang menambah semangat seluruh peserta perayaan.

Jubelium Emas tersebut mengusung tema “Warisan yang Bertumbuh dari Akar yang Kuat, Berbuah di Atas Bukit dan Menerangi”. Tema ini menjadi benang merah perayaan sekaligus refleksi bagi seluruh potensi AMGPM Ranting Gibatha untuk melihat kembali warisan pelayanan yang telah diterima dan bagaimana warisan tersebut diteruskan kepada generasi mendatang.

BERAKAR DI BATU KARANG

Firman Tuhan dari Matius 5:16 menjadi dasar dalam perayaan tersebut. Dalam refleksinya, Pdt. Thos Ruhulesin mengajak AMGPM Ranting Gibatha untuk terus berdiri kokoh dan menjadi terang bagi semua orang.

Menurutnya, perjalanan 50 tahun harus menjadi kesempatan untuk mempertanyakan kembali warisan apa yang harus dipegang, dikembangkan dan dijaga agar api pelayanan Ranting Gibatha tetap menyala.

Ia menggambarkan perjalanan organisasi seperti kehidupan yang terus berputar. Tidak selamanya seseorang berada di atas dan tidak selamanya pula berada di bawah. Karena itu, setiap generasi memiliki masanya dan setiap masa memiliki orang-orang yang dipakai Tuhan untuk meneruskan pelayanan.

“Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya,” demikian pesan yang disampaikannya.

Menurut Ruhulesin, Ranting Gibatha memiliki berbagai potensi yang menjadi warisan dari generasi ke generasi. Potensi tersebut harus terus dikembangkan dan diberdayakan sehingga ketika AMGPM Ranting Gibatha menapaki usia berikutnya, ada sesuatu yang dapat digenggam dan dibanggakan sebagai hasil perjalanan pelayanan.

Ia mengingatkan bahwa perjalanan menuju masa depan harus terus dilakukan dengan keyakinan bahwa Tuhan sebagai kepala organisasi senantiasa menyertai seluruh pelayanan.

SETENGAH ABAD DOA DAN PENGABDIAN

Sementara itu, Pimpinan AMGPM Daerah Pulau Ambon, Mey Hehuat, mengatakan usia 50 tahun merupakan titik istimewa dalam perjalanan panjang AMGPM Ranting Gibatha.

“50 tahun bukan waktu yang singkat. Ia adalah setengah abad doa, sukacita yang dirajut oleh tangan kader AMGPM dari generasi ke generasi sejak 8 Agustus 1976,” ujarnya dalam refleksi Jubelium Emas.

Menurut Hehuat, emas melambangkan kemurnian. Gambaran itu dinilai tepat untuk menggambarkan perjalanan AMGPM Ranting Gibatha yang telah melewati berbagai proses dan pergumulan, namun tetap mampu bercahaya.

Memasuki usia 50 tahun, tema Jubelium Emas menjadi panggilan agar AMGPM terus menjadi organisasi yang berakar pada Injil dan berbuah bagi dunia.

Ia menilai tema “Warisan yang Bertumbuh dari Akar yang Kuat, Berbuah di Atas Bukit dan Menerangi” merupakan bagian dari pengenalan terhadap visi dan misi AMGPM, baik pada tingkat daerah, cabang maupun ranting.

Karena itu, Hehuat mengajak seluruh kader untuk menyadari pentingnya spiritualitas yang berakar pada Injil. Pengalaman iman, kata dia, harus melahirkan karakter dan integritas dalam kehidupan kader.

Kehadiran AMGPM juga harus menghasilkan buah yang dapat dirasakan gereja dan masyarakat. Pelayanan tidak boleh hanya berada dalam batas-batas gereja, tetapi harus mampu menjangkau persoalan sosial, ekonomi dan kehidupan masyarakat.

Ia juga mengajak AMGPM Ranting Gibatha membentuk kader yang kritis dan mampu menjawab tantangan zaman, termasuk perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), transformasi digital, persoalan ekonomi, sosial dan budaya.

Kader AMGPM, lanjutnya, dituntut mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar iman dan nilai pelayanan.

Karena itu, perayaan 50 tahun tidak boleh hanya menjadi perayaan masa lalu. Jubelium Emas harus menjadi momentum memperbarui komitmen agar organisasi terus menjadi akar yang kuat, berbuah bagi dunia dan menjalankan visi serta misi AMGPM.

“Tugas dan tanggung jawab kita masih panjang ke depan. Mari menatap pelayanan ini. Tuhan Yesus akan menolong dan menyertai seluruh pelayanan kita di AMGPM,” katanya.

Ia kemudian mengingatkan kembali motto AMGPM, “Kamu adalah Garam dan Terang Dunia.”

GIBATHA DAN TANTANGAN DI ATAS BATU KARANG

Pesan untuk tetap kuat juga disampaikan Pengurus Cabang Rehoboth 1, Veno Siwabessy.

Ia mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yesus karena AMGPM Ranting Gibatha telah melewati perjalanan 50 tahun dengan segala lika-liku dan dinamika pelayanan.

