Gereja Mulai Dibuka, Ini Penjelasan Wakil Uskup Wilayah Kei Kecil

  • Whatsapp
Pastor Paroki Langgur, sekaligus Wakil Uskup Wilayah Kei Kecil, Pastor W. Eko Rejaan Pr., saat melakukan penyemprotan disinfektan di Gereja Katedral Langgur, Sabtu (6/6/2020).

Langgur, Malukupost.com – Mulai hari Minggu (7/6/2020), Kerinduan umat Katolik di kepulauan Kei untuk mengikuti perayaan Ekaristi, segera terobati.

Setelah diterbitkannya Surat Edaran (SE) dari Uskup Diosis Amboina, Yang Mulia Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC kepada seluruh Imam (pastor) terkait pemberlakukan situasi New Normal bagi wilayah kabupaten/kota yang termasuk dalam green zone (zona hijau), disusul pula dengan surat izin dari Pemerintah Daerah (Pemda) Maluku Tengggara (Malra) dan Pemerintah Kota (Pemkot) Tual.

Wakil Uskup wilayah Kei Kecil, Pastor W. Eko Rejaan, Pr menjelaskan, dalam SE tersebut, Uskup Diosis Amboina memberikan ruang untuk gereja dibuka kembali bagi umat.

“Tetapi pada point pertama SE itu pula, Uskup menegaskan bahwa ruang itu bisa dilaksanakan kalau ada izin dari pemda setempat. Point ini sangat penting,” ujarnya di Langgur, Sabtu (6/6/2020).

Pastor Rejaan mengungkapkan, beberapa waktu lalu, dirinya bersama dengan Wakil Uskup Kei Besar dan Pastor Paroki Tual, telah berusaha untuk mendapatkan izin tertulis dari pemimpin daerah yakni Ketua Gugus Tugas Malra (Bupati) dan Kota Tual (Wali Kota). Surat izin tersebut untuk kabupaten Malra sudah dikeluarkan beberapa waktu lalu, sedangkan untuk Kota Tual hari ini.

Dengan dasar inilah maka Gereja Katolik pada hari Minggu nanti (sesuai SE Uskup), membuka kesempatan bagi gereja untuk aktifitas bersama dengan umat.

“Surat izin yang diberikan oleh Pemda, berdasarkan pada surat yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama, yang didalamnya sudah ditentukan hal-hal yang harus diikuti (dalam hal ini protokol kesehatan, oleh semua pengurus rumah ibadat,” tuturnya.

Disisi lain, dalam SE Uskup tersebut itu pula telah dicantumkan hal-hal yang perlu diikuti ketika izin itu diberikan, sehingga umat bisa beribadah bersama di gereja.

“Jadi, protokol kesehatan itu yang harus diikuti. Kalau protokol kesehatan yang dicantumkan dalam surat dari kementerian agama maupun SE dari Uskup tersebut tidak diikuti oleh gereja setempat (stasi atau paroki), maka izin tersebut bisa dicabut. Artinya gereja itu ditutup kembali sampai protokol kesehatan itu disiapkan dan dilaksanakan secara tegas,” tandasnya.

Diakui Pastor Rejaan, Malra masih ada dalam zona hijau, namun pandemi Covid-19 belum berakhir. Karena itu, aspek kehati-hatian dan kewaspadaan dengan mengikuti protokol kesehatan Covid-19 yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam berbagai jenjang maupun oleh gereja, harus dan wajib secara tegas dilaksanakan.

“Hal inilah yang dituntut dari kita pengurus gereja maupun persiapan dari semua paroki dan stasi di wilayah perwakilan kei kecil. Selaku Wakil Uskup, saya juga sudah sampaikan dalam pertemuan bersama Pastores pada hari kamis lalu,” tuturnya.

Untuk wilayah Kei Kecil, surat izin tersebut sudah disosialisasikan pada hari jumat kemarin, dan telah dilakukan persiapan-persiapan sebelumnya.

“Kami sudah melakukan persiapan-persiapan lebih awal setelah SE Uskup dikeluarkan sambil menunggu surat izin dari pemda yang kini sudah kami terima,” imbuhnya.

Pastor Rejaan menegaskan, memasuki situasi New Normal, maka mulai minggu esok (selama pandemi), sebelum masuk ke dalam gereja, umat yang datang wajib menggunakan masker dan diukur suhu tubuhnya oleh petugas. Selain itu, disediakan pula wadah dan air untuk mencuci tangan, serta dilakukan penyemprotan (disinfektan) pada bagian dalam dan luar gereja seluruhnya.

Hal-hal tersebut selanjutnya akan dilaporkan ke Keuskupan Amboina, mengingat gereja Katolik di Keuskupan Amboina yang meliputi provinsi Maluku dan Maluku Utara, tidak semua yang membuka gereja untuk umat pada hari minggu nanti.

“Selaku wakil uskup, saya harus membuat laporan perkembangan untuk izinnya maupun persiapan-persiapan menjelang hari Minggu esok kepada Uskup Diosis Amboina. Ini dikhususkan bagi wilayah-wilayah yang masih dilihat sebagai zona hijau,” bebernya.

Dirinya juga mengajak seluruh umat (bukan saja Katolik) di Kepulauan Kei ini untuk bersyukur kepada Tuhan dan berterima pada Leluhur Tanah Kei.

“Dan secara khusus bagi umat Katolik, untuk berterima kasih kepada para Martir (Mgr. Johannes Aerts MSC dan kawan-kawan), karena diyakini bahwa usaha kita dan doa-doa dari mereka sehingga tanah Kei ini berada dalam zona hijau, yang memungkinkan untuk memasuki New Normal,” tukasnya.

Selain itu, Pastor Rejaan juga mengingatkan seluruh umat Katolik, bahwa dengan dikeluarkannya surat izin, baik dari Pemkot Tual dan Pemda Malra, berarti kepercayaan diberikan kepada pihak gereja Katolik di kepulauan Kei.

Untuk itu, diminta kepada seluruh umat Katolik agar menjaga kepercayaan itu sebaik-baiknya dan bertanggung jawab, dengan mengikuti protokol kesehatan yang telah ditentukan.

“Saya sudah minta kepada semua pastor di seluruh paroki untuk bersikap tegas. Kalau ada umat yang melanggar ketentuan tersebut saat ke gereja, maka disuruh pulang saja, tidak perlu untuk mengikuti misa (perayaan ekaristi). Kerinduan kita untuk mengikuti perayaan ekaristi dan lain-lain, tidak lalu mengabaikan protokol kesehatan. Jadi, antara kehidupan rohani dan jasmani harus berjalan seimbang,” pungkasnya.

Pos terkait