AMBON, MalukuPost.com – Wacana suksesi Kapolri kembali menghangat. Di tengah munculnya sejumlah nama yang berpotensi mengisi kursi orang nomor satu di Korps Bhayangkara, Komjen Pol Marthinus Hukom menjadi salah satu figur yang dinilai memiliki rekam jejak kuat untuk diperhitungkan.
Akademisi bidang kesejahteraan sosial, governance, dan kebijakan publik, Dr. Hobarth Williams Soselisa, S.Sos., M.Si., menilai perjalanan karier Hukom menunjukkan pengalaman yang tidak dibangun dalam waktu singkat.
Menurut Soselisa, rekam jejak Hukom penting dilihat secara institusional, terutama dari pengalaman panjangnya di bidang pemberantasan terorisme dan narkotika.
“Rekam jejak Hukom bukan sekadar narasi politik, melainkan perjalanan institusional yang dapat dilihat dari pengalaman dan penugasannya,” kata Soselisa, Senin (10/8/2026).
Hukom lahir di Negeri Ameth, Kecamatan Nusalaut, Maluku Tengah, pada 30 Januari 1969. Ia merupakan lulusan Akademi Kepolisian 1991, satu angkatan dengan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Pendidikan formalnya berlanjut ke Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian pada 2001, Sespimpol pada 2005, hingga Lemhannas RI PPRA LIV pada 2016. Ia juga menempuh Kajian Strategi Intelijen di Program Pascasarjana Universitas Indonesia pada 2018 serta pendidikan doktoral bidang filsafat terorisme di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.
Jalur pendidikan tersebut berjalan beriringan dengan pengalaman operasional. Hukom berkarier di bidang pemberantasan terorisme dan terlibat dalam sejumlah operasi penting, termasuk penangkapan Ali Imron dan Imam Samudra dalam penanganan kasus Bom Bali.
Kariernya mencapai salah satu titik penting ketika dipercaya memimpin Densus 88 Antiteror Polri pada 2020. Posisi tersebut menempatkannya di garis depan penanganan ancaman terorisme di Indonesia.
Pada 8 Desember 2023, Presiden Joko Widodo menunjuk Hukom sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional. Perpindahan tersebut memperluas pengalaman kepemimpinannya dari penanganan terorisme ke pemberantasan narkotika.
Salah satu operasi besar yang menonjol di bawah kepemimpinannya adalah pengungkapan penyelundupan sekitar dua ton sabu di Kepulauan Riau.
Bagi Soselisa, pengalaman di Densus 88 dan BNN memberikan Hukom modal yang relevan untuk dipertimbangkan dalam bursa Kapolri.
“Kalau indikatornya adalah kompetensi operasional, pengalaman memimpin institusi dan rekam kerja dalam menghadapi ancaman keamanan nasional, Hukom memiliki pengalaman yang panjang,” ujar Soselisa.
Ia menilai pemilihan Kapolri idealnya tidak hanya didasarkan pada senioritas, tetapi juga kemampuan manajerial, integritas dan sensitivitas terhadap keberagaman Indonesia.
“Kapolri membutuhkan kombinasi antara kemampuan operasional, manajerial, integritas dan kemampuan membaca perubahan ancaman keamanan,” kata dia.
Nama Hukom juga mendapat perhatian dari sejumlah kalangan di luar institusi Polri. Organisasi masyarakat sipil pemerhati kepolisian GPK RI menyebut perjalanan kariernya sebagai rekam jejak yang kuat untuk dipertimbangkan dalam bursa Kapolri. Sejumlah praktisi hukum di Maluku juga menilai pengalaman Hukom dalam pemberantasan terorisme dan narkotika menjadi modal penting.
Bagi Maluku, munculnya nama Hukom dalam percakapan mengenai calon Kapolri memiliki dimensi tersendiri. Ia merupakan putra Negeri Ameth, Nusalaut, yang meniti karier dari kepolisian hingga mencapai pangkat komisaris jenderal.
Namun, menurut Soselisa, latar belakang daerah tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran.
“Yang paling penting adalah rekam pengabdian dan kapasitas. Kebanggaan sebagai putra Maluku tentu ada, tetapi yang harus menjadi pertimbangan utama adalah kemampuan dan rekam kerja untuk memimpin institusi sebesar Polri,” ujarnya.
Lebih dari tiga dekade pengabdian, pengalaman di garis depan pemberantasan terorisme, kepemimpinan di Densus 88, hingga memimpin BNN menjadi bagian dari perjalanan yang kini menempatkan nama Marthinus Hukom dalam percakapan mengenai suksesi Kapolri.
Pada akhirnya, keputusan berada di tangan Presiden. Tetapi ketika bursa Kapolri kembali dibicarakan, rekam jejak menjadi salah satu modal yang sulit diabaikan.
Dan dari rekam jejak itulah nama Marthinus Hukom kini ikut berada di jalan menuju kursi Kapolri.


