Nafas Solidaritas Ukulele Ambon-Evav

  • Whatsapp
Julia Manufury bersama Nico Tulalessy dan Rio Efruan, kolaborasi lintas pulau, dari Ambon sampai ke Kei (foto julia-Rio)
Yani Pattinasarany dan anak-anak Tual Ukulele Lovers Community, juga mendapat dukungan Nico Tulalessy dan Rio Efruan dari Amboina Ukulele Kids Community  (tulc)
Yani Pattinasarany dan anak-anak Tual Ukulele Lovers Community, juga mendapat dukungan Nico Tulalessy dan Rio Efruan dari Amboina Ukulele Kids Community (tulc)

Catatan Rudi Fofid-Tual

Ukulele sebenarnya bukan alat musik baru di Tanah Evav. Para musisi di kampung-kampung sudah memainkan ukulele sejak datangnya Bangsa Eropa di Maluku.

Para seniman tradisi di Evav bahkan membuat badan ukulele dari kayu maupun tempurung kelapa. Beberapa musisi di kampung masih bermain ukulele tempurung kelapa sampai saat ini. Akan tetapi dominasi musik modern memang telah menggeser banyak hal.

Di tengah minat orang muda para musik digital, tiba-tiba muncul Tibe One Ukulele, Kei Islands Ukulele, dan Tual Ukulele Lovers Community di Evav. Anak-anak dan remaja yang berhimpun dalam ketiga komunitas, terlihat penuh semangat dengan ukulele di tangan.

Julia Ceci Manufury yang merintis Tibe One Ukulele, dan Kei Islands Ukulele, maupun suami-istri Yani Pattinasarany-Medy Sumah yang mendirikan Tual Ukulele Lovers Community sama-sama mengakui, komunitas ukulele yang mereka dirikan benar-benar terinspirasi oleh Amboina Ukulele Kids Community (AUKC) di Amahusu yang dipimpin musisi Nico Tulalessy.

“Beta memang suka ukulele. Saat di Ambon, beta melintas di Amahusu dan kaget melihat anak-anak membawa ukulele dan berkumpul di pantai. Dari situ, beta kenal AUKC dan berinisiatif mendirikan komunitas ukulele di Langgur,” ungkap Julia.

Yani Pattinasarany juga mengakui hal yang sama. Menurut dia, AUKC telah menginspirasi dan juga memberikan dukungan konkrit bagi komunitas ukulele di Evav.

Pada awal tahun 2021, Nico Tulalessy memang membuat program sehari belajar ukulele di Banda, dilanjutkan dengan sehari belajar ukulele di Kei. Tulalessy tidak sekadar mengajar anak-anak Evav bermain musik. Tulalessy juga memberikan bantuan sejumlah ukulele dan gitar kepada ketiga komunitas di Evav.

Komunikasi musik antara Nico Tulalessy di Amahusu, Ambon, dengan Julia di Langgur dan Yani di Tual, adalah bentuk solidaritas sesama musisi lintas entitas. Misi mulia ini telah menjadikan Ambon Kota Musik Dunia, tidak sekadar bergetar dan berpijar di Tanah Amboina.

Getar ukulele di kota musik telah beresonansi ke pulau-pulau tenggara. Demikianlah musik itu universal, ukulele itu asyik. Ia tidak sekadar instrumen bunyi melainkan lebih sebagai medium perjumpaan yang merekatkan persaudaraan Maluku.

“Ukulele, beta suka!”

Demikian sahutan yang sering dikumandangkan ratusan anak-anak AUKC di Ambon. Sahutan yang sama, kini terdengar pula dari bibir anak-anak Evav di Langgur dan Tual.

Nico Tulalessy yang mengurus pemusik-pemusik belia di bawah bendera AUKC, mengaku kerelaannya berbagi seni musik ukulele di Banda, Langgur, dan Tual, karena dirinya bersama musisi Rio Efruan sejak semula punya mimpi besar.

“Mimpi besar kami adalah, setelah AUKC, katong dua akan ke pulau-pulau lain untuk mengkampayekan ukulele kepada anak-anak,” kata pegiat sosial itu.

Dengan menghidupkan ukulele di berbagai pulau, Nico dan Rio ingin Maluku menjadi provinsi ukulele di Indonesia.

Tual, 15 April 2021

Penulis adalah Redaktur Pelaksana Maluku Post

Pos terkait