Baron Rosenberg Penemu Selat Rosenberg, 7 Agustus 1865

  • Whatsapp
Carl Benjamin Hermann Rosenberg (wikimedia)
Ohoi Larat di Kei Besar dalam lukisan Tim Rosenberg, 1865

Laporan Rudi Fofid-Tual

Malukupost.comDi tepian Selat Rosenberg, semua warna merekah.  Matahari seperti ibunda yang perkasa, tiada henti berbagi pijar-pijar.  Bulan jadi emas, ombak jadi perak, awan jadi beludru, angin wangi.  Kami tidak kuat menahan rasa haru.  Maka cepat-cepatlah kami pergi ke pantai, memandang matahari yang sebentar lagi tenggelam di dekat Er Ngodan” (Puisi: Di Tepian Selat Rosenberg, Rudi Fofid, 5 Juli 2011).

Selat Rosenberg tidak hanya indah dalam lagu atau puisi.  Pergilah ke sisi manapun, maka keindahan bagai ditata jemari seniman agung di setiap senti. Pohon-pohon bagai bonsai tua tumbuh dengan tabah di atas karang-karang tajam.  Batuan silih berganti dengan hamparan pasir putih.

Jika air surut, padang lamun (Inggris: sea grass, Kei: Ubun) bagaikan daun-daun bawang rebah. Siput, kerang, keraka, ikan, udang, tir, arut,  buin, ker, duri babi, ketimun laut, lat, segala macam ada di lantai pasir putih.  Tunggu musim meti kei, maka pergilah ke pantai.  Selat Rosenberg selalu menyuguhkan berkah lautan.

Seluruh pelosok Tanah Evav memang eksotik, termasuk kegersangan di musim kemarau sebagai sensasi musim.  Akan tetapi, jika orang pergi pun datang melalui pintu-pintu Tual,  Watdek, dan Dullah, maka Selat Rosenberg adalah sebuah serambi yang ramah.

Siapa tidak jatuh cinta jika berlayar melitasi perairan di Dullah-Duroa di Pulau Dullah Kota Tual, terus melewati  kolong Jembatan Usdek  sampai ke Pulau Batu Kapal, Sathean, Kabupaten Maluku Tenggara.  Lautan tertutup dari Duroa sampai Sathean, itulah Selat Rosenberg yang fantastis.

Nama Selat Rosenberg sudah diabadikan pertama kali sejak 155 tahun silam.  Nama khas Jerman ini, mengingatkan nama khas Belanda di Ambon Paradijs, atau Selat Valentijn di Seram Barat.  Begitulah jejak-jejak di bekas negara jajahan

Dari mana nama Rosenberg yang kebarat-baratan itu ada di Tanah Kei?  Sebagian orang masih mengingat kisah Rosenberg, namun banyak kawula muda di Tual dan Maluku Tenggara tidak punya cukup informasi.

Nama Selat Rosenberg bukanlah sebuah nama yang dirancang jauh-jauh hari, atau diresmikan secara megah.  Semuanya terjadi secara spontan. Kisahnya bermula dari Ambon.  Perayaan tahun baru sudah usai. Hari itu, Jumat, 6 Januari 1865, Kapal Layar Victoria meninggalkan teluk.  Tujuannya, pulau-pulau tenggara yakni Aru dan Kei.

Victoria adalah kapal layar sekunar bertiang dua, disewa oleh Carl Benjamin Hermann von Rosenberg, seorang tentara Belanda kelahiran Jerman, yang baru setahun mundur dari dinas militer. Dalam tugas sebagai pegawai sipil, dia berlayar dengan asisten-asisten hebat untuk ekspedisi yang dibiayai pemerintah Hindia Belanda.

Kala itu, sosok yang dikenal juga dengan nama Baron von Rosenberg itu berusia 48 tahun.    Artinya, sebelum ke pulau-pulau tenggara, dia sudah lebih dulu berlayar menjelajah pulau-pulau di wilayah Hindia Belanda sejak usia 23 tahun.  Jadi sudah 25 tahun, kerjanya berlayar dari pulau ke pulau, mengoreksi peta kuno, meneliti hewan dan tumbuhan, serta kehidupan masyarakat yang dikunjungi.

Kapal layar Victoria buang sauh di Dobo, 22 Januari 1865.  Selama sebulan lebih Rosenberg tinggal di sana.  Waktunya dilalui dengan meneliti Pulau Wamar dan pantai selatan Pulau Wokam. Dia kemudian ke Wokam, Kobror, Manumbai,  Maekor, Wangel, dan sekitarnya.

