Kisah Kecil Bersama Sosok Besar Pendeta Titaley

  • Whatsapp
Pendeta Sammy Titaley (foto crts sinodegpm.org)

Catatan Rudi Fofid-Tual

Ketika Pendeta Sembilan Paulus Titaley dipilih menjadi Ketua BPH Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) periode 1995-2000, wartawati Febby Kaihatu menulis profilnya secara cukup lengkap di harian Suara Maluku. Dari tulisan itu, saya mengenal sosok yang biasa disapa Pak Sammy sebagai satu pribadi yang bukan saja berbadan besar, tetapi juga berpikiran besar.

Pendeta Sammy Titaley tidak ingin superstruktur gereja menjadi semacam superman, sedangkan jemaatnya rapuh. Ia menggulirkan gagasan dan program pemberdayaan ekonomi jemaat selama kepemimpinannya. Gagasan ini sungguh sangat paralel dengan upaya Pemerintah Provinsi Maluku membawa keluar rakyat Maluku dari belenggu kemiskinan.

Keberpihakan Pendeta Titaley kepada kaum kecil, marginal, secara spektakuler ditunjukkan dengan gagasannya menyelenggarakan Temu Raya Tuagama GPM. Maka tahun 1998, berkumpullah tuagama dari Maluku Utara sampai Tenggara Jauh secara massal, untuk kali pertama. Orang-orang yang selama ini dipandang sebelah mata, tiba-tiba menjadi pusat perhatian gereja.

Tahun 1999, saya dan Zairin Salampessy membuat perlawanan isu. Kami melakukan konter berita media mainstream dari Jakarta yang kami anggap sangat bias, tidak sesuai fakta lapangan. Pendeta Titaley membaca laporan kami kepada Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia di Jakarta.

“Saya suka laporan anda dan Salampessy. Wartawan memang harus tetap netral,” kata Pendeta Titaley kepada saya di Gedung Kantor Sinode GPM.

Saya memang diminta Pendeta Titaley melalui wartawan senior Etty Manduapessy untuk melakukan konter isu supaya Indonesia dan dunia bisa tahu, apa sesungguhnya yang terjadi di Maluku.

Ketika bertemu Pendeta Titaley, saya katakan, di dalam Tim Relawan Untuk Kemanusiaan (Tirus) yang dipimpin Nus Ukru, saya jadi koordinator informasi komunikasi. Jadi, tanpa harus bergabung dengan tim kerja di GPM, tugas konter isu itu sudah saya lakukan bersama kawan-kawan di Tirus.

“Ya, tapi bung bisa gunakan fasilitas di sini,” kata Pendeta Titaley lantas mengantar saya ke sebuah ruangan di lantai 3 atau 4 Gedung Sinode.

Ternyata ruang yang dituju adalah ruang kerja Ketua Sinode yang sedang direhabilitasi. Tak ada perabot apa-apa, kecuali meja kecil dan pesawat telepon. Pendeta Titaley meminta staf di kantor sinode menyiapkan ruang kerjanya menjadi ruang kerja saya. Jadilah saya bekerja di ruang itu, kapan saja.

Saya menelepon abang saya Thamrin Ely di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku. Thamrin Ely adalah Sekretaris MUI Maluku. Bersama Thamrin, ada adik saya menemaninya bekerja yakni Dino Umahuk.

“Dino ada di MUI, beta ada di GPM. Jadi kalau ada apa-apa, katong saling komunikasi jua!” Begitu, saya katakan kepada Thamrin Ely. Maka kami terus komunikasi untuk saling klarifikasi isu-isu yang beredar di tengah masyarakat.

Di ruang kerja Pendeta Titaley itu, saya pernah membawa seorang wartawan Jakarta, pemeluk Islam, masuk ke “jantung” GPM. Wartawan itu Sarluhut Napitupulu dari majalah berita Gamma. Saya tidak beritahu siapapun termasuk Pendeta Titaley.

Saya punya pertanggungjawab akhir, jika membawa “Muslim” ke ruang kerja Ketua Sinode GPM tanpa sepengetahuan siapa-siapa, dan jika itu jadi masalah, maka penjelasan saya ada beberapa lapis. Pertama, wartawan bekerja tidak mewakili agama, jadi tidak usah cemas. Kedua, Sarluhut Napitupulu adalah wartawan netral yang sedang meliput bersama Novi Pinontoan.

