Wali Kota Tual Pimpin High Level Meeting TPID, Ini yang Jadi Sorotan

Wali Kota Tual, H. Akhmad Yani Renuat, S.Sos., M.Si., M.H, saat membuka High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Tual di Aula Kantor Wali Kota setempat, Selasa (11/8/2026).

Tual, MalukuPost.com – Wali Kota Tual Akhmad Yani Renuat menyoroti tingginya angka inflasi di Kota Tual yang sempat mencapai 7,97% pada Januari 2026.

Di tengah tren inflasi yang mulai menurun, Pemkot Tual kini mewaspadai dampak El Nino terhadap produksi pangan dan distribusi barang.

Hal itu disampaikan Akhmad Yani saat membuka High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Tual di Tual, Selasa (11/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Wali Kota Tual didampingi wakilnya Amir Rumra.

Hadir pula Penjabat Sekretaris Daerah, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Maluku, Sales Branch Manager (SBM) Maluku II Pertamina Petra Niaga Cabang Ambon, perwakilan Kepala BMKG Provinsi Maluku, Para Staf Ahli  dan Staf Khusus Wali Kota Tual,  Pimpinan Perangkat Daerah, Pimpinan Instansi Vertikal, serta Asisten SEKDA, Pimpinan BUMN dan Perbankan, para Camat, Ketua Kadin, tokoh agama dan masyarakat.

Akhmad Yani mengatakan perkembangan cuaca dan iklim menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi kondisi perekonomian serta kesejahteraan masyarakat.

“Pelaksanaan kegiatan ini sangat penting bagi kita dalam rangka mengantisipasi perkembangan cuaca dan iklim yang sangat memengaruhi kondisi perekonomian di Kota Tual dan akan berdampak terhadap upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan di Kota Tual,” kata Akhmad Yani.

Dia menjelaskan Indeks Harga Konsumen (IHK) menjadi salah satu indikator untuk mengukur tingkat inflasi dan daya beli masyarakat.

Perubahan IHK dapat berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi dan harga kebutuhan pokok sehari-hari.

Karena itu, Pemkot Tual melalui TPID terus melakukan berbagai langkah pengendalian inflasi. Strateginya mencakup keterjangkauan harga, ketersediaan stok, kelancaran distribusi, serta penguatan koordinasi dan komunikasi TPID.

“Dan saya kira juga termasuk di dalamnya upaya untuk menghasilkan produk-produk ketahanan pangan dan pertanian di daerah,” ujarnya.

Akhmad Yani mengungkapkan angka inflasi Kota Tual mengalami fluktuasi cukup tajam sepanjang tujuh bulan pertama 2026.

Inflasi year on year pada Januari tercatat 7,97%. Angka tersebut kemudian turun menjadi 6,77% pada Februari dan 5,69% pada Maret. Sementara pada Juli, inflasi berada di posisi 3,55%.

Menurutnya, penyumbang inflasi tertinggi secara year on year berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau. Setelah itu, kelompok transportasi yang mencakup bahan bakar dan bensin.

“Meskipun masih di atas target nasional 2,5% plus minus 1%, namun tim pengendali inflasi daerah Tual tetap semangat dalam koordinasi, kolaborasi dan komunikasi,” katanya.

Dia mengatakan TPID Kota Tual tetap berupaya mengendalikan inflasi di tengah kebijakan efisiensi anggaran secara nasional dan pengaruh cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino.

Kondisi cuaca tersebut menyebabkan penurunan curah hujan sehingga sejumlah wilayah menjadi lebih kering, terutama pada Juni, Juli dan Agustus. Hal itu dinilai berpotensi memengaruhi produksi pertanian.

“Kalau saya lihat dari tren perkembangan angka inflasi, mengalami tren perkembangan angka yang menurun. Namun demikian tentunya dengan perkembangan iklim cuaca El Nino ini bisa saja mengkhawatirkan kita pada kecenderungan atau tren perkembangan dalam dinamika saat ini,” jelasnya.

