Menjadi Fotografer Musik Di Kota Musik Dunia

  • Whatsapp
Fotografer musik menghadirkan lirik dan melodi secara imajinatif pada setiap lembar foto hasil bidikannya.


Catatan Rudi Fofid-Ambon

Di Ambon Kota Musik Dunia, akan ada banyak peristiwa musik, baik di atas maupun di luar panggung pertunjukan.  Musik tidak sekadar konser, tetapi seluruh sendi kehidupan.  Fotografer musik perlu membangun kulturnya sebagai penyandang kepentingan dalam ekosistem musik.

Bayangkan rapper Morika Tetelepta dan Hayaka Nendissa di atas panggung. Satu tangan memegang gagang pelantang suara. Satu tangan yang lain dikepal meninju udara sambil berteriak:

“Lawamena!”. 

Nah, saat Morika dan Hayaka mengucap kata “lawamena”, ada waktu 1 detik mulut keduanya membunyikan suku kata terakhir “…na!”  Saat itulah, momen  paling pas untuk tekan tombol  kamera.  Ada beberapa kesempatan mengulang momen ini, sesuai  aliran lagu yang mengalami repetisi pada refrein.

Fotografer perlu kuasai lagu “Puritan”, melihat videonya, membaca teks lagu, sehingga refreinnya bisa ada dalam memori.

“Lawamena, resi-resio
Lounusa, resi-resi o
Lawamena, resi-resi o
Lounusa, resi-resi o”

Morika-Hayaka memang menulis lirik “Puritan” dengan kesadaran menyuntik penonton supaya emosi timbul, dan bisa diajak menyahut: “Resi-resi o!”  Fotografer punya kesempatan membidik duet rapper di panggung, dan ada waktu pula membidik penonton yang menyahut.

Fotografi musik memang dunia penuh sensasi.  Tidak terbayang sebuah konser musik tanpa fotografer.  Para fotografer musik mengabadikan momen-momen seniman panggung dalam rupa-rupa ekspresi nan hidup.  Sebab itu, sikap dan tindak profesional sangat penting dibangun sebagai sebuah gaya hidup fotografer musik.

Terdapat sejumlah panduan bagaimana memotret musik, namun kebanyakan adalah petunjuk teknis.  Tulisan ini memakai asumsi, segala sesuatu tentang kamera dan teknik memotret sudah tuntas bagi seorang fotografer musik.  Fokus tulisan ini hanya pada kemesraan fotografer musik dengan subjek musisi dan lingkup sosialnya.

Tidak peduli fotografi musik untuk kepentingan jurnalisme, kepentingan komersil, kepentingan pendidikan, atau sekadar hobi. Tidak peduli jenis kamera apapun, yang penting, fotografi musik tetap punya nilai publikasi dan dokumentasi.  Foto bahkan bisa menjadi ‘artefak’ sejarah manusia dan kehidupannya.

Andaikan fotografer hendak memotret sebuah konser, sangat tidak cukup datang di arena konser lalu jepret sana-sini, kelihatan sangat sibuk, atraktif, tetapi hasil tidak maksimal.  Bahkan,  boleh jadi, fotografer musik kehilangan momentum karena tidak melakukan persiapan apapun.

Dengan berbekal kamera mahal, canggih, kontemporer, terkadang fotografer merasa sudah serba wah dan tinggal jepret-jepret.  Butuh sikap rendah hati untuk mengabdi pada profesi, sekalipun ego fotografer tetap perlu terjaga secara otonom.

Bila konser akan dilangsungkan di Ambon, fotografer musik sudah harus terkoneksi dengan penyelenggara konser, baik pemerintah maupun swasta.  Kehadiran fotografer musik di sekretariat panitia konser, sangat penting untuk mengetahui siapa saja biduan yang bakal tampil, apakah ada artis dari luar Ambon, bagaimana jadwal kedatangan artis dari luar, siapa yang akan menjemput artis luar, apakah ada konvoi dengan mobil terbuka? Di titik mana saja panitia memasang baliho ukuran besar? Di mana artis luar akan menginap, siapa saja band pengiring, kapan cek sound, apakah ada glady kotor, gladi bersih, bagaimana rangkaian acara konser, pihak mana yang akan menjadi penata cahaya, apakah akan ada konferensi pers, dan informasi latar belakang lainnya.

