Ambon, Maluku Post.com – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ambon sedang menjajaki kerja sama dengan Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI), Amerika Serikat untuk meneliti produktivitas perairan di Kepulauan Raja Ampat, Papua.
“Baru menjajaki, kita masih menunggu respon dari mereka, rencananya penelitian untuk tahun 2016,” kata Kepala Pusat Penelitian Laut Laut Dalam LIPI Augy Syahailatua di Ambon, Jumat (23/10).
Sebagai lembaga riset independen kelautan terbesar di Amerika Serikat, kata dia, WHOI merupakan pilihan yang baik bagi Puslit Laut Dalam untuk meningkatkan kesetaraan dalam proyek penelitian, kepakaran, pengalaman dan kontribusi di bidang penelitian kemaritiman.
“Beberapa tahun terakhir ini kami memang ingin meningkatkan kesetaraan dalam penelitian, kepakaran, pengalaman dan juga kontribusi di bidang kelautan, jadi nanti kami kerjasama ini lebih ke penelitian bersama,” katanya.
Ia mengatakan jika nantinya penjajakan kerja sama dengan WHOI mencapai kesepakatan, maka penelitian di Kepulauan Raja Ampat akan difokuskan pada analisa kualitas air dan hal-hal yang berpengaruh pada produktivitas perairan setempat, seperti suhu, salinitas dan kadar garam.
Dari hasil itu, maka bisa dianalisa hubungan antara keanekaragaman biota laut dengan tingkat produktivitas dari perairan.
“Banyak hal yang menyebabkan Kepulauan Raja Ampat dipilih sebagai tempat penelitian. Daerah ini memiliki tingkat produktivitas perairan yang sangat tinggi, yang ingin kami ketahui, pelajari dan analisa adalah hubungan antara keanekaragaman biota laut dengan tingkat produktivitas dari perairan itu,” katanya.
Selain menjadi salah satu tujuan utama wisata di Indonesia, secara geografi, kata Augy, perairan di sekitar Kepulauan Raja Ampat merupakan salah satu pintu masuk arus lintas Indonesia, yakni kawasan penyeberangan arus Samudera Pasifik ke Samudera Hindia, juga tempat terjadi fenomena bercampurnya massa air laut bagian utara dan selatan Samudera Pasifik.
“Raja Ampat di daerah kepala burung merupakan pintu masuk dari arus lintas Indonesia. Menariknya di situ massa air dari utara dan selatan Samudera Pasifik bercampur dan massa air dari pasifik selatan menjadi fenomena yang menarik untuk diteliti,” ucapnya. (MP-3)


