AMBON, MalukuPost.com – Proyek Gas Abadi Blok Masela digadang-gadang akan menjadi lokomotif baru pertumbuhan ekonomi Maluku. Namun di balik peluang investasi bernilai ratusan triliun rupiah tersebut, terdapat tantangan besar yang harus segera dijawab dunia usaha lokal, yakni kesiapan untuk bersaing dan terlibat dalam proyek strategis nasional itu.
Kesadaran itulah yang mendorong Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Maluku menggelar diskusi bertajuk “Blok Masela, Peran Dunia Usaha dan Prospek Ekonomi Maluku” di Coffee Ujung JMP, Ambon, Sabtu (20/6/2026).
Diskusi menghadirkan sejumlah akademisi dan pelaku usaha, di antaranya Dr. Hanok Mandaku, Dr. Agustinus Ufie, Ketua DPP Apindo Maluku Roberth Tanama, serta Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Maluku, Dr. Anton A. Lailossa, termasuk Ketua KADIN Maluku, M. A. S Latuconsina.
Usai diskusi, Latuconsina kepada wartawan mengungkapkan bahwa diskusi merupakan tindak lanjut dari hasil kajian yang dilakukan Universitas Pattimura bersama INPEX terkait kesiapan dunia usaha Maluku menghadapi pembangunan Proyek Gas Abadi Masela.

“Kita harus jujur melihat kondisi ini. Jangan sampai kita terlalu bersemangat menyambut Masela, tetapi ketika proyek berjalan justru tidak siap mengambil bagian di dalamnya,” kata Latuconsina.
Meski demikian, ia menilai peluang masih terbuka lebar. Pasalnya, tahapan konstruksi utama proyek masih akan berlangsung sekitar satu setengah tahun lagi. Waktu tersebut harus dimanfaatkan untuk membenahi berbagai kelemahan yang masih dimiliki pelaku usaha lokal.
Menurutnya, KADIN sebagai organisasi induk dunia usaha memiliki tanggung jawab untuk memastikan pengusaha Maluku tidak hanya menjadi penonton ketika proyek terbesar di kawasan timur Indonesia itu mulai berjalan.
“Kita tidak ingin masyarakat dan pengusaha Maluku hanya menyaksikan proyek ini dari luar pagar. Kita harus menjadi bagian dari rantai bisnis yang tercipta. Tetapi untuk sampai ke sana, kita harus siap,” tegasnya.
Latuconsina menjelaskan, peluang dalam proyek Masela tidak hanya terbuka pada sektor konstruksi, tetapi juga pada berbagai bidang jasa dan pengadaan barang yang berkaitan dengan industri minyak dan gas. Namun sebagian besar pekerjaan tersebut membutuhkan standar teknis, administrasi, dan manajemen yang ketat.
Karena itu, KADIN mulai mendorong agenda besar peningkatan kapasitas vendor lokal. Mulai dari pembenahan administrasi perusahaan, kepatuhan perpajakan, penguatan modal usaha, hingga pemenuhan berbagai sertifikasi yang menjadi syarat untuk bermitra dengan perusahaan nasional maupun internasional.
“Kalau kita ingin dipercaya vendor nasional atau perusahaan besar, maka perusahaan kita juga harus siap. Administrasi harus jelas, legalitas lengkap, kantor ada, laporan keuangan baik, dan memiliki rekam jejak yang bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Sebagai Direktur PT Maluku Energi Abadi (MEA) yang mengelola Participating Interest (PI) 10 persen Blok Masela, Latuconsina mengaku memiliki kepentingan besar agar manfaat ekonomi proyek tersebut benar-benar dirasakan masyarakat Maluku.
Menurutnya, hasil diskusi akan ditindaklanjuti dalam bentuk rekomendasi dan langkah-langkah konkret untuk mempercepat peningkatan kualitas pelaku usaha lokal.
Upaya tersebut juga tidak hanya difokuskan di Kota Ambon, tetapi akan melibatkan pelaku usaha di seluruh kabupaten dan kota di Maluku, terutama dua daerah yang akan menerima dampak langsung proyek Masela, yakni Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD).
“Kita ingin momentum Masela menjadi titik kebangkitan ekonomi Maluku. Jika investasi ini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan melibatkan pengusaha lokal secara maksimal, maka dampaknya akan terasa pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penurunan angka kemiskinan,” katanya.
Ia optimis dengan persiapan yang matang dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, proyek Gas Abadi Masela tidak hanya menjadi kebanggaan nasional, tetapi juga menjadi jalan bagi lahirnya pengusaha-pengusaha Maluku yang lebih kuat, lebih profesional, dan mampu bersaing di level nasional maupun global.