Untuk apa semua informasi latar belakang tersebut dihimpun?  Kelihatan seperti pekerjaan seorang reporter berita.  Ya, memang.  Untuk mendapat gambar yang bagus dari momentum yang pas, dibutuhkan semua infomasi tersebut.  Misalnya, jadwal kedatangan artis.  Apakah ini penting?  Tentu penting.  Fotografer musik menyediakan waktu untuk pergi ke bandar udara, ikut menanti dengan rombongan penjemput, melihat suasana penjemputan, tingkah-pola artis dan pendukung yang spontan di bandara, bagaimana situasi pengawalan, apakah ada bodyguard, satpol-PP, atau polisi, dan sebagainya.

Saat iring-iringan kendaraan, apalagi dengan kendaraan terbuka, fotografer musik memastikan rombongan akan melintas di baliho konser atau tidak.  Jika melintas di situ, fotografer musik sudah tahu, dia akan berdiri di seberang, rombongan artis akan melintas di jalan, dengan latar belakang baliho.  Tentu momentum ini akan berbeda di tempat tanpa latar belakang seperti itu.

Gladi kotor dan bersih penting dihadiri oleh fotografer musik.  Selain sudah bisa membuat foto-foto pendahuluan, inilah kesempatan fotografer musik bisa berdiskusi dengan penata cahaya, dan juga artis.  Misalnya ada konferensi pers, fotografer musik selain mengabadikan adegan-adegan di arena konferensi pers, dia juga bisa mengajukan pertanyaan sederhana:  Lagu apa saja yang akan dinyanyikan.

Perlu apa fotografer musik tahu judul lagu? Tentu perlu agar bisa kenal, lagu itu pernah dipopulerkan, atau  baru mau ditampilkan perdana.  Untuk lagu lama, fotografer musik sudah bisa menonton klip lagu tersebut di youtube atau di VCD.  Lagu diawali dengan nada rendah, bagaimana refrein, bagaimana bagian akhir lagu tersebut.  Hal ini penting bagi fotografer musik supaya bisa memutuskan, pada bagian mana dia wajib bidik.

Ada sejumlah lagu yang mencapai klimaks pada bagian refrein, dan ada lagu klimaks pada bagian akhir lagu. Semua ini perlu dikuasai fotografer musik agar bisa memutuskan, kapan fokus ke panggung, kapan abai panggung lalu fokus ke penonton yang berjingkrak, misalnya.

Andai Titiek Puspa akan membawakan lagu Kupu-Kupu Malam di Ambon, maka rangkaian adegan pada akun HaveFun RS https://www.youtube.com/watch?v=4-M_E4nftDs dapat menjadi referensi.


BIDIK TITIEK PUSPA

Lagu Titiek Puspa “Kupu-Kupu Malam” diawali dengan nada rendah.  Berlanjut ke nada tinggi di refrein, lantas ada repetisi nada awal pada bagian berikut, barulah diakhiri dengan nada yang lebih meledak dari refrein.

Ada yang benci dirinya
Ada yang butuh dirinya
Ada yang berlutut mencintainya
Ada pula yang kejam menyiksa dirinya

Pada bagian ini, fotografer masih bisa membidik bagian lain.  Misalnya, saat lagu baru dimulai, “ada yang benci………”.  Penonton “brutal” biasanya sudah meledak.  Kamera bisa  diarahkan ke sana.  Atau, bidik pemain musik yang ekspresif.  Saat refrein, fotografer musik sudah fokus ke biduan.

Ini hidup wanita si kupu-kupu malam
Bekerja bertaruh seluruh jiwa raga
Bibir senyum kata halus merayu memanja
Kepada setiap mereka yang datang

Vokal “a” selalu menarik.  Lirik bagian ini menggunakan rima akhir “a” dan bukan not penuh, sehingga fotografer musik punya momen klik kamera pada kata-kata “malam, raga, memanja, datang”. Ingat pula, pada larik kedua, “bekerja bertaruh seluruh jiwa raga”.  Bagian ini adalah sebuah aksentuasi.  Vokalis akan membuat penekanan yang berbeda, terutama pada kata “bekerja bertaruh”.

Dosakah yang dia kerjakan
Sucikah mereka yang datang
Kadang dia tersenyum dalam tangis
Kadang dia menangis di dalam senyuman

Bagian kedua di atas adalah pengulangan nada awal, tetapi, kata “Dosakah” terkadang dinyanyikan biduan sebagai sambungan kata terakhir dalam refrein.  Penyanyi kerap membawakan lagu ini seakan dalam satu tarikan nafas.