Meski begitu, Akhmad Yani optimistis seluruh pihak dapat mengambil langkah strategis melalui High Level Meeting TPID untuk menjaga tren penurunan inflasi.

“Saya merasa optimis pada semua pihak melalui pertemuan ini dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi perkembangan dan terus bisa memacu tren perkembangan yang menurun di bawah angka nasional,” ujarnya.

“Ini adalah harapan saya,” sambungnya.

Akhmad Yani mengatakan fenomena El Nino sejak Juni 2026 mulai terasa di sejumlah wilayah Kota Tual, terutama kawasan kepulauan.

Dampaknya antara lain ketersediaan air bersih dan air minum yang terganggu. Kekeringan berkepanjangan juga berpotensi memicu kebakaran hutan yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan mengganggu aktivitas masyarakat.

“Dampak lain yang terjadi adalah pengaruh cuaca ekstrem, angin kencang dan gelombang tinggi membatasi transportasi antar pulau sehingga sangat mengganggu distribusi barang dan jasa,” katanya.

Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk meningkatkan produksi pangan lokal.

Sejumlah komoditas pangan seperti enbal, keladi dan ubi jalar dapat ditanam masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan lokal.

Karena itu, dia menilai diperlukan sinergi dan kolaborasi untuk mengantisipasi serta memitigasi dampak El Nino sebagai bagian dari upaya pengendalian inflasi di Kota Tual.

Akhmad Yani meminta seluruh pimpinan OPD agar hasil High Level Meeting TPID tidak berhenti sebagai pengetahuan atau bahan pembahasan. Menurutnya, seluruh hasil pertemuan harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

“Saya berharap perkembangan yang ada tidak menjadi pemahaman dan pengetahuan belaka, akan tetapi perlu dapat ditindaklanjuti. Apa yang dicerna, apa yang dipahami itu harus dilakukan dengan tindakan kita secara bersama-sama,” tegasnya.

Dia mengingatkan pemahaman tanpa tindakan dapat menjadi kegagalan dalam menjalankan tugas.

“Terkadang kita cuma hanya bisa memahami, tapi tidak ada pergerakan tindakan untuk menindaklanjuti apa yang telah kita pahami secara bersama-sama. Dan ini menjadi sebuah proses kegagalan kita hanya sebatas mampu memahami saja,” katanya.

Karena itu, dia meminta seluruh pimpinan SKPD memperkuat koordinasi dengan perangkat pemerintahan, instansi vertikal, BUMN, BUMD dan pihak lain yang memiliki kompetensi dalam menangani persoalan inflasi.

“Karena ini bukan persoalan biasa, tetapi ini persoalan yang sungguh sangat membutuhkan perhatian dari kita semua,” ujarnya.

Akhmad Yani juga menekankan pentingnya tanggung jawab moral setiap pihak dalam menjalankan tugas.

Dia meminta seluruh pihak menempatkan diri sesuai peran dan tanggung jawab masing-masing dalam menghadapi persoalan yang terjadi.

“Ini sangat penting bagi kita semuanya dan apabila kita tidak melaksanakan tanggung jawab kita secara bermoral terhadap apa yang kita hadapi, tuntutan tugas-tugas kita sama-sama, maka kita berdosa terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, berdosa atas beban tugas yang diberikan, kepercayaan yang diberikan kepada kita,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Wali Kota Tual menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh mitra pemerintah yang mendukung pelaksanaan High Level Meeting TPID.

Di antaranya Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Maluku, BMKG Provinsi Maluku, Forkopimda, DPRD Kota Tual, BPS, serta seluruh pihak yang memberikan dukungan moril maupun materil.

“Sehingga pelaksanaan High Level Meeting dalam rangka pengendalian inflasi pada hari ini dapat terlaksana dengan baik,” katanya.

Akhmad Yani berharap seluruh pihak terus memperkuat koordinasi dan kolaborasi dalam menghadapi tantangan inflasi, cuaca ekstrem, produksi pangan dan distribusi barang di Kota Tual.

Pos terkait