Di Hulaliu, Obor Pattimura Diarak Dari Marsala Ke Asari Lounusa

Hulaliu, Malukupost.com - Benteng Hatu Marsala di sebelah barat Negeri Hulaliu, Haruku, biasanya hening. Namun benteng pertahanan Thomas Matulessy itu, Selasa (15/5) dinihari menjadi berubah jadi ramai. Orang-orang Hulaliu dipimpin keluarga Matulessy sudah berada di sana sejak malam hari.
Prosesi pembuatan unar untuk obor Pattimura di depan Batu Kapitan, Benteng
Marsaa, Hulaliu
(revelino berry)

Hulaliu, Malukupost.com – Benteng Hatu Marsala di sebelah barat Negeri Hulaliu, Haruku, biasanya hening.  Namun benteng pertahanan Thomas Matulessy alias Pattimura  itu, Selasa (15/5) dinihari menjadi berubah jadi ramai.  Orang-orang Hulaliu dipimpin keluarga Matulessy sudah berada di sana sejak malam hari.

Menjelang subuh, di depan batu kapitan, seorang pria mengambil dua bilah bambu. Ia menggesek-gesek secara berulang sampai menghasilkan bara dan nyala.  Api kemudian dinyalakan pada obor.  Inilah obor Pattimura.

Orang-orang memekik dengan teriakan heroik.  Mereka menuruni Benteng Hatu Marsala yang menurut tradisi setempat, inilah Benteng Pertahanan Pattimura. Di sinilah diatur strategi penyerangan ke Benteng Duurstede, Mei 1817.

Rombongan pembawa obor Pattimura meninggalkan benteng, melewati gua alam, tempat tinggal Thomas Matulessy, dan makam Residen van den Berg, istri dan dua anaknya.  Makam tersebut terletak di dekat rumah Thomas di wilayah Hatu Marsala.

Secara heroik, rombongan pembawa obor berlari menempuh jarak sekitar empat kilometer menuju Negeri Hulaliu.   Pada saat bersamaan, di negeri Hulaliu warga sudah tidak sabar menanti kedatangan Obor Pattimura.

Cakalele kabaresi di Hulaliu Haturessy Rakanyawa (revelino berry)

Sekitar pukul 04.30, para penari cakalele berkumpul lalu bergerak menuju ke Baileu Asari Lounusa.  Mereka bergerak secara berkelompok menurut kelompok Soa yakni Soa Taihutu, Soa Noya, dan Soa Siahaya. Tiga kelompok masuk berurutan kemudian berusaha memeluk tiang soa masing-masing di dalam baileu.

Hiruk pikuk suara rombongan cakalele membuat negeri menjadi meriah, sebab selama perjalanan dari titik kumpul sampai ke asari, rombongan diiring tetabuhan tifa dan tiupan tahuri. Mereka meraung, berteriak histeris sebagaimana orang kerasukan.

Situasi menjadi hening ketika prosesi dilanjutkan di dalam asari dengan baca pasawari. Pasawari dilakukan oleh Jopie Siahaya dari Soa Siahaya. Selesai pasawari, rombongan keluar, kembali ke rumah masing-masing. Mereka mempersiapkan diri dan alat parang untuk menyambut kedatangan obor dari bukit Benteng Marsala.

Sekitar pukul 07.00 pagi, rombongan pembawa obor yang dipimpin Thomas Matulessy, tiba di dalam negeri. Rombongan dijemput penari cakalele Soa Noya.  Obor diarak menuju titik penjemputan oleh tim cakalele Soa Siahaya dan Taihutu. Dari sana, obor diarak menuju Asari Lounusa, dan dipancang di halaman asari.

Dalam suasana hening dan haru, warga Hulaliu duduk di dalam dan sekeliling baileu. Silsilah pahlawan nasional Thomas Matulessy dibacakan oleh keturunannya yang keenam Thomas Matulessy. Ia memaparkan asal-usul, fakta-fakta pendukung, termasuk tanah dati Matulessy yang terdaftar dalam register negeri.

Dalam paparan sejarah, diungkapkan Thomas dicari oleh Belanda sehingga dilakukan penggantian fam Matulessy menjadi Lessiputih,  dan adanya pembantaian Salatnaya di Kariu, akibat informasi palsu dari Raja Hulaliu kepada Belanda, demi menyelamatkan keluarga Matulessy.

Dalam orasi ini, Matulessy dan warga Hulaliu menggugat keputusan pemerintah dan tim sejarah Pattimura yang dianggap keliru dalam menetapkan kesejarahan Thomas Matulessy Hulaliu.

Thomas menuturkan, keluarga Matulessy pernah memberikan semua bukti sejarah yang dibuat sebelum Indonesia Merdeka, namun tim sejarah Pattimura mengabaikannya.

Peringatan Hari Pattimura ke-201 ini diakhiri dengan tarian cakalele gabungan dari anggota tiga soa yakni Noya, Taihutu dan Siahaya di depan asari.

Thomas Matulessy kepada Media Maluku Online di Hulaliu menyebutkan, peringatan Hari Pattimura di Hulaliu, sudah pernah dilakukan sejak lama. Pada tahun 1999, akibat konflik di Maluku, perayaan terhenti.  Ia memastikan, setiap tahun perayaan hari Pattimura akan tetap dilakukan di Hulaliu. (Revelino Berry-Rudi Fofid)

Pos terkait