Aru Sayang e, Masihkah Menjadi Orang Kalah?

Anak-anak Aru dan anak-anak wakat-wakat. Mereka menanam benih-benih harapan. (foto jacky manuputty)

Catatan Rudi Fofid-Ambon

Meskipun sejak kanak-kanak saya sudah jatuh cinta pada Aru, tetapi terus terang, saya buta Aru. Pengetahuan saya tentang kepulauan mutiara ini, hanya seujung tahi kuku. Cerita tentang Aru hanya saya dengar dari mulut orang. Bagai cinta buta, saya memang cinta Aru.

Saya cinta Aru pertama kali karena terasi dobo dari Fanua Namara. Waktu itu, tahun 1969, di bibir Selat Rosenberg, Watdek, Kei Kecil, Maluku Tenggara. Saban pagi, kami pasti makan ikan bakar, enbal bubuhuk, dan sambal.

Rica padi kei, ukurannya sangat kecil tetapi sangat pedas. Rica, garam, terasi dobo, dan lemon nipis, sesederhana itu tetapi sungguh menjadi pagi penuh sensasi. Sambal terasi tentu terasi dobo. Dibungkus daun, setipis kartu ATM. Bakar dulu, lalu haluskan di cobek. Belum makan, aroma wangi sudah sampai ke rumah tetangga.

Di dinding rumah kami, ada kulit-kulit tiram mutiara. Lingkarannya seukuran kepala manusia. Ada lukisan cendrawasih atau panorama estuari. “Aru, Pulau Mutiara”. Saya masih taman kanak-kanak nol besar, tetapi sudah bisa membaca tulisan itu. Demikian juga telur kasuari yang tergantung. Semua itu, dari Aru adanya.

Ayah saya punya radio transistor empat band, dibeli di Papua. Tahun 1970, orang-orang selalu datang berkeliling radio menjelang magrib. Mendengar radio, bagaikan menonton televisi di rumah tetangga ketika banyak orang belum punya TV. Semua ingin mendengar siaran RRI Ambon. Berita-berita Maluku, berita kapal, dan berita keluarga.

Pada malam hari, RRI Ambon menyiarkan acara hiburan berupa suguhan musik. Penyiar RRI akan memperkenalkan kelompok artis dan lagu yang disuguhkan. Suatu malam Minggu, RRI menghadirkan putra-putri Aru di Ambon. Mereka menyanyikan lagu-lagu khas Aru yang tidak saya mengerti liriknya karena semuanya dalam bahasa Aru. Ada satu lagu yang penggalan liriknya saya hafal karena ada pengulangan yang gampang diingat.

“Bon, bon, sabola gatale”

Saya ingat bagian ini, tidak ingat bagian lain. Jadi, bertahun-tahun saya biasa menyanyi sepotong ini secara berulang-ulang. “Bon, bon, sabola gatale. Bon, bon, sabola gatale. Bon, bon, sabola gatale”. Kawan-kawan di Bacan, Ambon, Tual, dan berbagai tempat yang mendengar itu, selalu bertanya kepada saya: “Lagu apa itu?” Dengan bangga saya akan jawab, “Lagu Aru!”

Tahun 1971, saya masuk SD Nasional Katolik (Naskat) Mathias Tual, ketika kepala sekolah seorang perempuan. Kami menyebutnya “Ibu Guru Renyut”. Rumahnya di Kampung Raja. Saya suka Ibu Guru Renyut. Tubuhnya kecil, suaranya lembut tetapi tegas. Ada mata merpati dan elang sekaligus di bola matanya. Hal paling berkesan, ia selalu ke sekolah dengan kain-kebaya kei. Kelak, di hari tuanya, saya masih sempat menjenguknya di dekat Woma 100 Tahun Gereja Katolik. Ia seorang perempuan tangguh asal Dullah Laut dari marga Rahawarin.