Menurutnya, nama “Gibatha” yang dimaknai sebagai kota di atas batu karang mengandung pesan tersendiri bagi perjalanan organisasi.

“Kota di atas batu karang harus punya akar yang sangat kuat dan terus berbuah, karena berada di atas batu karang. Itu menjadi tantangan setiap waktu bagi roda pelayanan Ranting Gibatha ke depan,” katanya.

Ia mengatakan setiap generasi memiliki siklus dan tantangannya masing-masing. Karena itu, semangat untuk menjadi garam dan terang dunia harus tetap dijaga karena pekerjaan pelayanan merupakan pekerjaan Tuhan.

Siwabessy berharap perayaan 50 tahun tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk membentuk manusia Gibatha yang semakin matang dan menjadikan Jubelium Emas sebagai motivasi untuk memaknai pribadi maupun persekutuan dengan lebih baik.

“Biarlah apa yang disyukuri itu bukan menjadi perayaan semata,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh potensi Ranting Gibatha untuk terus berakar kuat, sebab angin yang kuat tidak akan mampu merobohkan sesuatu yang memiliki akar kokoh.

WARISAN TIDAK BOLEH BERHENTI

Pimpinan PHMJ Rehoboth, Pdt. Rita Tuhumena/T, menyoroti kata “warisan” dalam tema Jubelium Emas.

Menurutnya, warisan adalah sesuatu yang diturunkan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Karena itu, warisan tidak boleh berhenti atau mentok pada satu generasi, tetapi harus terus berakar dan bertumbuh.

Ia menilai keberanian Ranting Gibatha mengusung kata “warisan” menunjukkan adanya komitmen untuk meneruskan sekaligus bertanggung jawab terhadap potensi dan nilai-nilai yang telah diturunkan oleh generasi sebelumnya.

Warisan tersebut harus terus diingat, dikembangkan dan dijaga agar tidak menjadi akar yang rapuh.

“Kalau akar kuat, badai tidak akan rubuh, karena tertancap kuat,” katanya.

Menurut Tuhumena, prinsip tersebut dibutuhkan untuk membangun gereja, masyarakat, bangsa dan negara. Karena itu, para kader AMGPM memiliki tanggung jawab besar yang berada di pundak mereka, terutama dalam hal keteladanan.

Ia mengajak kader yang belum mampu menjadi teladan untuk menjadikan hal tersebut sebagai bahan refleksi dan terus membenahi diri.

Ia kemudian menyoroti bagian lain dari tema, yakni “berbuah di atas bukit dan menerangi.”

Menurutnya, berada di atas bukit tidak boleh melahirkan kesombongan karena merasa sudah berada di puncak, ataupun sikap masa bodoh terhadap mereka yang berada di bawah.

Sebaliknya, keberadaan di atas bukit harus menghasilkan terang. “Kalau bukit terang maka di bawah juga terang,” katanya.

Karena itu, memasuki usia 50 tahun, seluruh potensi AMGPM Ranting Gibatha harus sepakat bahwa warisan yang telah diterima terus ditingkatkan menjadi kekuatan untuk bertumbuh.

Ia kembali mengingatkan tema AMGPM, “Kamu adalah Garam dan Terang Dunia.”

PERBEDAAN MENJADI KEKUATAN
Sementara itu, Ketua Bakopel Sektor Imanuel, Penatua Ina Key, mengatakan perayaan HUT ke-50 tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang biasa.

Usia emas, menurutnya, merupakan sesuatu yang luar biasa karena menjadi kesaksian atas penyertaan Tuhan dalam perjalanan AMGPM Ranting Gibatha.

Ia mengakui dalam sebuah organisasi pasti terdapat perbedaan pendapat. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya menciptakan jarak atau kesenjangan.

Sebaliknya, perbedaan harus menjadi kekuatan yang mempersatukan dan memperkuat organisasi untuk terus bergerak maju.

Ia mengajak seluruh potensi Ranting Gibatha, khususnya para pengurus, untuk terus belajar merefleksikan diri, saling bergandengan tangan dan setia melaksanakan tugas serta tanggung jawab pelayanan.

Dengan kebersamaan seluruh potensi, setiap tugas pelayanan diharapkan dapat dikerjakan dengan baik.

Di usia emas tersebut, ia berharap semangat pelayanan terus dijaga dan seluruh potensi AMGPM Ranting Gibatha tetap berpacu dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab masing-masing.

“KOBARKAN” API INJIL
Pembina Ranting Gibatha, Yop Pattipelohy, menyebut Jubelium Emas sebagai momentum bersejarah.

Menurutnya, usia 50 tahun bukanlah perjalanan singkat. Setengah abad merupakan perjalanan panjang yang penuh cerita, tantangan, perjuangan sekaligus kebahagiaan.

Jubelium Emas, katanya, bukan hanya tentang bertambahnya usia organisasi, tetapi menjadi momentum untuk bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas bimbingan dan penyertaan-Nya.

Ia juga mengapresiasi dedikasi setiap orang yang telah meletakkan dasar yang kuat bagi AMGPM Ranting Gibatha.

