Pak Akib Latuconsina-Ibu Mamu Dan “Aib Ibu Dua Bapa Dua”

  • Whatsapp
M. Akib Latuconsina dan Ny Mamu Latuconsina (wikipedia/dok keluarga)

Catatan Rudi Fofid-Tual

Tahun 1993, Harian Suara Maluku merekrut 15 wartawan baru. Setelah menempuh masa pendidikan internal di redaksi, semua langsung diterjunkan ke berbagai pos liputan. Bekal di tangan hanyalah sepotong surat tugas.

Begitulah wartawan baru. Belum punya kartu pers. Waktu itu, kartu pers adalah kartu anggota organisasi profesi. Satu-satunya organisasi profesi adalah PWI. Untuk menjadi anggota PWI, butuh proses.

Wartawan-wartawan baru, usia muda, kebanyakan status mahasiswa, pengalaman jurnalistik nol tahun. Suara Maluku menjadi pengalaman pertama. Tentu saja, ada bolong-bolong, kurang-kurang, lepu-lepu, kaku-kaku.

Beruntung, jajaran redaktur cukup kuat. Ada Etty Manduapessy, ada jurnalis yang sastrawan Jop Lasamahu, Agus Latumahina, Frans Matrutty, M.A.H. Tahapary, Sam Abede Pareno dan sebagainya, yang mampu menjadi mentor.

Sekalipun loga-loga, tetapi mereka masih sangat idealis. Ada aktivis HMI, IMM, AMGPM, PMKRI, GMKI, dan sebagainya. Dengan semangat agent of changes, agent of control, para wartawan muda ini maju tak gentar.

Persoalan pertama muncul ketika nama 15 wartawan baru itu dicantumkan dalam boks redaksi. Ada pengurus PWI Maluku mempersoalkannya. Menurut orang PWI, nama dalam boks redaksi hanya dibolehkan jika seseorang sudah punya kartu anggota PWI.

Persoalan berikut muncul di lapangan. Sejumlah pejabat, karena mendapat suntikan dari orang PWI, mereka ikut-ikut mengatakan, hanya melayani anggota PWI. Demikian pula sejumlah wartawan senior, jika hendak wawancara doorstopping, mereka meminta reporter Suara Maluku untuk tidak ikut dalam wawancara itu.

Saban hari, ada saja laporan lapangan tentang perlakuan diskriminatif yang menimpa reporter Suara Maluku. Orang-orang Humas Pemprov Maluku pun kerap marah-marah reporter Suara Maluku yang datang ke kantor gubernur.

Karena sudah terlalu banyak ‘sakit’ ditekan, rapat redaksi kemudian memutuskan, memboikot pemberitaan kegiatan Pemprov Maluku, termasuk gubernur. Usul ini diajukan oleh seorang wartawan. Semua reporter langsung setuju. Semua tepuk tangan, merasa bangga bisa memboikot pemberitaan tentang pemerintah.

“Kalau kita boikot pemberitaan aktivitas gubernur, itu berarti kita sekaligus melakukan sabotase informasi. Orang Maluku perlu tahu, apa yang dilakukan pemerintahnya. Jadi, saya usul, kita tetap melakukan liputan dan pemberitaan seperti biasa, hanya saja, nama gubernur tidak usah kita tulis,” kata Sam Abede Pareno, Pelaksana Harian Pemred Suara Maluku.

Cara ini kami lakukan. Reporter tetap hadir mengikuti aktivitas gubernur, menulis, dan menyiarkan berita. Dalam penulisan berita, nama gubernur Drs M. Akib Latuconsina selalu dihapus. Jadi yang tertinggal hanyalah “Gubernur Maluku” tanpa “Drs M. Akib Latuconsina”.

Pak Akib saban pagi membaca Suara Maluku. Ia merasa ada yang salah di dalam pemberitaan. Sehari, dua hari, dan seterusnya. Tidak sampai 20 hari, Pak Akib langsung mengirim seorang mediator datang ke Suara Maluku. Namanya Dra Elsina Pattiasina, alias Ibu Els.