Ketika Ibu Guru Renyut pindah, kami mendapat kepala sekolah baru, Edo Rettob. Lantas tahun 1973, SD Naskat Mathias mekar jadi dua. Saya masuk ke SD Naskat Mathias II. Kepala sekolah kami David Lesomar. Dua tahun kemudian, kami mendapat seorang guru baru. Bapak Guru Kailey. Ia pindahan dari SD Bondowoso, Jawa Timur. Anaknya Magdalena Kailey, satu kelas dengan kami. Kami tahu saat perkenalan, Bapa Guru Kailey menyebutkan dirinya orang Aru.

Saya senang sekali, Bapa Guru Kailey mengajar kami baca puisi. Puisi yang disuguhkan adalah “Aku” karya Chairil Anwar. Namun saya juga takut sekali karena tiba-tiba setiap anak harus maju di depan, membacakan puisi “Aku” secara deklamasi.

Saya pemalu, penakut, gugup, dan sangat tidak ekspresif. Jadi saya tidak akan mendeklamasikan “Aku” dengan sepenuh gestur. Saya membaca sekena saja, dengan minim gerak. Suara saya juga paling kecil di antara semua anak. Saya lihat mata Bapa Guru Kailey sudah menjelma ikan-ikan hiu Arafura.

“Baca dan bikin gerak seperti Eppy Baktaraman,” bentaknya.

Saya baca sekali lagi, tetapi tidak melakukan perubahan sesuai arahannya. Saya tetap minimalis. Tiba-tiba, plak! Tangannya yang kekar itu sudah menempel di pipi. Bapa Kami yang di sorga. Ayah saya tidak pernah tampar pipi. Sakit sekali. Saya pusing. Saya rubuh. Terima kasih Bapa Guru Kailey untuk tamparan yang membuat saya masih tetap baca puisi sampai sekarang. Salam untuk Magdalena Kailey, di fanua manakah dia sekarang?

Andai ada cucu Bapa Guru Kailey di sini, berikan pada saya. Saya berjanji bimbing dia baca puisi. Jangan takut, tidak akan saya balas dendam pada tamparan emas 45 tahun lalu itu.

Masih sekitar tahun 1975, saya kenal seorang lelaki Aru bernama Paulus Hok Lie. Ia menikah dengan kemenakan saya Ancelina Fofid. Hok Lie kemudian mengadaptasi marga Lie menjadi Liefofid. Anak-anaknya ada sepuluh orang, semuanya sehat dan tangguh, masih lengkap sampai sekarang dengan cucu-cucu. Ke mana saja saya pergi, saya selalu terkoneksi sangat intim dengan anak-cucu Hok Lie dan Ancelina sebab kami hanya satu rumah Fofid.

Saya pindah ke Maluku Utara dan praktis tidak pernah bersua orang Aru. Hanya Bapa Guru Sikteubun di Bacan, Halmahera Selatan, mengajari kami lagu Roban Ro. Liriknya mungkin tidak akurat, tetapi saya tuliskan saja di sini.

Roban ro roban ronga ona na Baen lou
Bin je bai gai datalar dai tit
Kutar kanang sikoi-koi kupera koi lou
Kupera kutan roban ronga
Sikoi-koi ikeru, kaling jisin er tarerna
Kat kolna kumasi koi-koi

Cakalang-cakalang banyak-banyak di Ngaibor
Burung talang duduk di atas
Naik sampan ke laut, penggayung ke laut
Penggayung tongka dengan ikan
Sampan maju mundur, mata kail su tagae
Kutarik dalam perahu

Tahun 1980, saya masuk SMA Xaverius Ambon. Waktu saya duduk di kelas dua, ada anak baru di kelas satu. Namanya Buce Kwaitota, anak Aru. Saya masih bertemu Buce bertahun-tahun. Dia kuliah Bahasa Jerman di FKIP, dan kemudian kelak terjun di politik, sampai menjadi anggota DPRD Maluku Tenggara dan Anggota DPRD Kepulauan Aru.

Saat kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, kami tidak punya teman seangkatan dari Aru. Sekalipun demikian, di kampus kami berkenalan dengan beberapa orang Aru. Tokoh Aru yang sangat kami kenal adalah Eddy Benamen, yang membina Permaru, Perhimpunan Mahasiswa Aru yang legendaris. Demikian juga Sonny Jonler di Fakultas Perikanan. Namun bintang kampus yang membuat kami semua selalu kagum adalah seorang nona manis Mercy Barends. Mercy yang cemerlang, kemudian masih bersinar di tingkat nasional sebagai anggota DPR RI.

