Hatu, Nusa, Dan Ombak Besar Dalam Tradisi Lisan Di Maluku

  • Whatsapp
Oleh Rudi
Fofid-Ambon

Janganlah sebut bencana, tetapi sebutlah
peristiwa alam
(Doni
Monardo)

Orang Maluku sangat
intim dengan peristiwa alam yang hebat, baik dalam skala kecil maupun besar.  Setiap peristiwa melahirkan pengalaman
spiritual maupun pengalaman intelektual. 
 Semua itu mendewasakan manusia
Maluku dan menyempurnakan kebudayaannya. 

Narasi besar tentang
alam semesta di Maluku tersimpan dalam tradisi lisan.  Tradisi lisan berupa cerita, nyanyian, maupun
situs dan artefak, tersebar di pulau-pulau dan menjadi kenangan bersama dari
masa ke masa.   Mungkin karena kemajuan
teknologi, narasi penting ini kurang popular. 
Padahal, cerita rakyat maupun lagu rakyat menjelaskan peristiwa alam
secara tenang, tidak panik,  tidak horor,
dan penuh hikmah kebijaksanaan. 

Beberapa petikan
dalam tulisan ini, tidak dimaksudkan menimbulkan efek horor.  Justru dengan menyadari keintiman orang
Maluku dengan peristiwa alam yang hebat, baik dalam sejarah maupun mitos, kita
akan menjadi semakin tenang untuk menghadapi hari-hari gempa bumi sejak 26 September
lalu, gempa hoaks, dan gempa kerasukan.

Mari kita lihat cerita
rakyat  popular di Maluku “Batu Badaong”.  Dalam cerita ini, seorang perempuan berbicara
kepada batu.

“Batu
badaong, batu lah batangke
Buka
mulutmu, telankan beta”
Betapa akrabnya perempuan itu dan batu.  Ia bisa ajak bicara.  Batu menurut, dan terjadilah perempuan itu
masuk ke dalam baru itu.
Dalam cerita rakyat Nene Luhu, topi Ta Ina Luhu yang
berkuda, diterbangkan angin.  Topi jatuh
ke laut dan menjelma batu capeo. Demikianlah narasi selalu menjelaskan atau
dijelaskan dengan batu.
Maluku memang punya banyak tempat  yang dijelaskan dengan batu.  Batu Gajah, Batu Kerbau, Batu Kuda, Batu
Meja, Batu Merah, Batu Badiri, Batu Layar, Batu Koneng, Batu Gong.  Dalam Bahasa Uliase, ada nama Hatu (batu).  Ada pula tempat bernama Hatukau, Haturesi,
Hatusua,