“Ibu Els ini selalu bantu katorang di kantor gubernur,” kata wartawati Sien Luhukay.

Melalui mediasi Ibu Els, jadilah pertemuan Suara Maluku dengan Pak Akib dan Ibu Mamu Latuconsina. Ada pertemuan di kantor, ada pertemuan di Rumah Dinas Mangga Dua. Saya tidak ikut di Mangga Dua, tetapi saya ikut di Kantor Gubernur.

Plh Pemred Suara Maluku Sam Abede Pareno dan Pak Akib sama-sama saling buka-bukaan perasaan masing-masing. Intinya, semua ingin melihat Maluku lebih baik. Suara Maluku dan Pemda Maluku adalah mitra.

Pertemuan ini mengakhiri “ketegangan semu” yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Wartawati Sien Luhukay diperbolehkan ke kantor gubernur dengan celana panjang jins, tanpa harus ditegur satpam atau pegawai kantor gubernur.

“Kalau Rudi Fofid ini, dia orang Kei, Pak Akib. Dia urus olahraga dan seni-budaya,” kata Sam Abede.

“O bagus. Apa yang harus kami pemerintah daerah lakukan untuk seni-budaya?” Tanya Pak Akib.

Mama yo. Saya kaget. Saya tidak datang dengan jawaban siap dari rumah. Pertanyaan mendadak itu saya jawab pula secara mendadak.

“Di Jakarta, ada Dewan Kesenian Jakarta. Di Ujung Pandang ada Dewan Kesenian Makassar. Sebentar lagi, ada Dewan Kesenian Irian Jaya. Saya kira, Maluku juga perlu wadah semacam itu,” usul saya begitu saja.

“Oke, dicatat yah. Kita bikin semacam lembaga seni atau lembaga kebudayaan daerah Maluku,” kata Pak Akib kepada stafnya yang hadir dalam pertemuan itu.

Saya tidak tahu bagaimana proses selanjutnya, tetapi Pak Akib kemudian membentuk Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku (LKDM) yang masih bertahan sampai sekarang, dipimpin Prof Dr Tony Pariella.

Suara Maluku dan Pemprov Maluku kemudian menjadi intim, tanpa perselingkuhan jurnalistik-birokrasi. Artinya, Suara Maluku tetap kritis tanpa dibayar satu peser pun, kecuali kami minta langganan surat kabar bisa dibayarkan tepat waktu dan pemda kiranya beriklan di Suara Maluku pada momen tertentu. Selebihnya adalah keterbukaan akses. Jangan halangi wartawan yang hendak meminta keterangan.

“Jalani saja. Kalau ada apa-apa di dinas-dinas, di kabupaten-kabupaten, laporkan kepada saya,” kata Pak Akib.

IBU MAMU DAN AIB IBU DUA-BAPA DUA

Sebelum adanya kerikil kecil dalam relasi Suara Maluku dengan Pemprov Maluku, sebenarnya ada satu kejadian yang tidak terkait dengan Suara Maluku, yaitu mengenai Ibu Mamu Latuconsina, istri Pak Akib.

Belum tiga bulan Pak Akib jadi gubernur dan Ibu Mamu jadi Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Maluku, sudah beredar sebuah gosip di kalangan masyarakat. Kami seluruh wartawan pun mengetahui gosip itu.

Alkisah menurut gosip, pada saat pertama kali menyampaikan sambutan sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Maluku, Ibu Mamu hanya membacakan sambutan tersebut apa adanya sesuai naskah sambutan tertulis.

Dalam pembukaan sambutan, ada ucapan salam, lantas menyapa pejabat penting yang hadir, dan akhirnya, kepada ibu-ibu dan bapak-bapak. Masih menurut gosip itu, pada naskah sambutan di tangan Ibu Mamu, tertulis secara singkat: “Ibu2 dan Bapak2”.

“Ibu Mamu baca, Ibu dua dan bapak dua,” demikian selalu diceritakan dari mulut ke mulut.

