Gainau de Games di Pusaran Pemekaran Aru

Gainau de Games (foto: dokpri keluarga de games)

Catatan Rudi Fofid-Ambon

Saya tidak punya pengalaman duduk empat mata dengan sosok Gainau de Games. Saya juga tidak punya pengalaman bersalaman dengannya. Di Ambon, ada lebih dari sepuluh kesempatan kami saling melempar senyum saja. Mungkin karena kami sama-sama hitam dan sama-sama keriting. Bedanya, dia bulat, saya kerempeng.

Pasca reformasi, saya bertemu di Langgur, Maluku Tenggara. Kami bersalaman sangat erat, senyum sangat lebar, seperti bertemu karib lama. Padahal, kami sangat miskin kenangan.

Hari itu, saya bersama Adolop Unawekly dan rekan-rekan wartawan di Jalan Cempaka Ohoijang. Pengurus Cabang PDI Perjuangan sedang rapat pasca pemilu legislatif. Semua sudah tahu, Gainau de Games terpilih dari Aru untuk duduk di DPRD Malra. Ini kabar baik dari PDI Perjuangan bagi rakyat Aru.

Rapat partai hari itu, ternyata membuat keputusan mencengangkan. Gainau de Games digantikan oleh ketua partai, Paulus Tapotubun. Hal ini, bukan sesuatu kesalahan, sebab begitulah waktu itu. Partai punya hak melakukan keputusan demikian, sesuai pertimbangan partai.

Kami tidak tahu suasana batin dalam rapat. Kami hanya tahu, bahwa rapat sepakat, Tapotubun menggantikan Gainau de Games.

“Apa komentar anda dengan keputusan ini?” Tanya wartawan.

Mulanya, Gainau de Games diam seribu bahasa. Akan tetapi ketika didesak, dia menjawab bahwa sebagai kader, dia hormati keputusan partai.

Gainau de Games lalu pergi. Saya dan Adolop membuntut. Ternyata dia tinggal di Hotel Dragon. Maka saya masuk dan melanjutkan wawancara yang terputus setengah jam lalu.

“Tidak mungkin anda tidak kecewa dengan keputusan tadi. Boleh saya dengar seberapa kecewa anda dengan keputusan itu?”

Gainau menatap saya dengan sangat tenang. Dia lalu berbicara dengan suara sangat pelan, tempo diatur lambat, hemat kata-kata, dan nyaris tanpa ekspresi.

“Seperti tadi saya katakan, saya ini kader. Kader itu tunduk pada keputusan partai. Jadi, tidak ada masalah secara internal. Satu-satunya yang belum bisa saya dapatkan adalah, kata-kata apa yang akan saya sampaikan kepada konstituen saya di Aru. Mereka pilih saya dan suara mereka sanggup mengantar saya ke DPRD. Dengan cara apa saya katakan, supaya mereka paham mekanisme internal kami di partai,” paparnya.

Sampai di sini, Gainau de Games diam. Dia tidak melanjutkan kata-katanya. Ada jeda beberapa detik. Saya menghormati situasinya, sebab itu saya perlu cukupkan saja. Tiba-tiba, dia membuat pernyataan baru yang mengejutkan.

“Meskipun saya sudah katakan seperti itu, tetapi saya mohon, bung jangan tulis apa-apa di media. Nanti jadi polemik lagi, seolah-olah saya tidak rela. Jadi saya mohon, jangan ditulis. Ini sekadar untuk bung tahu saja, apa isi hati saya sekarang. Saya mohon,” katanya dengan penuh permohonan.

Meskipun berita ini cukup seksi, tetapi saya sekali lagi menghormati permohonannya. Kode etik jurnalistik mewajibkan kami para wartawan menghormati ketentuan embargo. Saya merasa, sedang diuji soal pasal 7 kode etik jurnalistik. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai dengan permintaan narasumber.

“Nanti, setelah ini, saya pergi ke Aru dulu. Kalau saya sudah kembali dari Aru, bung adalah orang pertama yang saya cari,” kata Gainau de Games.

Saya agak tidak yakin dengan ucapan itu. “Bung adalah orang pertama yang saya cari”. Itu betul? Wallahualam!

