Gadis Flamboyan Ini Cium Kaki Sang Ayah Saat Wisuda

  • Whatsapp
Elisabet Frenty Renyaan, wisudawan yang mencium kaki ayahnya Edo Rumangun di tengah acara wisuda. (foto petterzeit)

Laporan Rudi Fofid-Ambon

Malukupost.com – Elisabeth Frenty Renyaan adalah gadis flamboyan dalam arti sesungguhnya. Dia pemuja pohon flamboyan. Sudah ratusan pohon flamboyan ditanamnya dengan tangan sendiri. Bukan saja di sekitar Langgur. Diapun menanam sampai ke Ohoi Somlain, dan Ur Pulau. Di rumahnya, ratusan anak flamboyan terus tumbuh dan siap ditanam lagi di lokasi pilihannya.

Enty, begitu biasa dia dipaggil. Gadis kelahiran 21 Maret 1995  ini baru saja menyelesaikan studi strata satu, di Jurusan Administrasi Publik Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Langgur. Tentu, menjadi sarjana bukanlah sesuatu yang luar biasa sekarang. Sudah berjuta orang menyandang gelar itu. Akan tetapi, momen pada hari wisudanya di Kampus STIA Langgur, 29 November lalu, menjadi luar biasa.

Ketika selesai ritual wisuda, Enty berjalan kembali ke tempat duduk. Langkahnya lurus ke tempat duduk keluarga wisudawan. Di sana, ada seorang pria duduk di kursi roda. Kaki pria itu sudah tidak normal sejak masih kecil. Enty langsung turun sujud. Memeluk kaki pria itu, dan menciumnya. Beberapa detik Enty melakukan adegan itu. Sejumlah orang mengabadikannya. Seorang gadis, wisudawan mencium kaki ayahnya.

“Saya pernah berjanji akan melanjutkan cita-cita bapa yang tertunta. Bapa pernah kuliah sampai semester tujuh, lalu berhenti. Bapa berpesan, nanti anak-anak yang akan melanjutkannya,” kata Enty kepada Maluku Post yang menghubunginya di Langgur, Rabu (1/12).

Enty mengaku terharu. Sang ayah bernama Edo Rumangun, pensiunan PNS di Taman Nasional Manusela itu kini duduk di kursi roda karena kakinya sakit. Justru kaki yang cacat itu, kata Enty, justru mempunyai makna besar bagi dirinya kakak-beradik.

“Meski cacat fisik, tetapi tidak cacat pemikiran. Bapa tetap ingin anak-anaknya sukses,” kisah Enty.

Pada akun facebook, Enty juga menyiarkan foto adegan mencium kaki ayahnya. Enty pun menulis.

“Aku mencium kakimu Karna kaki ini sudah yang selalu berjuang untuk sampai di tahap yang memang kau ingin melihat secara langsung aku pernah berjaji dalam diri ini untuk kau melihat betapa berharganya impianmu dan mimpihmu melihat anakmu ini 🥰🎓🎓, Tidak sempat dengan kata yang harus di ucapkan tapi semua ada ucapan trimkasih kepada Tuhan untuk semua!”

Keharuan Enty bukan hanya tentang sang ayah yang sakit. Dia juga mengaku menghormati ibunya Maria Renyaan, seorang pekerja keras. Ekspresi sayang Enty kepada orang tuanya dia tunjukkan dalam berbagai rupa. Salah satunya ketika baca puisi.

Pernah, Enty membawa ibunya ke pekarangan kantor DPRD Maluku Tenggara. Sang ibu duduk membaur di antara para penonton. Enty membaca puisi karyanya sendiri. Isinya tentang perjuangan sang ibu membesarkan anak-anaknya dalam keadaan susah, namun tegar. Para penonton terkesima. Enty yang aktif di PMKRI Langgur dan Bengkel Sastra Nuhu Evav (BSNE) ini dikenal punya fisik yang kuat, mampu melakukan pekerjaan fisik yang lasim dilakukan kaum laki-laki namun tetap punya perasaan halus sebagai perempuan. (Malukupost.com/Foto Petterzeth)

Pos terkait