Kami di Suara Maluku merasa tidak penting memuat berita seperti itu. Tetapi berlangsung diskusi di antara kami. Sambutan Ibu Mamu itu, berlangsung di mana pada acara yang mana, kapan? Tidak ada satu pun yang tahu jawabannya.

Kalau ada orang menceritakan kekonyolan itu, kami selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Tetapi begitulah, orang yang bercerita dengan tawa suka cita, selalu tidak bisa menjawab, kejadiannya di mana.

Para wartawan juga melihat karakter dan gaya penulisan resmi sambutan-sambutan di jajaran pemerintahan, tidak pernah sekalipun ada penulisan singkatan Ibu2 dan Bapak2. Sambutan resmi gubernur dan ketua tim penggerak PKK selalu ditulis secara lengkap.

Meskipun Pak Akib pernah menjabat Dekan Fekon Unpatti, Direktur Utama Bank Maluku, dan akhirnya jabat gubernur, ia tetap sederhana. Ibu Mamu pun demikian. Ia lulusan Sekolah Kepandaian Puteri Tingkat Atas, bukan perempuan buta huruf atau gagu. Keduanya pun sangat terbuka.

“Jangan berjalan seperti orang kampung berjalan ke kebun,” kata Ibu L. Tanasale, istri Sekda Maluku saat mengatur protokoler.

Ibu Tanasale memang memiliki keahlian seperti Mien Uno, ibunda Sandiaga Uno. Mereka menata kepribadian, penampilan, bahasa tubuh, mimik, dan sebagainya. Hal ini biasa dijalani para selebriti, kalangan profesional, politisi, maupun birokrat.

Bagaimana kalau Ibu Mamu dan Pak Akib mendengar gosip “ibu dua bapa dua?” Ternyata kabar itu sampai di telinga pasangan ini. Ibu Mamu biasa-biasa saja. Ia hanya heran, geleng kepala, dan tidak memperlihatkan emosi yang meledak.

Sebaliknya, Pak Akib marah besar. Pak Akib bahkan mengeluarkan kata makian, sama persis dengan yang dilontarkan Gubernur Murad Ismail. Bedanya, Pak Akib melontarkan hal itu di kalangan terbatas, tidak ada wartawan, dan bukan pada sebuah acara resmi.

Pak Akib marah dan memaki, tetapi kemudian ia membentuk tim investigasi. Tim itu ditugaskan mencari dan menemukan siapa yang menyebarkan gosip itu. Tim invesigasi kemudian menemukan di sebuah desa.

Seorang guru perempuan menasihati anak-anak di dalam kelas. Ia meminta anak-anak supaya disiplin, dan jangan malas belajar. Harus belajar yang keras.

“Kalau malas, nanti kalian besar akan seperti Ibu Mamu, istri Gubernur Maluku. Bayangkan, di sambutan ditulis Ibu2 dan bapak2, Ibu Mamu baca sebagai ibu dua bapak dua,” kata ibu guru, membuat anak-anak tertawa-tawa.

Masing-masing anak sekolah pulang ke rumah, lalu bercerita tentang “ibu dua dan bapak dua”. Meskipun belum ada SMS, WA, atau media-media sosial seperti sekarang, namun “mulut-gram” lebih hebat dari telegram dan radiogram. Gosip cepat berhembus tiada terkendali.

Saya tidak punya cerita bagaimana nasib ibu guru itu, tetapi terbukti bahwa Ibu Mamu tidak pernah punya aib dengan “ibu dua dan bapak dua”. Bagian ini perlu saya tulis di sini, sebab hingga kini, masih ada orang yang mengira, gosip “Ibu dua bapa dua” adalah sebuah fakta, padahal hoaks belaka.

SUKUN

Saya tetap ingat, bahwa Ibu Mamu memang punya kultur Maluku yang kuat, di dalam dirinya yang sederhana. Ia tidak pernah mengubah penampilan supaya terlihat “high profile” dengan busana modern, atau hal-hal menor.