“Kepada setiap mereka yang dataaaaaaaang. Dosakah yang dia kerjakan”.  Bagian ini perlu diperhatikan untuk dibidik sebab terjadi lompat turun nada dari “datang” ke “dosakah”.

O o apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tahu tuhan penyayang umatnya
O o apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tahu menyambung nyawa

Bagian penutup lagu ini kembali pada nada-nada tinggi, dan inilah bagian yang tidak boleh ditinggalkan oleh fotografer musik.

Penguasaan lirik dan melodi sebuah lagu, pengenalan karakter penyanyi, semua ini penting untuk menentukan momen yang tepat untuk tekan klik.  Tentu ini memuaskan sang fotografer sendiri, artis subjek foto, maupun publik penikmat foto.

Ada beberapa lagu Titiek Puspa yang memiliki karakter sama, sehingga fotografer musik bisa menentukan posisi berdiri dan kadar konsentrasinya.  Misalnya, lagu “Pantang Mundur” diawali dengan nada rendah.  “Kulepas dikau, pahlawan”, diakhiri dengan nada tinggi. Terus maju, pantang mundur”.  Demikian juga lagu Titiek Puspa yang lain, Kalimantan Utara. Diawali nada rendah “Di keheningan malam ini, di kesunyian hati”, dan diakhiri dengan nada tertinggi, “Pahlawanku di rimba raya, Kalimantan Utara”.

Andai Titiek Puspa datang ke Ambon dan hendak membawakan lagu “Kupu-Kupu Malam”, bolehlah seorang fotografer musik menjadikan video di youtube untuk referensi, mempelajari karakter Titiek Puspa dan lagu “Kupu-Kupu Malam”.  Perhatikan bahwa Titiek Puspa pada bagian refrein, menggerakkan tangan untuk penekanan pada dua kata yang disebutkan di atas: “Bekerja bertaruh”.

Meskipun pada bagian refrein, Titiek Puspa makin ekspresif, tetapi justru pada bagian akhir lagu, Titiek Puspa melepas gagang pelantang suara dari stang.  Artinya, fotografer tidak boleh melepas bagian ini, karena seluruh ekspresi sang biduan tumpah di sini.  Apalagi, di sinilah kesepatan Titiek Puspa membangun komunikasi dengan penonton yang semuanya hafal lagu Kupu-Kupu Malam.  Fotografer tinggal berbagi konsentrasi antara panggung dan penonton, sebab pada bagian inilah, biduan dan penonton sudah-sama “gila”.

Setelah menguasai karakter lagu dan karakter biduan, fotografer musik jangan sampai lalai pada para musisi pengiring, satu demi satu.  Pada konser jazz misalnya, banyak sekali kesempatan biduan memberikan durasi memadai bagi setiap musisi mengeksplorasi instrumen musik dan kepiawaiannya.  Fotografer perlu tahu aliran kesempatan di atas panggung.  Rugi jika drummer sedang eksplorasi musiknya, tetapi fotografer sedang mengarahkan lensa ke penonton.

Fotografer musik bisa melakukan negosiasi dengan musisi, biduan, dan penata cahaya sebelum konser berlangsung, misalnya saat gladi bersih.  Pada lagu “Kupu-Kupu Malam”,   fotografer bisa menawarkan kepada penata cahaya, lampu macam apa yang sebaiknya disorot ke panggung.  Demikian pula kepada sang biduan, fotografer  bisa membuat “setting”.  “Pada saat klimaks, saya akan berdiri di titik ini. Jadi kalau ekspresi pada bagian ini, mohon ditahan karena saya akan klik pada bagian ini,”  katakan begitu kepada biduan.

Demikian catatan kecil ini, semoga para fotografer musik di kota musik dunia seperti di Ambon, dapat menjadi bagian dari komponen pertunjukan, dan sanggup menghadirkan nada musik dan lirik lagu pada setiap lembar foto konser.

Tentu, di luar konser, ada banyak sekali aktivitas kesenian yang dapat diabadikan.  Para fotografer tahu, momentum apa, ia membidik bintang-bintang panggung di luar panggung. Sebab, fotografer musik adalah penyandang kepentingan  ekosistem musik. Klik!

Ambon, 12 Desember 2020

Penulis adalah Redaktur Pelaksana Media Online Maluku Post

Pos terkait