Rapper Morika Tetelepta dan Hayaka Nendissa menemukan kapata yang hidup dalam masyarakat Maluku Tengah dengan diksi “hatu”.   Sei hale hatu, hatu lisa pei (siapa bale batu, batu bale tindis dia).  Keduanya mengabadikan kapata ini dalam lagu rap Puritan, dan menjadi lagu yang membakar dalam filem Cahaya Dari Timur: Beta Maluku.
Dalam Bahasa Kei ada kata vat (batu). Di
Kepulauan Kei, ada nama tempat Vatdek,  Vatvangan,
Vatleklek, Vatsit, Vatngon dan sebagainya. 
 Dari semua tempat, nama Vatleklek
sungguh menarik.   Orang Kei menyebut
patahan di Watdek  tersebut sebagai Vatleklek
atau Batu Jatuh.   
Jika verifikasi lapangan dilakukan, maka di
Kawasan Batu Jatuh, bisa dilihat bentuk patahan yang menghasilkan cela sempit
dari Selat Rosenberg ke Tanjung Fid Tilus, sedangkan di patahan itulah terbentuk
Pulau Vair yang terpisah dari Pulau Nuhuroa.
Meskipun nama Vatleklek sudah jarang disebut oleh
kaum milenial, tetapi pemerintah dan warga Maluku Tenggara masih menyebutnya Batu
Jatuh dalam istilah resmi.  Bagi yang melintas di atas Jembatan Vair, tentu pemandangan Batu Jatuh akan secara natural menjelaskan patahan yang pernah terjadi di sini, dan terekam dalam kata Vatleklek.
Masih dari Kei, ada peristiwa alam yang tidak kalah
penting adalah terjadinya Wear Blel di Ngilngof dan Wear Idar di Letman.  Nenek Te Idar mengucapkan sumpah.  Kampung Idar pun tenggelam menjadi Danau
Ablel.  Sementara Te Idar dan anjingnya
kemudian pergi ke Letman dan menjadi batu di sana.
Dalam cerita rakyat Tanimbar, Atuf yang perkasa berhasil
menikam matahari sampai berkeping menjadi bulan dan bintang.   Sayang sekali, karena tidak ingat pesan
orang tua, dia mampir di pulau terlarang dan menjadi batu di sana.
Sungguh menarik membaca kajian Dr Mariana Lewier
bertajuk Cerita Ikan Layar (Upa Rui) Dari Kepulauan Babar Wuwlul Louli Ilwyar
Wakmyer
.  Mariana mengkaji keragaman
cerita tersebut karena ada beberapa perbedaan dan persamaan, yakni dari Kampung
Tela, Pulau Wetan, Pulau Luang, dan dari Dusun Uiwily di Pulau Masela.
Semua versi cerita berpusat pada ikan layar yang
mengamuk menghancurkan pulau-pulau secara dramatik.   Melalui berbagai upaya, ikan layar akhirnya dapat
dikalahkan.  Ikan layar dapat
diverifikasi dalam bentuk batu.
Cerita ikan layar mengamuk, mirip cerita
terjadinya Nusa Telu di utara Pulau Ambon.  
Alkisah ikan parang-parang raksasa mengamuk.  Ikan parang-parang sudah berhasil memotong
ujung Pulau Ambon menjadi Nusa Ela, Nusa Hatala, dan Nusa Lain.  Ketika hendak memotong pulau berikut, hari sudah
subuh sehingga pulau keempat tidak sempat diselesaikan.  Jejak potongannya bisa dilihat di sebelah
barat Asilulu berupa potongan yang tidak terputus.
Cerita ikan layar di Babar dan ikan parang-parang
di Asilulu menjelaskan adanya peristiwa alam yang luar biasa.  Ada patahan-patahan yang membentuk pulau dan
kepingan-kepingannya.
Kisah terkenal adalah tentang Boiratan Timbang
Tanah.  Sebagaimana dikumpulkan Dieter
Bartels dari Raja Waraka Rudolf Lailosa dan berbagai sumber lain,  dapat diikuti bagaimana Boiratan yang berduka
di Pulau Seram.  Di dalam duka, tangis
ratapan,  suara Boiratan menyebabkan
Pulau Ambon terlepas dari Pulau Seram, Haruku, Saparua, dan Nusalaut juga
terlepas dari Pulau Seram.   Paling
akhir, Banda juga terlepas dari Pulau Seram bersama Boiratan.
Terlepasnya anak-anak pulau dari pulau induk Nusa
Ina tentu merupakan sebuah peristiwa alam yang hebat.  Pelepasan tersebut tentu ditandai dengan
gempa bumi dan tsunami. 
Cerita tsunami paling tua di Maluku bisa diverifikasi
di dalam legenda Pulau Eno dan Pulau Karang di Aru.  Bila di Ambon-Lease terdapat istilah mata
rumah, maka di Aru ada istilah mata belang. 
Orang-orang di Pulau Eno dan Pulau Karang yang menyelamatkan diri di
atas belang yang sama pada saat tsunami, kemudian terikat secara persaudaraan
dalam ikatan mata belang.
Mata belang Mangar, misalnya, terdiri dari
marga-marga
Gaelagoy, Labok, Siarukin, Selfanay, Ganobal, dan sebagainya. Demikian
pula mata belang Gal-Gal atau Gwal-Gwal. 
Di dalamnya da marga Barends, Darakay, dan sebagainya.   
Nita
Handayani Hasan dari Kantor Bahasa Maluku melakukan riset dan menulis
laporannya berjudul “Nyanyian Adat  Masyarakat
Desa Longgar: Suatu Pendekatan Hermeneutika”