Saat saya bekerja sebagai staf Pembantu Dekan I STIA Trinitas Ambon, saya kenal sejumlah mahasiswa Aru, antara lain Jeffry dan Temmy Oersepuny. Temmy kemudian terjun di dunia usaha, lantas banting setir ke politik dan kini duduk di DPRD Provinsi Maluku, sampai sekarang.

Ada dua kakak beradik lain yang saya kenal sangat dekat karena sama-sama di PMKRI Cabang Ambon dan menghuni Margasiswa Rumphius adalah Siprianus Alatubir dan Brigitta Alatubir. Keduanya punya kisah sendiri yang berkesan.

Siprianus pernah merancang perlawanan kepada kepala daerah yang korupsi. Mereka terus melakukan demonstrasi dan membuat pelaporan ke instansi penegak hukum. Perjuangan Siprianus dkk berhasil membawa kepala daerah tersebut ke penjara, walau mereka sendiri mengalami banyak intimidasi.
l
Brigitta Alatubir, lain lagi ceritanya. Ia menjabat Sekretaris Pengurus Margasiswa Rumphius, yang menolak mengosongkan margasiswa demi rencana rehabilitasi. Pengurus margasiswa dipanggil polisi. Dalam pemeriksaan maraton dari pagi sampai sore tanpa makan dan tanpa minum, tiba-tiba petugas polisi menyodorkan selembar surat pernyataan bersedia kosongkan margasiswa.

“Orang tua kirim ke Ambon untuk kuliah, apa rasa ayah dan ibu di Aru jika tahu anaknya begini, bahkan masuk bui. Kalau kau tidak tanda tangan pernyataan ini maka sekarang ini juga anda saya tahan. Pilih tanda tangan atau masuk bui?” Tanya petugas polisi.

Mendengar pertanyaan berat itu, Brigitta memandang langit-langit kantor polisi. Mungkin ia menahan air matanya, persis seperti penggalan lirik lagu Sukiyaki oleh Kyu Sakamoto nan terkenal di dunia.

Ue o muite arukou (saya berjalan sambil tengadah langit)
Namida da kobore na you ni (sehingga air mata tidak akan tumpah)

Dalam posisi kepala tegak ke langit-langit, Brigitta kemudian menjawab:

“Saya pilih masuk penjara!”

Setelah menjawab begitu, Brigitta menatap mata petugas polisi dengan berani. Dia berhasil melontarkan pikiran dan pendapatnya, dan dia sudah bunuh air matanya. Brigitta kemudian menamatkan kuliah, pulang mengabdi sebagai ibu guru di Aru. Pengabdiannya bertahun-tahun di Aru, sampai ia jatuh sakit.

TRIO ARU DI JAKARTA

Saya punya narasi lain tentang Aru, tetapi akan saya tulis pada bagian lain. Saya ingin menutup tulisan kecil ini dengan menyuguhkan tiga nama sekaligus. Mereka adalah Mercy Barends, Albertina Ho, dan Korneles Galanjinjinay. Trio Aru beda generasi ini boleh dikata, pernah memberi kelegaan bagi Maluku. Sudah beberapa kali, orang Maluku haus akan sosok Maluku dalam kepemimpinan nasional. Konkritnya, menteri dari Maluku. Harap-harap, marah-marah, tetapi para presiden era reformasi ini, “gak ngeh, seng nodek” dengan suara-suara rindu dari Maluku.

Memang, ada nama-nama Djauhary Oratmangun, Ali Mochtar Ngabalin, Komarudin Watubun di kancah nasional. Akan tetapi, kursi menteri tak kunjung diduduki putera-puteri Maluku.