Momentum tersebut sekaligus menjadi bagian dari evaluasi. Perjalanan masa sulit yang telah dilewati bersama perlu dikenang untuk menjadi pembelajaran, kemudian dilanjutkan dengan memperbarui komitmen dan menatap masa depan dengan semangat baru.

Warisan kebaikan yang telah dibangun, lanjutnya, harus terus dilanjutkan.

Dalam momentum tersebut, Pattipelohy mengajak seluruh potensi Ranting Gibatha memegang satu kata penting, yakni “Kobarkan” api Injil dan semangat jiwa bersama sebagai bentuk komitmen dan doa.

Ia mengajak seluruh potensi menjadikan Jubelium Emas sebagai jembatan menuju masa depan pelayanan yang lebih baik.

“RUMAH ALE DENG BETA”
Ketua Ranting Gibatha, Juan Pays, mengatakan usia 50 tahun bukanlah usia muda. Banyak lika-liku telah dilewati hingga akhirnya Ranting Gibatha mencapai usia emas.

Menurutnya, perjalanan panjang tersebut penuh tantangan, tetapi juga dipenuhi berkat dan sukacita.

Ia menegaskan bahwa keberadaan Ranting Gibatha bukan karena kuatnya seseorang atau sekelompok orang, melainkan karena cinta kasih Tuhan Yesus yang tidak pernah kurang bagi ranting tersebut.

Karena itu, usia emas harus menjadi cermin besar bagi seluruh anggota untuk berani melihat kondisi rumah pelayanan bersama.

Ia mengingatkan adanya “kerikil-kerikil” kecil yang jika dibiarkan dapat membuat rumah bersama menjadi rapuh. Salah satunya adalah munculnya rasa tidak peduli terhadap pelayanan.

Dalam bahasa kebersamaan, ia mengingatkan agar jangan sampai pelayanan berjalan dengan prinsip “katong laeng lia laeng”, saling melihat tetapi tidak saling menopang, bahkan muncul sikap saling berhadapan yang pada akhirnya dapat membuat ranting menjadi rapuh.

“Rumah ini tidak bisa berdiri kalau katong berjalan sendiri,” tegasnya.

Menurut Pays, Jubelium Emas bukan momentum seremonial, tetapi kesempatan untuk bercermin dan melihat kembali bagaimana perjalanan Ranting Gibatha dikerjakan serta bagaimana generasi muda dapat terus diberdayakan.

Karena itu, seluruh potensi ranting diajak menjadikan momentum 50 tahun sebagai kesempatan meningkatkan solidaritas, kreativitas dan langkah-langkah baik bagi masa depan pelayanan.

Ia mengajak seluruh pengurus untuk terus saling menopang dan menaruh cinta yang murni terhadap Ranting Gibatha.

“Besar harapan beta, rumah ini besar karena katong dan bangun cinta yang tulus. Banyak kepala, satu tujuan par biking rumah ini lebih baik,” ujarnya.

Ia juga mendorong kerja sama, pertukaran ide dan kesediaan untuk saling mengurangi perbedaan.

Menurutnya, perubahan tidak akan datang dari orang lain, tetapi harus dimulai dari diri sendiri.

Karena itu, usia 50 tahun harus menjadi momentum untuk “baku kele” dalam setiap perbedaan, membangun cinta yang tulus dan menjadikan Ranting Gibatha sebagai rumah tempat semua orang dapat bertumbuh bersama.

Ia kembali mengingatkan agar AMGPM Ranting Gibatha tetap menjadi kota yang indah di atas batu karang dan menjalankan motto AMGPM, “Kamu adalah Garam dan Terang Dunia.”

PERJALANAN MENUJU JUBELIUM EMAS
Ketua Panitia, Petra Baljanan, mengatakan setengah abad bukanlah perjalanan yang singkat. Selama 50 tahun, AMGPM Ranting Gibatha terus bertumbuh dengan panggilan untuk menjadi garam dan terang dunia.

Rangkaian kegiatan Jubelium Emas telah dimulai melalui pencanangan pada 8 Juli 2026, kemudian dilanjutkan dengan sejumlah perlombaan pada 8-9 Juli.

Puncak kegiatan awalnya dijadwalkan berlangsung pada 8 Agustus 2026, bertepatan dengan usia 50 tahun AMGPM Ranting Gibatha.

Namun karena sejumlah kendala, resepsi perayaan mengalami penundaan dan akhirnya dilaksanakan pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Perayaan syukur tersebut menjadi penanda penting perjalanan setengah abad AMGPM Ranting Gibatha.

Lima puluh tahun telah menjadi warisan. Kini warisan itu berada di tangan generasi hari ini untuk dijaga, dikembangkan dan diteruskan. Sebab akar yang kuat akan membuat pohon tetap berdiri ketika badai datang. Dan ketika berada di atas bukit, panggilan utamanya bukan untuk meninggi, melainkan menerangi.

Dari Gibatha, dari batu karang, dari perjalanan 50 tahun, pelayanan itu diharapkan terus bertumbuh, berbuah dan menjadi terang bagi gereja, masyarakat dan generasi yang akan datang.

Pos terkait