Ia antara lain menemukan lagu Largula sebagai berikut:
Gwalajin
emenjkaran

Nam
jar un oesa

Jar
abel un dalar daoran

Deusiar
dawa gori nun

Lar
gula dalar deben mur

Dalar
daben somor lau

Logar
kenlar kargwa ken lar

Awel
wirey ken lar

Wi
je mair kom sirin mawar

Kom
jenjena el nunu

Awan
mair un naeta mawe

Ken
kujur maban
Dari naskah Nita Handayani Hasan, lirik lagu Largula di atas dapat diartikan sebagai
berikut:
Cekcok kakak beradik menyebabkan gempa bumi, angin kencang, hujan, dan tsunami.  Akibatnya, sebagian Pulau Eno dan Pulau Karang
tenggelam. Semua orang di dua pulau berlayar menyelamatkan diri. Tidak ada
penduduk yang tinggal. Ada tiga perahu belang paling akhir meninggalkan Eno dan
Karang. Mereka menuju ke arah timur. Di dalam perahu belang tersebut terdapat
nenek moyang orang Desa Longgar, Karey, dan Gomu-Gomu.  Siang malam  mereka teringat peristiwa di Eno dan Karang Mereka
selalu ingat pesan leluhur  Agar membawa persembahan
ke Eno dan Karang
Nah,  semua
kisah di atas adalah cara manusia masa lalu merekam dan menerangkan peristiwa-peristiwa
pada masa lalu, yang tetap berujung pada kemanusiaan.    Batu dan Pulau adalah fakta-fakta yang bisa
diverifikasi di lapangan.  Namun narasi
di belakangnya bukanlah pada level fakta sejarah.  Sebab itu, jika ditanya kapan peristiwa itu
terjadi, makanya jawabannya tidak tahu.  Cerita rakyat, dongeng, mitos, tidak dapat diverifikasi
secara kronik menurut urutan waktu.  Dieter
Bartels menyebutkan, dalam hal cerita rakyat seperti ini, unsur waktu
diabaikan.
Meskipun demikian, bila hendak memastikan kapan
sebuah peristiwa terjadi, caranya adalah harus beranjak dari level mitos dan
legenda ke level sejarah dan arkeologi.   Upaya yang bisa dilakukan saat ini   adalah mengumpulkan
fosil-fosil siput dan karang yang tersebar di hampir semua pulau di
Maluku.  
Di punggung Pulau Ambon seperti di Telaga Kodok
sampai ke Gunung Tuna, atau di seluruh Leihitu dan Salahutu, Gunung Nona,  Haruku, Nusa Laut, Saparua,  fosil-fosil siput dan karang gampang sekali
ditemukan.  Semua ini menjadi penanda
bahwa Ambon adalah pulau yang terbentuk oleh hasil pengangkatan dasar laut ke
permukaan laut. 
Kapan pulau-pulau di Maluku ini ada di permukaan
laut?  Tentu bukan sehari dua, atau satu
purnama.  Peristiwa ini melampaui
zaman.   Ratusan juta tahun adalah angka
yang wajar untuk perubahan radikal di muka Bumi.  Bila ada kabar bahwa Ambon menyusul rangkaian
gempa 26 September ini, tentu kabar tersebut sangat spekulatif dan lebih tepat
disebut hoaks alias kabar bohong. 
Menutup tulisan ini,  petikan fovorit Rabi Harold Kushner ini
kiranya menguatkan kita.   Bahwa di dalam
peristiwa sehari-hari, baik peristiwa besar maupun kecil, ada sidik jari
Tuhan.  Itulah tanda-tanda zaman.    Melalui tanda-tanda zaman, Tuhan menyapa,
mengajar, dan menegur manusia.
Gempa bumi memang menghancurkan banyak rumah,
merengut nyawa manusia.  Ada banyak orang
hidup di tenda.  Bila kita sering melihat
sidik jari Tuhan saat mentari terbenam, atau lautan yang tenang,  maka mari melihat sidik jari Tuhan dalam gempa
di Maluku.  Baku tolong, laeng lia laeng,
ada solidaritas, ada cinta dan kasih sayang, ada banyak doa,  semua ini bagai mengulang peristiwa dalam
cerita rakyat dan lagu rakyat.
Mari percaya, seperti dalam lirik lagu Bunga Kehidupan susunan Ian Antono, tak ada
badai yang tak berhenti.   Kehancuran adalah awal pertumbuhan.  Maka, mari kita dengan sangat tenang melewati
hari-hari berikut secara bersama-sama sebab kita tidak pernah sendirian di
dalam badai.  Selalu ada sahabat dan saudara,
bahkan orang yang tidak dikenal sebelumnya. 
Lihat saja, orang beda warna kulit, beda karakter rambut, beda suku,
beda agama, semua baku saying dalam badai ini.
Ambon,  14 Oktober 2019

Penulis adalah
redaktur pelaksana Media Online Maluku Post

Pos terkait