Refleksi Seorang Peziarah Katolik tentang Ramadan 2020

  • Whatsapp

Oleh Costan Fatlolon-Manila

Di gerbang postmodernisme lewat “Zarathustra” filsuf eksistensialisme Nietzsche (1844-1900) mengumumkan “Allah telah mati”. Inilah kritik kebudayaan fundamental terhadap manusia yang mengkhianati eksistensinya sebagai person bermartabat suci yang gemar buat kejahatan.

Nietzche lalu terjerembab dalam nihilisme dg menyangkal keberadaan Yang Ilahi dan mengumumkan “Übermensch” (manusia agung) sebagai pengganti “Allah yang sudah mati”, dengan karakteristik kebebasan penuh dan libido yang besar.

Tetapi di setiap gerbang Bulan Suci Ramadan senantiasa terdengar seruan menggema: Allah Maha Besar.

Seruan Bulan Suci Ramadan ini menjadi kritik fundamental terhadap pesimisme Nietzsche. Seruan ini sekaligus merupakan sebuah panggilan kemanusiaan dan spiritual untuk senantiasa mengumumkan ke setiap sudut belahan dunia bahwa “Allah tetap Allah yang hidup dan penuh kuasa.”

Seruan Bulan Suci Ramadan adalah sebuah imperative spiritual kepada semua manusia di bawah kolong langit bahwa Allah adalah dasar keberadaan semua yang tercipta. Ia harus ada supaya semua yang bereksistensi mungkin bisa ada dan berada.

Bulan Suci Ramadan mengingatkan esensi manusia adalah suci di hadapan Sang Maha Suci. Kesucian itu tidak berasal dari manusia melainkan hakikat Sang Ilahi. Manusia terus berupaya memperjuangkan kesucian itu dalam kerapuhan-kelemahan dirinya.

Kesucian adalah “titik asumptotis” yang telah dan senantisa dicari manusia dalam pengembaraan eksistensinya. Ramadan menjadi sarana religius yang membantu manusia sbg “homo viator” (manusia peziarah) untuk terus memperjuangkan eksistensi dirinya untuk bisa meraih kesucian itu.

Agama bukanlah tujuan, melainkan sarana yang membantu manusia dalam proses belajar untuk mencoba memahami Allah yang Maha Luas-tak terselami oleh pikiran dan hati manusia. Bahkan ketika manusia mengklaim sebuah pemahaman yang utuh tentang Dia, pada saat yang sama Ia bukanlah Tuhan seperti yang diklaim oleh kenisbian pikiran manusia.

Setiap praksis keberagamaan tidak penah membuat kita menjadi “manusia agung” ala Nietzsche. Seharusnya, praksis keagamaan itu membuat kita menjadi lebih rendah hati di hadapan Sang Khalik, sehingga kelak bisa menikmati kebahagiaan kekal bersama-Nya.

Kita menjadi “besar” (bermartabat, bermanfaat kepada sesama) bukan karena kita “bebas dari” apapun dan bisa melakukan apapun yang ingin kita inginkan. Melainkan karena kita “bebas untuk” melakukan tindakan kemanusiaan bagi semua orang tanpa sekat-sekat primordial yang membelenggu relasi dan komunikasi antar kita sebagai manusia ciptaan Sang Ilahi.

Dalam kelemahan manusiawi, kita menyaksikan melalui berbagai media adanya segelintir umat beragama saling mencela atas nama kebenaran ajaran yang mereka yakini.

“Patahan” kehidupan ini tidak menyurutkan keterpikatan saya pada “memoria memorabilis” (ingatan akan perbuatan-perbuatan baik) umat Muslim di Indonesia. Mereka menyadarkan saya akan ajaran: “Islam sebagai rahmat bagi semesta”.

Sejarah Indonesia telah menyaksikan lahirnya berbagai tokoh Islam terkenal – saya menyebut dua tokoh saja antara lain seperti Gus Dur, Nurcholis Madjid – yang mendharma-baktikan hidupnya untuk pluralitas dan unitas dalam negara dan bangsa melalui karya-karya kemanusiaan dan intelektualitas.

Tak terhitung pula banyaknya intelektual muda dan aktivis kemanusiaan Muslim yang memiliki “passion” dan kerendahan hati melayani kemanusiaan dan pluralisme untuk memajukan kemaslahatan bersama nusa dan bangsa Indonesia.

Semua catatan pintas di atas menguatkan kritik saya terhadap pendapat filsuf Habermas bahwa peranan agama dalam masa postmetafisik tidak pernah mengering untuk tetap menjadi sarana keselamatan.

Memang benar, sebagaimana kata Habermas, agama-agama akan mampu menjadi kekuatan perdamaian apabila memformulasikan ajarannya sedemikian rupa, tanpa jatuh pada relativisme, agar tetap relevan, aktual, dan sifnifikan dengan perkembangan zaman.

Islam Indonesia telah membuktikan dirinya sejak kemerdekaan Indonesia sebagai sarana perdamaian yang tetap relevan, aktual, dan signifikan dengan perkembangan zaman. Islam Indonesia menjadi “tali pengikat perdamaian dan kesatuan” putra-putri Indonesia.

Lalu bagaimana dengan fakta “patahan” hidup bersama yang sering mengganggu ketenteraman hidup bersama anak bangsa?

Saya jadi teringat sebuah syair Arab: “Kita mencela zaman, rupanya yang tercela itu ada pada diri kita sendiri” (Syair Arab ini dikutip dlm buku Farag Fauda, “Kebenaran Yang Hilang,” Democracy Project, Yayasan Abad Demokrasi, 2008).

“Patahan” kebersamaan bisa terjadi karena “patahan manusiawi” diri kita sendiri: Individualisme, egoisme, egosentrisme, eksklusivisme, dan lain-lain sejenisnya. Semua patahan tersebut menjadi “musuh bersama” yang harus kita atasi bersama dalam kesamaan visi dan misi.

Bulan Suci Ramadan menjadi kesempatan emas untuk, meminjam kalimat Paus Fransiskus, “merobohkan tembok-tembok yang ditimbulkan oleh ketakutan dan ketidaktahuan, serta berusaha untuk membangun jembatan-jembatan persahabatan yang menyatukan semua orang.”

Bahkan harus dikatakan Bulan Suci Ramadan adalah “jembatan itu sendiri” di mana tiang-tiang koeksistensi dan proeksistensi serta ruang “pertobatan”, sebuah transformasi eksistensial, berdiri kokoh memanggil semua orang untuk menjadi berkat bagi sesama dan alam semesta.

Gerbang Bulan Suci Ramadan 2020 telah terbuka. Berjuta umat Muslim tanah air telah memasukinya. Doa dan permohonan terus dikumandangkan dari segala pelosok negeri memohon penyucian diri dan dunia.

Jadilah bagi kami, saudaramu dalam kemanusiaan, rahmat penuh ampunan. Doakanlah kami juga agar bisa menggapai kesucian spiritual dan transformasi diri dalam hidup bersama.

Doamu yang tekun dan puasamu yang mendalam untuk membersihkan budi dan hati menjadi “praksis spiritual” yang tak terkatakan kuasanya untuk menuju Sang Maha Suci. Merebahkan diri dalam aribaan Yang Suci seraya memohon dengan rendah hati, telah senantiasa menjadi contoh indah bagi saya dalam menapaki peziarahan hidup bersama dan hidup spiritual sebagai orang Katolik.

Salam doa dan berkatku

Manila, pada hari pertama Bulan Suci Ramadan
Jumat, 24 April 2020

Penulis adalah Pastor Projo di Keuskupan Amboina

Pos terkait