Ambon, Malukupost.com – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua mengatakan, dalam upaya memperbaiki kondisi ekonomi Provinsi Maluku, dibutuhkan dukungan dan kerjasama dengan stakeholder terkait lainnya.
“Berdasarkan data Bank Indonesia ini, saya hanya ingin menunjukkan beberapa data ekonomi makro yang bergerak positif baik, karena kolaborasi kita untuk terus berupaya memperbaiki kondisi ekonomi provinsi Maluku. Tentu secara jujur harus dikatakan bahwa, pemerintah daerah Provinsi Maluku tidak dapat bekerja sendiri, tanpa didukung oleh kita semua dan stakeholders lainnya,”ujar Pelaksanaan Tugas (Plt) Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua dalam sambutannya yang disampaikan Asisten III Bidang Pengembangan Ekonomi, Investasi, Keuangan dan Administrasi Pembangunan Setda Maluku, Zulkifli Anwar pada acara Pembukaan Diseminasi Kajian Ekonomi Dan Keuangan Regional (Kekr) Provinsi Maluku Edisi Februari 2018 yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, di Ambon, Selasa (20/3).
Sahuburua juga mengapresiasi langkah yang dilaksanakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku karena tetap setia dalam tugas tanggungjawab mendiseminasikan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Maluku, untuk Edisi Februari 2018, pada kesempatan tersebut.
“Ketika bank Indonesia melaksanakan Diseminasi, maka kita semua akan sangat paham bahwa Diseminasi adalah suatu kegiatan yang ditujukan kepada kelompok target atau individu agar mereka memperoleh informasi, kemudian timbul kesadaran, untuk menerima, dan akhirnya memanfaatkan informasi tersebut untuk berbagai kepentingan pembangunan,”ungkapnya.
Dijelaskan Sahuburua, kegiatan tersebut merupakan tindak inovasi yang disusun dan disebarannya berdasarkan sebuah perencanaan yang matang dengan pandangan jauh ke depan. Karena kegiatan tersebut, adalah proses penyebaran inovasi yang direncanakan, diarahkan, dan dikelola berdasarkan data-data yang valid dan terukur secara kuantitatif.
“Oleh karena itu, kita patut bersyukur bahwa data kondisi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) yang nanti akan disajikan oleh pihak Bank Indonesia, dapat kita lihat perkembangan pembangunan ekonomi dan kondisi keuangan sampai dengan bulan februari 2018. Saya percaya sungguh bahwa data-data yang akan disajikan merupakan bagian dari hasil kerja dan kinerja kita bersama sejak akhir tahun 2017 yang lalu. Sehingga kinerja kita akan terukur dengan data ini,”katanya.
Menurut Sahuburua, secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi daerah Maluku pada keseluruhan tahun 2018 diperkirakan berada di rentang 5,71% hingga 6,11%, sedikit meningkat dibandingkan pada keseluruhan tahun 2017 yang tumbuh 5,81%.
“Pertumbuhan ekonomi ini diperkirakan didorong oleh terus membaiknya dektor perikanan, seiring meningkatnya produksi dan ekspor perikanan. Investasi baru dalam sektor perikanan dan konstruksi terpantau meningkat mulai akhir tahun 2017 dan diperkirakan akan terus berlanjut hingga akhir 2018,’’tandasnya.
Menurut Sahuburua, pertumbuhan ekonomi Provinsi Maluku pada triwulan II – 2018, diperkirakan tumbuh stabil dalam rentang 5,86% – 6,26%.
“Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I – 2018 didorong oleh membaiknya kinerja Lapangan usaha Pertanian dan Perikanan,’’ imbuhnya.
Diungkapkan Sahuburua, membaiknya Sub Sektor Perikanan didorong oleh kondisi cuaca yang membaik. Selain itu, harga udang internasional diperkirakan stabil dan harga tuna internasional diperkirakan meningkat pada 2018, berdasarkan analisis Food and Agriculture Organization (FAO).
“Pertumbuhan ekonomi di awal tahun 2018 juga akan cukup terdorong dari lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran, seiring adanya arus barang masuk yang meningkat di awal tahun,’’ imbuhnya.
Sahuburua menandaskan, untuk Inflasi tahunan Provinsi Maluku pada triwulan IV-2017, lanjutnya, terpantau relatif terkendali, yang ditunjukkan oleh penurunan angka inflasi dibandingkan dengan periode triwulan sebelumnya.
“Realisasi inflasi Maluku tercatat sebesar 0,78%, atau menurun dibandingkan triwulan III-2017 yang tercatat sebesar 3,85%. Realisasi inflasi tersebut cukup terkendali dan masih berada di bawah sasaran inflasi Maluku tahun 2017 berdasarkan roadmap pengendalian inflasi yang disusun oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Maluku yaitu sebesar 4,5% ± 1% yang juga dapat mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional,’’ bebernya.
Sahuburua menambahkan, rendahnya laju inflasi tahunan Provinsi Maluku pada triwulan IV-2017 dibandingkan triwulan sebelumnya dipicu oleh rendahnya Inflasi Kelompok Transportasi, khususnya pada subkelompok angkutan udara. Sejalan dengan meredanya inflasi pada kelompok angkutan udara, tekanan inflasi kelompok bahan makanan juga terpantau mereda.
“Dengan mempertimbangkan perkembangan harga di masyarakat dan risiko-risiko inflasi pada triwulan I-2018, laju inflasi Maluku untuk keseluruhan tahun 2018 diperkirakan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu berada dalam rentang 3,5% – 3,9%. Berdasarkan data inflasi sampai dengan Januari 2018, inflasi tahun kalender Maluku mencapai 0,58% atau secara tahunan mencapai 1,10%,’’ pungkasnya. (MP-7)