Saking penuh kerja sejak Januari sampai pertengahan Juli, dia sempat jatuh sakit.   Semangat  menggebu dan kecintaan pada pekerjaan jualah yang membuat dia akhirnya pulih. Rosenberg meninggalkan Wangel pada 27 Juli 1865. Tujuan berikut adalah Kei Besar.

Perempuan Kei Besar dalam lukisan Rosenberg 1865

Tiga hari kemudian, 30 Juli, Rosenberg tiba di Larat, Kei Besar.  Seminggu lamanya dia mengamati Kei Besar, barulah berlayar ke Kei Kecil. Sedangkan di Kei Kecil, Rosenberg tinggal selama hampir sebulan.

Dari Kei Kecil,  Roseberg berlayar menuju Tayando, Kur, Teor, Watubela, Kesui, Manawoka, Gorom, dan akhirnya tiba kembali di Ambon, 5 Oktober 1865.

Sembilan bulan lamanya, ekspedisi ini berlangsung.  Rosenberg membuat catatan, lukisan, dan juga membawa spesimen hewan dan tumbuhan.


SELAT ROSENBERG

Seluruh pengalaman Rosenberg sejak 6 Januari  sampai 5 Oktober 1865 sebagaimana disarikan dalam laporan ini, tertuang dalam buku Reis naar de zuidoostereilanden : gedaan in 1865 op last der regering van Nederlandsch-Indie. Buku setebal 125 halaman tersebut terbit di Nijhoff, 1867, dua tahun setelah  ekspedisi.

Pada halaman 69 buku tersebut, Rosenberg bercerita tentang pengalaman berlayar dari perairan Pulau Dullah, setelah tinggalkan Larat, Kei Besar.

Hari itu, Senin, 7 Agustus. Menurut Rosenberg, perjalanan dilakukan pagi hari sebelum fajar merekah.  Kapal layar berjalan dari Larat bukan melalui jalur masa kini Elat-Watdek, melainkan memutar Pulau Dullah.  Bisa dimaklumi sebab peta pelayaran belum sempurna.  Justru misi Rosenberg adalah mengoreksi peta kuno yang ada di kapalnya.

Sampai di Dullah yang disebutnya kampung raja,  pelayaran dilalui dengan meraba-raba saja, sebab jalur yang ada di depan mata bukan jalur yang dapat dilalui.  Peta kuno yang mereka bawa di atas kapal, tidak memberi petunjuk adanya jalur pelayaran di situ.

Secara detail Rosenberg memberi deskripsi keadaan selat sempit yang dapat dilayari.   Selat yang kini dilayari diperkirakan selebar dua mil dan kedalaman tiga kaki namun lebar ujung selat mencapai 50 yard. Perairannya dangkal sehingga hanya kapal kecil yang bisa melintas.

Di dekat Desa Tual, Rosenberg menggambarkan, arus pasang-surut mengalir kencang menuju ke lengkungan Dullah.  Di sepanjang tepi selat, ada tumbuhan yang subur, terkadang berbatu, terkadang datar.  Ada rumah dan dusun tersembunyi di balik pepohonan.  Kapal layar terus menelusuri jalur itu sampai jauh ke dalam.  Rosenberg memastikan, terusan sempit itu bisa dilalui, dan karena tidak ada nama di peta, dia berpikir untuk memberi nama.

“Sebagai kompensasi atas jerih payah saya selama ini, selat temuan saya, yang belum pernah didatangi petualang Eropa ini, saya namai Selat Rosenberg,” tulis Rosenberg pada halaman 69 buku Reis naar de zuidoostereilanden : gedaan in 1865 op last der regering van Nederlandsch-Indie.

MIRIP RUMPHIUS

Meskipun hidup pada zaman berbeda selisih 100 tahun, jalan hidup Rosenberg (1817-1888) mirip George Everhard Rumphius (1827-1702).  Keduanya sama-sama kelahiran Jerman, sama-sama punya jiwa petualang, mencintai flora-fauna, dan menuju Hindia Belanda dengan cara masuk tentara Belanda.

Sebagai tentara Belanda, keduanya pun sama-sama mengundurkan diri dari tugas militer lantas menekuni dunia ilmu pengetahuan.  Melalui karya tulis, Rosenberg dan Rumphius dikenal sebagai manusia multi dimensi. Buku-buku karya mereka menyangkup spektrum yang luas, tidak sekadar hewan dan tumbuhan.

