Ambon, Maluku Post.com – Masyarakat adat Buru membantah telah melakukan pengrusakan terhadap stopal milik Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dan dua pos polisi. Bantahan ini disampaikan Ketua LSM parlemen jalan Buru Arif Soamolle di Ambon, Sabtu (6/2).
“Kami sudah menyampaikan hal ini kepada Wakil Gubernur Zeth Sahuburua, bahwa kekacauan yang terjadi di gunung botak tidak dilakukan oleh masyarakat adat, tetapi dilakukan oleh oknum-oknum yang ingin mengadudombakan masyarakat adat dengan perusahaan dan pemerintah,”ujarnya.
Ungkapnya, kekacauan yang terjadi bisa saja merupakan permainan dari pengusaha-pengusaha sendimen merkuri yang selama ini tidak tersentuh dengan hukum.
“Kami selaku masyarakat adat telah dizholomi, karena tidak semerta masyarakat adat berkarakter rusak, melainkan masyarakat adat berperilaku budidaya adat yang mengajarkan rasa kasih sayang dengan semangat rete mena bara sehe,”ucapnya.
Menindaklanjuti hal ini, pihaknya sudah melakukan monitoring dan akan melaporkannya kepada Kapolda Maluku, Pangdam XVI Pattimura, Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku dan Gubernur.
Untuk diketahui, tambang illegal gunung botak pada Minggu (31/1), sekitar pukul 15.00 WIT terjadi insiden pembakaran. Dimana masa yang diduga merupakan masyarakat adat dengan menggunakan mobil pick up Estrada sekitar 17 unit mendatangi lokasi Wasboli. Dimana lokasi tersebut merupakan tempat penyimpanan material pasir yang diangkut dari Dusun Anhoni.
Kedatangan ratusan massa itu langsung menyerang PT BPS dan melakukan pembakaran serta pengrusakan terhadap dua pos dan camp karyaean PT BPS.(MP-7)