Saat semua kecewa pasca pengumuman kabinet, belakangan untuk Dewan Pengawas KPK, tiba-tiba muncul sebuah nama yang sebenarnya sudah dikenal luas. Dia adalah Albertina Ho, hakim yang bikin terdakwa kasus korupsi Gayus Tambunan menangis di pengadilan.

Albertina Ho bagai menyeruak dengan menyandang triple minority di pundaknya. Dia datang dari Aru, berdarah Tionghoa-Aru, dan penganut Katolik pula. Tanpa disadari banyak orang, pada saat nama Albertina sedang mencuat, saat itu, ada dua putera Aru lain yang sedang berada di permukaan Indonesia yakni Mercy Barends di DPR RI, serta Korneles Galanjinjinay selaku Ketua Umum BP GMKI.

Ketiga sosok Aru tersebut tentu tidak bisa mengobati rasa kecewa soal menteri asal Maluku. Akan tetapi, ketiganya bisa menjadi inspirasi, setidaknya bagi orang Aru sendiri. Bahwa orang-orang Aru yang “dikalahkan sejak dalam pikiran” (Roem Topatimasang dkk), yang sejak lama diasosiasikan sebagai orang belakang tanah, ternyata tidak tenggelam dalam lumpur wakat-wakat. Manusia Aru sanggup bangkit, menyatakan hakikat sebagai manusia kuat, “sanggup bertahan dengan buah wakat-wakat dan buah raja yang beracun sejak zaman nenek moyang” (Dolfintje Gaelagoy).

LALU, ARU HARUS BAGAIMANA?

Saya menulis catatan ini sebagai kenangan dan rasa hormat yang besar kepada sosok Aru yang telah tiada, Gainau de Games. Semoga saya dapat menulis memoar mengenai sosok ini. Saya juga menaruh harapan sangat besar kepada putera-putera Aru untuk menulis sejarah dengan jemari tangan Aru, karena akan lahir pemikiran murni dari nurani Aru sendiri. Aru bahkan sudah memulainya sejak lama, hanya belum massif.

Penulis-penulis Kace Labok, Maikel Koipuy, Yosep Labok, Callin Leppuy, Latief Madilis, dan para penulis Aru yang lebih muda, teruslah angkat pena niscaya “Aru tidak hanya menjadi tanah terjanji (promised land) sebagaimana ditulis Wallacea. Tanah Aru juga sekaligus menjadi tanah harapan (hope land) dan tanah impian (dream land). Tanah Aru pun sebagai sumber kesucian (holly land) sebab tanah Aru adalah tanah ibu (mother land) sekaligus tanah bapa (father land).

Tokoh muda Aru Sonny Jonler pernah berkata, di sekeliling Aru penuh dengan tempat keramat, penuh dengan tempat mistis. Sebab itu, Aru sebagai tanah keramat (sacred land) dan mistis (mistical land), perlu dibela secara sistematis.

Bagaimana cara bela Aru? Callin Leppuy menulis di facebook “The Promised Land atau The Lost Society? Pada paragraf ketujuh, Callin menulis: “Aru nampaknya sejak dulu hanya dijadikan lahan eksploitasi sumber daya alam yang paling subur oleh para kapital raksasa termasuk yang berlindung di bawah konstitusi dan UU negara untuk lakonkan berahi eksploitasi mereka hingga sekarang”.

Selama ini, semua teriakan membela Aru, termasuk yang hanya jadikan Aru sebagai pemanis bibir demi pencitraan, selalu memulai dari hal-hal material dan tidak menyentuh hal formal. Arafura dicuri? Tentu tidak secara formal. Ada pembagian kekuasaan atas pengelolaan wilayah. Itulah yang diformalkan dalam undang-undang. Callin sudah mengorek lubang kunci. Bagaimana utak-atik pasal-pasal diskriminatif, pasal-pasal monopoli, yang sungguh tidak adil dan tidak beradab itu?

“Kalau kami bersatu, kami kuat, dan kami memang!” Kata Mama Do, Dolfintje Gaelagoy.

Selamat ulang tahun ke-17. Dirgahayu Aru!

Ambon, 18 Desember 2020

Penulis, Redaktur Pelaksana Media Online Maluku Post

 

Pos terkait