Rosenberg lahir  7 April 1817 di Darmstadt, Jerman.  Ia meninggal di Den Haag 15 November 1888 dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Darmstadt 20 November 1888 dalam usia 71 tahun.

Semasa remaja di kampung, dia sudah mendalami pelajaran zoologi di bawah bimbingan pamannya sendiri Prof. Dr. Johann Jakob Kaup.  Rosenberg sangat berminat pada dunia burung. Ayahnya seorang perwira terpandang, Kolonel Karl Ferdinand von Rosenberg. Sang ayah menghendaki anaknya berkarier di dunia militer.  Maka pada awal 1930an, Rosenberg masuk pendidikan militer Darmstadt, sampai direkrut ke Harderwyk di Belanda, pada Mei 1839.

Pada bulan November 1839, Rosenberg berangkat ke Tanah Jawa. Dia tiba di Batavia, 2 Mei 1840. Sebulan kemudian,  dia dipindahkan ke pantai barat Sumatera. Dari tahun 1840 hingga 1845,  Rosenberg  melakukan perjalanan ke sebagian Tanah Batak, sebagai asisten ahli geologi Junghuhn.

Pada tahun 1845-1854,  Rosenberg melakukan perjalanan ke bagian-bagian Sumatera yang tersisa dan pulau-pulau sekitar Mentawai, Engano, Bengkulu, Banyak, dan Nias.

Pada tahun 1856, Rosenberg ditugaskan di Batavia di bagian topografi untuk kepentingan militer. Perjalanan ke Maluku dan New Guinea dilakukan tahun 1858.  Saat inilah dia mengundurkan diri dari tugas militer, dan masuk dinas sipil sebagai untuk penyelidikan ilmiah. Dia tinggal di Maluku sampai tahun 1866, dan berkunjung ke kepulauan kecil di Ambon, Seram, Timor dan sekitarnya.

Karena sempat jatuh sakit di Kepulauan Aru, maka untuk memulihkan kesehatannya, Rosenberg terpaksa cuti panjang dua tahun di Eropa. Dia baru kembali tahun 1868 dan ditugaskan lagi dengan penyelidikan ilmiah.

Dia kembali berangkat ke Maluku, meneliti Ternate dan bagian timur laut New Guinea dengan pulau-pulau di sekitarnya. Rosenberg akhirnya pensiun tahun 1871, dan kembali ke Eropa melalui Mesir.  Dia hidup di Belanda sampai akhir hayatnya.

Salah satu Buku Rosenberg yang terkenal Der Malayische Archipel dalam dua wajah berbeda.

BUKU-BUKU

Berbagai spesimen hewan dan tumbuhan yang dikumpulkan Rosenberg, banyak menjadi koleksi museum di Belanda.  Dia menulis serangkaian artikel, dan terutama buku-buku yang legendaris.

Buku-buku yang ditulisnya antara lain dapat dilihat pada berbagai perpustakaan online dengan kata kunci C. B. H. von Rosenberg, maka buku-bukunya akan disajikan.  Buku-bukunya yang tersebar luas dalam bahasa Jerman, Belanda, dan Inggris antara lain:

1. Overzigtstabellen voor de Ornithologie van den Indischen Archipel (1858)

2. Reistogten in de afdeeling Gorontalo, gedaan op last der Nederlandsch Indische regering (1865).

3.  Werken van het Koninklijk instituut voor taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch Indië: Reistogten in de afdeeling Gorontalo (1865)

4.   Reis naar de zuidoostereilanden: gedaan in 1865 op last der regering van Nederlandsch-Indie (1867)

5. Reistochten naar de Geelvinkbaai op Nieuw-Guinea in de jaren 1869 en 1870 (1875 dan 2019)

6.  Der Malayische Archipel: Land und Leute in Schilderungen gesammelt während eines dreissigjährigen Aufenthaltes in den Kolonien (1878 dan 2016).

7.   Der lebende Leichnam von Leo Tolstoi Zwölf Bilder nach d. Aufführung im Deutschen Theater von Max Reinhardt (1913)

8.  Much ado about nothing by William Shakespeare ((1916)

(Malukupost/ Reis naar de zuidoostereilanden, wikipedia, wikimedia, amazon, dan pustaka lain)

 

Pos terkait