Sarluhut dan Novi Pinontoan saat itu sedang membuat laporan utama yang berimbang untuk edisi perdana Majalah Gamma. Semangat mereka adalah netral, jurnalisme damai, meliput bukan saja dari dua pihak, melainkan semua pihak, dan tidak akan bias informasi.

Nah, dari Gedung Sinode GPM dan Gereja Maranatha, beberapa kali saya harus menjadi “sekretaris pribadi” Ketua Sinode. Ada orang telepon mau bicara dengan Pendeta Titaley, saya harus lari ke lantai 1 menemukan Pendeta Titaley.

Di pekarangan Gereja Maranatha, pernah orang membawa jenasah korban tembakan, sehingga terjadi kerumunan. Pendeta Titaley turun ke pekarangan lalu mengarahkan jemaat, masuk ke dalam gereja. Ia kemudian memimpin doa syafaat, memohon kedamaian untuk Maluku.

Usai ibadah, seorang pemuda berinitial “D” datang dengan penuh emosi ke hadapan Pendeta Titaley.

“Katong musti balas. Beta minta izin ketua, katong bakar habis binongko-binongko dari Amahusu sampai di Seri sana kase rata. Soalnya, katong pung orang jadi korban terus,” cetus “D” sambil menanti jawaban Pendeta Titaley.

Mendengar itu, Pendeta Titaley langsung memegang bahu “D”. Ia berbicara dengan tenang, tetapi tegas.

“Sinode GPM tidak akan pernah mengeluarkan perintah atau izin untuk menyerang umat Islam,” kata Pendeta Titaley.

Mendengar itu, pemuda “D” langsung pergi bergabung dengan sekelompok pemuda di depan Bank Indonesia. Sepanjang jalan dia terus menggerutu. Ternyata, pemuda-pemuda di sana sedang menunggu “D”.

“Antua bilang apa?” Tanya seorang pemuda.

“Ngala. Ketua sinode xxxo ,” umpat “D” sambil membuat gerakan tangan memperkuat makiannya.

“Ketua sinode penakut. Antua bilang seng boleh serang Islam,” ujar “D” kepada rekan-rekan pemuda dengan marah dan kecewa.

Sikap Pendeta Titaley yang tidak mengobarkan perang, secara terpisah sama dengan apa yang dilakukan ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Pendeta W. A. Roeroe. Ketika kelompok Brigade Manguni (BM) yang mengklaim punya anggota 20 ribu orang minta izin ketua sinode untuk datang ke Ambon, Pendeta Roeroe mengatakan, kita bantu dengan doa supaya konflik selesai, bukan kirim pasukan dan senjata.

Berita kepergian Pendeta Titaley untuk selamanya, saya baca di media sosial. Senang sekali bahwa media-media di Ambon memberitakan prosesi pemakamannya, sehingga dari Tual, saya bisa mengikuti dari jauh.

Meskipun seorang pendeta senior, pejabat gereja, popular, dan profilnya kuat, tetapi kependetaan atau mungkin kultur kemalukuan kuat melekat pada dirinya. Sebab itu, Pendeta Titaley tidak segan meminta maaf, jika ia membuat satu kekeliruan.

Sebagai orang yang pernah tinggal di Kawasan Batu Kerbau-Hotel Anggrek, saya bisa merasakan rasa kehilangan Jemaat GPM Bethania yang dekat dengan keluarga Pendeta Titaley. Saat-saat begini, saya teringat pada penyair dan pahlawan nasional Filipina Dr Jose Protacio Rizal.

Sebelum dieksekusi mati di hadapan regu tembak, Jose menulis puisi Mi Ultimo Adios (Salam perpisahanku yang terakhir). Kata-kata terakhir dalam puisi tersebut adalah “adiós queridos seres, morir es descansar”. Terjemahan bebasnya: Selamat tinggal semua yang tercinta, mati adalah istirahat”.

“Semoga jiwa Pendeta Sembilan Paulus Titaley beristirahat dalam ketenteraman karena kerahiman Tuhan, amin!”

Requescat in pace!

Tual, 28 Desember 2020

Pos terkait