Safe Maluku dari Kemiskinan

Ambon, Maluku Post.com – Kondisi terkini Maluku sudah sangat memprihatinkan. Meskipun merupakan salah satu provinsi tua di Indonesia, tetapi Maluku merupakan provinsi termiskin keempat dari 34 provinsi yang ada.

Ironisnya, status ini disandang Maluku di tengah melimpahnya Sumber Daya Alam (SDA), baik dari sektor perikanan, Migas dan mineral. Hal itu berbanding lurus dengan kondisi kesehatan dan pendidikan.

Kondisi yang memprihatinkan ini, sudah selayaknya diubah. Semua pihak harus bergerak mengambil porsi untuk menyelamatkan dan melindungi Maluku, dari kemiskinan maupun kerusakan lingkungan akibat eksploitasi SDA yang tidak ramah lingkungan. Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Archipelago Solidarity Foundation Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina dalam Pemutaran Film Dokumenter ’’Kabaressi” dan Diskusi ’’Safe Maluku” di Hotel Mandarin Jakarta, pekan kemarin.

Diskusi yang dipandu Wartawan Kompas, Tri Agung Kristanto itu menghadirkan narasumber mantan Rektor Universitas Pattimura, Prof. Dr. Mus Huliselan, DEA; Pembantu Rektor Unpatti Prof. Dr. Nus Sapteno; Deputi ESDM Dr. William Sabandar dan Wartawan Tempo, Bina Bektiati.

Diskusi itu diawali dengan pemutaran film ’’Kabaressi” yang merupakan rekaman perjuangan Pattimura dan sejumlah pahlawan di Maluku. Film yang disutradarai Chris Pelamonia ini juga menelusuri jejak lokasi bersejarah di Maluku, termasuk keindahan alam bumi Maluku.

Menurut Engelina, pihaknya merespon keinginan forum dalam acara mengenang Martha Christina Tiahahu pada Januari 2015 lalu. Ketika itu muncul usulan, agar diupayakan pembuatan film mengenai tokoh-tokoh Maluku.

“Merespon usulan itulah, kami dari Archipelago Solidarity Foundation dengan berbagai keterbatasan mencoba membuat langkah kecil, yang kiranya menginspirasi berbagai pihak untuk membuat film yang jauh lebih baik dan sempurna sebagai sebuah film,” tutur Engelina.

Dalam kesempatan itu, Engelina mengharapkan semua pihak untuk mengambil bagian yang positif sehingga dapat berkontribusi untuk menyelamatkan Maluku. Dia juga menyoroti eksploitasi sumber daya alam, seperti ikan, Migas dan pertambangan, yang tidak membawa dampak signifikan bagi masyarakat Maluku. Engelina khawatir, masyarakat hanya menjadi korban dari eksploitasi SDA.

“Ada banyak keanekaragaman hayati yang hanya ada di Maluku, sehingga semua harus menjaga lingkungan hidup. Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin sekecil apapun,” tuturnya.

Sementara itu, Sabandar mengatakan, Maluku harus memperhatikan penguatan kepemimpinan lokal, sebab penguatan kepemimpinan itu akan memunculkan potensi untuk menyuplai kepemimpinan di nasional.

Dia mengatakan, apapun sistem yang digunakan dalam melakukan pembangunan, hal itu tetap membutuhkan kepemimpinan yang baik.

“Saya terbuka untuk membantu atau memfasilitasi, jika itu memang dapat saya lakukan,” katanya.

Sapteno mengatakan, Maluku memiliki sejarah panjang untuk menghasilkan pemimpin di berbagai level. Tapi, kondisi Maluku saat ini sangat terpuruk akibat kelemahan dalam bidang pendidikan, sehingga Maluku kesulitan dalam sisi sumber daya manusia yang berkualitas.

Untuk itu, katanya, tidak ada cara lain kecuali bangkit untuk memperjuangkan, sehingga Maluku setara dengan daerah lain. (09)

Pos terkait