Literasi Masuk Posyandu, Wali Kota Tual Dinilai Punya Peran Besar Bangun Budaya Baca

Tual, MalukuPost.com – Posyandu di Kota Tual kini tak hanya berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan ibu dan anak. Melalui gerakan literasi yang digagas berbagai pihak, posyandu juga mulai dimanfaatkan sebagai ruang belajar untuk menumbuhkan minat baca anak sejak dini.

Hal itu terlihat dalam kegiatan membaca nyaring (read aloud) bertema “Bertualang ke Dunia Mimpi Melalui Buku Cerita” yang digelar di Posyandu Warbal, Sabtu (6/6/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan anak-anak dan orang tua dengan menghadirkan suasana belajar yang interaktif dan menyenangkan.

Program ini merupakan kolaborasi antara Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) Kota Tual, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Tual, Puskesmas Fiditan Tual, serta komunitas literasi Kei Book Club (KBC).

Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Tual, Ratnasari Tamher, mengatakan pemerintah daerah berkomitmen mendukung berbagai program literasi yang dijalankan sepanjang tahun 2026.

“Kami terus berkoordinasi dengan RELIMA untuk menyukseskan berbagai aktivitas literasi yang berjalan sepanjang tahun ini,” kata Ratnasari.

Menurut dia, program literasi yang dikembangkan tidak hanya menyasar anak-anak, tetapi juga masyarakat umum sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya membaca di Kota Tual.

Ratnasari mengungkapkan, sepanjang Juni 2026 akan digelar sedikitnya enam kegiatan literasi di sejumlah puskesmas dan posyandu yang telah ditetapkan melalui koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Tual. Salah satu lokasi pelaksanaannya adalah Puskesmas Fiditan.

Founder Aksara Lira Baca sekaligus pegiat literasi Kota Tual, Maria Tohatta, menilai metode membaca nyaring menjadi cara efektif untuk membangun imajinasi dan minat baca anak sejak usia dini.

“Di posyandu masyarakat tidak hanya mendapatkan layanan kesehatan, tetapi juga edukasi literasi. Ini bentuk kolaborasi yang sangat baik antara dinas terkait, puskesmas, dan komunitas literasi,” ujarnya.

Suasana kegiatan berlangsung meriah. Anak-anak terlihat antusias mengikuti sesi membaca cerita hingga tanya jawab. Mereka juga diminta menceritakan kembali isi buku yang telah dibacakan untuk mengukur tingkat pemahaman.

Sementara itu, Koordinator RELIMA Kota Tual, Ahmad Rohani Renhoran, mengatakan Kota Tual memiliki potensi besar untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM).

Menurutnya, tingginya partisipasi anak-anak dan orang tua dalam kegiatan literasi menjadi modal penting untuk membangun budaya baca yang kuat di masyarakat.
“Antusiasme peserta sangat tinggi. Ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki minat besar terhadap kegiatan literasi,” katanya.

Ahmad juga menilai dukungan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam pengembangan literasi. Ia menyebut Wali Kota Tual dikenal memiliki kebiasaan membaca yang dapat menjadi kekuatan dalam mendorong lahirnya kebijakan-kebijakan yang berpihak pada pengembangan budaya baca.

“Pemimpin yang memiliki perhatian terhadap literasi akan sangat berpengaruh dalam membangun budaya membaca di masyarakat. Saya melihat Bapak Wali Kota Tual dikenal gemar membaca,” ujarnya.

Selain itu, RELIMA bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Tual saat ini tengah mendorong lahirnya Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang pengembangan literasi di sekolah maupun desa.

Menurut Ahmad, regulasi tersebut diperlukan agar program literasi memiliki dasar hukum yang kuat sekaligus membuka peluang dukungan anggaran yang lebih optimal dan berkelanjutan.

Ia berharap sinergi antara pemerintah, relawan, tenaga kesehatan, dan komunitas literasi terus diperkuat sehingga dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kota Tual.

“Kami optimistis ekosistem literasi di Kota Tual akan semakin berkembang jika kolaborasi seperti ini terus dijaga,” pungkasnya.

Pos terkait