Air Mata Gubernur Hendrik Lewerissa Pecah di Tengah Anak-anak Pengungsi Patahuwe

Taniwel, MalukuPost.com – Suasana haru mewarnai kunjungan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa ke lokasi pengungsian warga Patahuwe Taniwel, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Senin (14/9/2026).

Di tengah tenda pengungsian, Lewerissa menemui anak-anak Patahuwe yang sementara menjalani trauma healing  Tatapan dan wajah ceria anak-anak di tengah kondisi yang masih penuh keterbatasan membuat Gubernur tak kuasa menahan haru hingga meneteskan air mata.

Kunjungan itu dilakukan Lewerissa setelah dirinya mendampingi sekaligus menghadiri pembukaan MTQ Nasional XXXI di Semarang, Jawa Tengah. Setibanya di Ambon, ia langsung bertolak ke Patahuwe-Lisabata untuk melihat kondisi warga yang terdampak konflik.

Didampingi Bupati dan Wakil Bupati SBB serta jajaran Forkopimda dan pimpinan OLD teknis terkait, Lewerissa tidak hanya melihat kondisi pengungsi dari dekat, tetapi berbicara langsung dengan anak-anak, orang tua dan warga lanjut usia.

Konflik yang terjadi pada 11 September 2026 itu menyebabkan 27 unit rumah hangus terbakar. Sebanyak 118 kepala keluarga (KK) dengan total ratusan jiwa terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi.

Di hadapan anak-anak pengungsi, Lewerissa menyampaikan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan mereka menghadapi situasi tersebut sendirian.

“Kami senang sekali meskipun sedih juga, senang melihat wajah ceria, ini sesuatu yang luar biasa bagi kita,” ujar Lewerissa dengan nada haru.

Menurutnya, pemerintah bersama Pemerintah Kabupaten SBB akan memastikan kebutuhan anak-anak selama berada di pengungsian tetap terpenuhi, mulai dari makanan, minuman, pakaian seragam hingga layanan kesehatan dan pendampingan psikologis.

Ia juga berharap anak-anak dan warga tidak terlalu lama berada di lokasi pengungsian.

“Kami berharap tinggal di tempat pengungsian kalau bisa jangan terlalu lama, lebih cepat lebih bagus,” katanya.

Pemerintah, lanjut Lewerissa, telah menyalurkan bantuan makanan, pakaian, obat-obatan, tenaga dokter dan psikolog untuk membantu warga melewati masa sulit pascakonflik.

Bantuan juga diberikan kepada warga lanjut usia, termasuk tongkat jalan.

Lewerissa menegaskan, kehadiran pemerintah di tengah warga terdampak merupakan bentuk tanggung jawab negara.

“Membiarkan rakyat kami menghadapi masalah, lalu kami tidak peduli, itu tidak mungkin,” tegasnya.

Ia mengakui pemerintah tidak memiliki kemampuan untuk mengembalikan keadaan seperti sebelum konflik terjadi. Namun, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk hadir, membantu masyarakat dan memastikan proses pemulihan berjalan.

“Kami manusia terbatas, kami tidak punya kemampuan untuk membalikan keadaan yang sudah terjadi, tapi kami hadir sebagai pemerintah, menunjukan sikap bahwa kami peduli dan kami bertanggung jawab,” ujarnya.

Bagi Lewerissa, kerusakan fisik dapat diperbaiki. Pemerintah Provinsi Maluku dan Pemerintah Kabupaten SBB bahkan telah bersepakat untuk membangun kembali rumah warga yang hancur serta memperbaiki bangunan yang mengalami kerusakan.

Namun, ia menyebut ada pekerjaan yang jauh lebih sulit dibandingkan membangun kembali rumah.

“Kalau katong pung anggaran ada, membangun fisik itu gampang saja, tapi yang paling sulit bagi pemerintah yaitu membangun persaudaraan, memelihara perdamaian, merekatkan hubungan sosial,” katanya.

Karena itu, ia meminta seluruh pihak ikut membantu pemerintah memulihkan kembali hubungan persaudaraan masyarakat Patahuwe dan Lisabata.

Lewerissa juga kembali mengingatkan masyarakat untuk menahan diri dan tidak terprovokasi oleh informasi yang dapat memperkeruh keadaan.

Ia meminta masyarakat mempercayakan proses pengusutan peristiwa tersebut kepada aparat penegak hukum serta tidak menyebarkan hoaks maupun informasi yang tidak benar.

“Jangan terhasut lagi. Percayakan semuanya kepada aparat penegak hukum,” tegasnya.

Kepada warga yang masih berada di pengungsian, Lewerissa memastikan pemerintah akan terus berupaya mencari solusi agar mereka dapat segera kembali menjalani kehidupan secara normal.

Sementara itu, dalam pertemuan bersama Gubernur dan Bupati SBB, masyarakat Lisabata menyampaikan komitmen untuk menjaga situasi tetap aman dan memastikan tidak ada lagi persoalan yang berkembang di kemudian hari.

Pos terkait