Peristiwa Tapotubun ganti Gainau de Games itu sama sekali tidak saya tulis di media. Pertama, saya sedikit paham mekanisme partai saat itu, dan itu urusan rumah tangga PDI Perjuangan. Kedua, soal embargo tadi. Makanya, setelah kehilangan berita seksi itu, saya tidak ngotot untuk kejar perkembangan apapun. Saya tidak pernah menunggu datangnya Gainau de Games dari Aru. Hari-hari mengalir begitu saja.

Saya sedang duduk berdua dengan Rony Renyut, seorang kakak yang sangat saya hormati. Rony menjabat Sekretaris Jenderal DPC PMKRI Cabang Ambon 1985-1987, ketika saya masuk PMKRI tahun 1985. Sebelumnya, saya aktif di GMKI Komisariat Eksakta I tahun 1983-1985. Setelah DPC PMKRI Cabang Ambon yang dipimpin Ketua Presidium Richard Ufie demisioner, saya menggantikan Rony di posisi sekretaris jenderal.

Rony itu politisi lintas batas. Banyak orang selalu ingin terkoneksi dengannya. Jadi meskipun kami sangat dekat, tetapi momen emas duduk berdua saja, tidak banyak-banyak amat. Selalu ada orang lain di antara kita.

Kami sedang bicarakan hal serius, tiba-tiba pintu diketuk. Ini menjengkelkan, momen berdua lagi-lagi hancur. Ternyata, di muka pintu sudah berdiri Gainau de Games. Dia tidak mengucapkan selamat pagi, siang, malam, syalom. Tidak.

“Ah, kebetulan bung ada di sini, supaya sekalian, seperti yang sudah saya janjikan. Saya baru tiba dari Aru,” ujar Gainau de Games.

Saya biarkan dia pergi duduk berdua dengan Rony, lalu hendak ke belakang. Tiba-tiba, Ganau de Games memanggil saya untuk duduk bertiga. Ketika saya duduk, barulah dia mulai buka pembicaraan.

“Jadi, selama sebulan ini, sudah saya datangi semua kelompok di Aru. Baik orang Aru asli maupun suku-suku pendatang. Semua setuju, kita deklarasi pemekaran Kabupaten Kepulauan Aru,” katanya dengan binar mata bagai mutiara arafura.

Saya mendengar saja seluruh pemaparan, sampai selesai. Rony kemudian menjamin, akan komunikasikan dengan Ketua DPRD dan Bupati Maluku Tenggara supaya atur agenda deklarasi di Aru. Setelah semua beres, barulah Gaunau berpaling secara khusus kepada saya.

“Untuk apa saya harus kecewa dan ribut-ribut satu kursi. Lebih baik, saya ke Aru, sehingga kita akan punya 20 kursi, 25 kursi, 30 kursi,” katanya.

Alhasil, deklarasi di Aru berlangsung megah. Ketua DPRD Malra M. M. Tamher dan Bupati Malra Herman Koedoeboen dan segenap jajarannya, pergi ke Aru. Semuanya berjalan mulus, sampai tibalah keputusan DPR RI tentang pemekaran Aru.

Pada hari ulang tahun Kabupaten Kepulauan Aru, saya ingin menemukan kisah di balik pemekaran, siapa saja tokoh-tokoh, dan segenap narasi tentang suasana batin lahirnya Kabupaten Aru. Sayang sekali, tidak ada. Bahkan, foto Gainau de Games pun tidak ada di internet. Semoga sebuah papan tua di depan sebuah bangunan tua di Dobo bertuliskan “Tim Pemekaran Kabupaten Kepulauan Aru” belum lapuk, dan bisa menjadi benda sejarah. Walau cuma benda mati, ia menyimpan cerita hidup.

Sebagaimana saya tidak punya pengalaman dan kenangan personal memadai dengan Gainau de Games, pada awal perjumpaan, saya juga tidak pernah tahu bahwa Gainau de Games sudah tiada. Saya baru tahu ketika melihat papan nama sekretariat tim pemekaran, lalu menanyakan di mana gerangan sang tokoh.

Kalau ada sejarah yang ditulis tentang pemekaran Kabupaten Kepulauan Aru, itu sungguh baik. Semoga dalam sejarah itu, nama Gainau de Games tidak dilupakan. Ia relakan satu “kursi Aru” pergi, untuk mendapatkan banyak kursi Aru, selama-lamanya.

Salam padamu, pejuang. Semoga kau bahagia di alam baka! Amin!

Ambon, 19 Desember 2020

Penulis adalah Redaktur Pelaksana Media Online Maluku Post

Pos terkait