Akibat menyaksikan Penjemputan Paslon KALWEDO
Mdona Hyera, MalukuPost.com – Perhelatan Politik di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) saat ini patut menjadi perhatian serius oleh pihak penyelenggara, pasalnya dampak dari eforia pendukung berimbas kepada para siswa. Dimana diduga terjadi tindakan anarkis oleh salah satu oknum guru di SMP Negeri Ilmiarna Luang Barat, Kecamatan Mdona Hyera.
Salah satu orang tua murid, Au Palapia Kamis (19/11/2020) menjelaskan, sebelumnya telah diberitahukan kepada seluruh siswa untuk tidak terlibat dalam proses politik pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang saat ini sementara berlangsung. Dimana dalam setiap pelaksanan kampanye maupun proses yang lain, siswa diminta untuk menjaga jarak sejauh 500 meter dan tidak dibenarkan untuk meninggalkan jam pelajaran di sekolah.
Namun proses penjemputan yang cukup meriah tentu menarik perhatian seluruh masyarakat termasuk para siswa yang berada di Desa Luang Barat. Karena itu, ketika proses penjemputan masyarakat Luang Barat atas kehadiran pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati nomor urut 01, Nikolas Kilikily – Desianus Orno pada 18 November kemarin usai.
Sejumlah siswa yang turut menyaksikan proses tersebut, kemudian dihukum dengan cara ditampar oleh Sin Laimera, guru di SMP Negeri Ilmiarna Luang Barat keesokan harinya di sekolah. Tindakan oknum guru tersebut terkesan melanggar norma dan aturan seorang pengajar.
Pasalnya, salah satu siswa yang merupakan anak dari Au Palapia menyaksikan peristiwa tersebut jauh dari lokasi penjemputan yakni dermaga. Dimana dirinya berada di halaman belakang rumah pribadi yang kebetulan berdekatan dengan dermaga Desa Luang Barat.
Diungkapkan Palapia, ada perbedaan tindakan terhadap para siswa. Yakni, sebelumnya dalam kegiatan yang sama oleh pasangan calon nomor urut 02 Benyamin Noach – Agustinus Kilikily. Siswa-siswi dibiarkan menyaksikan proses penjemputan secara dekat, bahkan tiga siswa yang berkesampatan mengambil bagian dalam proses penjemputan sebagai pengalung bunga kepada kandidat justru diijinkan libur sekolah. Dan siswa lainnya yang terlihat di lokasi justru tidak diberi hukuman apapun.
“Pemberitahuan yang disampaikan oleh pihak sekolah memang telah kita terima. Tetapi jika perlakuan seperti ini justru menunjukan adanya keberpihakan terhadap Paslon tertentu. Apalagi hanya karna menyaksikan penjemputan kemudian siswa ditampar, maka sudah pasti perbuatan tersebut sangat menyalahi aturan. Jangan hanya karena perbedaan dukungan orang tua dalam proses politik, kemudian anak-anak kita yang dikorbankan,” tegasnya.
Apalagi, proses penjemputan tersebut berlangsung setelah waktu sekolah usai. Bahkan oknum guru tersebut saat ini hanya merupakan tenaga kontrak, sehingga tindakan tersebut tidak dibenarkan.


