Ambon, MalukuPost.com – Pada 20 Oktober 2015 silam, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menetapkan adat Cuci Negeri Soya sebagai salah satu warisan budaya tak benda di Indonesia.
Warisan budaya oleh para leluhur itu hingga kini terus dilestarikan oleh anak cucu negeri yang berada di atas puncak gunung Sirimau.
Sayangnya, prosesi adat yang dilakukan tahun ini tanpa hadirnya pemerintah. Entah kenapa dan alasan apa? Namun ketidakhadiran pemerintah pada puncak prosesi adat naik Baileo Samasuru merupakan bentuk ketidakpedulian pemerintah dalam upaya melestarikan warisan budaya yang telah masuk dokumen negara.
Meskipun pemerintah tidak hadir, namun tidak mengurung niat dan komitmen dari anak cucu serta pemerintah Negeri Soya untuk terus melestarikan budaya yang dititipkan para leluhur sejak dahulu kala.
Jumat, 10 Desember 2021, merupakan puncak perayaan prosesi adat Cuci Negeri Soya dengan ditandai lewat upacara adat di Baileo Samasuru, arak-arakan dari anak cucu menuju dua mata air (Waipinang dan Unuwei) serta badendang dalam kain gandong.
Upulatu Yisayehu John L. Rehatta dalam wejangannya di Baileo Samasuru mengaku, Cuci Negeri Soya merupakan tradisi adat yang ditinggalkan oleh para leluhur kepada anak cucu generasi berikutnya.
“Tradisi adat ini harus terus dilestarikan oleh anak cucu, turun-temurun,” ingatnya.
Menurut Rehatta, tradisi adat ini yang low profile itu, bukan berarti menyembah kepada bebatuan (batu-batu), akan tetapi Allah yang disembah hanya Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta langit dan bumi.
“Ini hanya simbol adat dan penghormatan terhadap warisan para leluhur. Dan sebagai anak cucu, generasi penerus, wajib bagi kita untuk terus melestarikannya,” tegasnya.
Dijelaskan Rehatta, prosesi adat cuci negeri Soya diawali dengan rapat saniri lengkap yang berlangsung pada tanggal 29 November, rapat saniri besar pada tanggal 1 Desember, Cuci Negeri Soya pada minggu kedua bulan Desember yakni tanggal 8 sampai 9 Desember, dan malamya itu anak cucu dari Soa Pera naik begadang di gunung Sirimau. Besoknya, mereka turun dan prosesi adat naik Baileo Samasuru dilangsungkan. Keesokan harinya, anak cucu melakukan pembersihan dan penyucian pada dua mata air yang merupakan situs budaya di Negeri Soya.
“Dari situlah rangkaian prosesi adat selesai dilakukan, hingga kita mempersiapkan diri memasuki Natal dan menyambut Tahun Baru,” tandasnya.
Raja oya menambahkan, mesti diingat pula bahwa prosesi adat yang dilakukan ini harus dengan hati yang bersih. Sebab kalau masih menyimpan dendam antara satu dengan yang lain, maka tidak akan membawa dampak yang positif bagi negeri dan keberlangsungan hidup anak cucu kedepan.
“Beta (saya) harus bilang for basudara samua, orang yang menghargai adat, mereka itu adalah orang beradat. Beta tidak pernah menyakiti satupun di Negeri Soya. Basudara semua beta pung (punya) anak-anak. Semoga Tuhan memberkati katong (kita) semua dalam mempersiapkan diri menyambut Natal dan Tahun Baru,” katanya dengan logat ambon.
Hal senada juga disampaikan Guru Latu Yisayehu (Ketua Majelis Jemaat GPM Soya) bahwa apa yang disampaikan oleh Upulatu Yisayehu mesti diingat oleh semua anak cucu yang hadir pada saat itu.
“Kita sekarang merayakan tradisi adat di negeri ini. Hati kita harus bersih. Merayakan prosesi adat adalah bagian dari sikap dan jati diri kita sebagai orang yang beradat. Mari kita lakukan itu dengan sungguh-sungguh,” katanya.
“Apalagi saat ini kita akan memasuki adventus yang ketiga. Mari kita siapkan dan sucikan hati kita menyambut Natal Kristus dan Tahun Baru dengan tetap ingat selalu tema Natal kita rendah hati dan setia,” katanya menambahkan.


