Ambon, Maluku Post.com – Penertiban penambang emas ilegal di Gunung Botak, Kabupaten Buru yang dilakukan pemerintah bersama TNI dan Polri diharapkan terus berlanjut hingga tuntas.
“Kami menyambut positif langkah tegas pemerintah untuk melakukan penertiban, tetapi diharapkan upaya ini dilakukan secara berkesinambungan hingga para penambang emas ilegal itu tidak kembali lagi ke lokasi,” kata Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Aliansi Indonesia Kabupaten Buru, Putra Baman, yang dihubungi dari Ambon, Minggu (15/11).
Menurut dia, saat ini tim gabungan yang melakukan penyisiran di sekitar lokasi Gunung Botak telah membersihkan areal penambangan emas ilegal tersebut dengan membongkar ribuan tenda-tenda milik penambang liar.
“Langkah ini perlu ditempuh pemerintah dan aparat keamanan mengingat pengalaman tahun-tahun sebelumnya yang sidah diambil sikap tegas menutup lokasi Gunung Botak, namun beberapa hari kemudian aktivitasnya kembali berjalan seperti biasa,” katanya.
Penertiban tuntas, kata dia, diperlukan mengingat dampak negatif penggunaan bahan-bahan kimia untuk proses pemurnian emas terhadap lingkungan sekitar Gunung Botak hingga pesisir Teluk Kaiyeli sudah terlihat dari matinya buaya yang hidup di sekitar kawasan hutan bakau, selain ternak sapi milik warga, hingga tanaman sagu dan coklat.
Putra menegaskan, tetap masuknya ribuan penambang dari berbagai penjuru tanah air ke Gunung Botak yang telah ditutup pemerintah merupakan akibat sekelompok orang yang memberikan izin masuk dengan cara menjual karcis.
Setelah para penambang melakukan aktivitas penggalian material, ada lagi kelompok lain yang datang melakukan pungutan liar dan memprovokasi mereka bahwa penambangan emas tetap berjalan seperti biasa.
“Peran aktif para pemasok sianida dan bahan beracun lainnya yang dipakai memurnikan emas juga sangat besar, karena bisnis mereka selama ini berjalan aman,” katanya.
Sehubungan dengan itu, lanjutnya, pemerintah dan aparat keamanan diharapkan mengawasi setiap kapal yang masuk di Pelabuhan Namlea, terutama kapal-kapal barang yang leluasa membawa bahan kimia beracun tersebut.
“Apalagi pembongkaran bahan kimia tersebut selalu dilakukan tengah malam sehingga sulit diawasi,” kata Putra. (MP-2)