Ibu Mamu tetap disiplin makan makanan kampung, rebus-rebusan, meskipun di rumah gubernur selalu tersedia segala jenis makanan untuk jamuan-jamuan resmi. Kalau bepergian ke hotel, ke kota lain, ke manapun, makanan khusus khas kampung seperti pisang rebus, ikan kuah bening, sawi rebus, selalu dibawa serta.

Sekali-kali, dalam berbagai kesempatan, Ibu Mamu berdiri meninggalkan Pak Akib makan sendiri. Ibu Mamu datang menengok para wartawan.

“Dorang sudah makan? Kalau belum makan, itu ada makanan banyak. Jangan sampai lapar,” kata Ibu Mamu sambil mengajak wartawan-wartawan menuju meja utama.

Sebuah karya Pak Akib yang spektakuler namun dianggap remeh oleh banyak orang adalah kampanye tanam sukun dan makan sukun. Sukun adalah penyanggah pangan yang hebat selain sagu, ubi, pisang, dan kacang, kata Pak Akib selalu. Pak Akib dan Ibu Mamu bahkan selalu makan sukun rebus di rumah jabatan mereka.

Ketika lebih 20 tamu dari Parlemen Eropa ke rumah Manggadua, Ibu Mamu menyuguhkan kripik sukun. Sukun diiris tipis, bentuk segitiga, ukuran jempol kecil, tamu-tamu Eropa menyantapnya sampai habis di piring. Mereka bahkan bertanya, makanan apakah gerangan itu.

Pak Akib menjelaskan tentang buah sukun, tetapi waktu itu, penerjemah juga kesulitan menjelaskan buah sukun. Ibu Mamu yang duduk di samping gubernur, tiba-tiba berdiri lalu berjalan ke belakang. Ia tidak perintah staf rumah tangga gubernur melainkan langsung turun tangan. Sebentar saja, ia sudah datang dengan satu buah sukun di tangan. Semua jadi kagum.

BANTU PMKRI

Saya pernah mengantar dua adik dari PMKRI Cabang Ambon ke Gubernuran Mangga Dua. Waktu kami tiba di gerbang, sudah terlihat Ibu Mamu baru saja melepas dua tamu meninggalkan pintu. Ia tetap berdiri di sana, karena melihat kami bertiga.

“Selamat siang. Bagaimana?”

Astaga. Ibu Mamu lebih dulu menyapa kami.

“Ibu, kami ini mahasiswa Katolik. Kami perlu bertemu dengan Pak Gubernur,” begitu saya jelaskan secara singkat.

“Mari, masuk dulu. Duduk dulu. Pak gubernur ada di dalam. Dorang minum teh?” Tanya Ibu Mamu.

Ibu Mamu masuk ke dalam. Ia keluar dengan baki dan tiga cangkir. Ia mengatur sendiri di atas meja dan menyilakan kami minum.

“Bapak ganti baju dulu baru datang. Kalau di Islam itu ada HMI, dorang mahasiswa Katolik nama apa? Dorang tinggal di mana? Dorang ada bawa proposal?” Begitulah Ibu Mamu menanyakan hal-hal mengenai kami.

Pak Akib keluar. Setelah perkenalkan diri dan mengutarakan maksud kedatangan kami, proposal pun keluar. Pak Akib membaca surat pengantar. Begitu Pak Akib membaca proposal, Ibu Mamu langsung menyentuh lengan Pak Akib.

“Bantu dong jua. Ini anak-anak mahasiswa Katolik. Dorang jauh-jauh dari Poka,” bujuk Ibu Mamu.
Pak Akib masuk. Ia keluar dengan uang sebanyak angka di proposal. Ibu Mamu menambah uang transpor untuk kami bisa pulang ke Poka. Alhasil, sumbangan Pak Akib-Ibu Mamu bisa kami pakai untuk kepentingan kaderisasi mahasiswa Katolik selama tiga hari di Wisma Samadi Gonsalo Veloso.

Saya menutup tulisan sederhana ini dengan doa tulus, semoga jiwa Pak Akib dan Ibu Mamu tenang di alam baka. Terima kasih, pernah datang ke kampung saya, Ngilngof, untuk tanam sukun.

Kepada para pembaca, jika ada orang bercerita tentang “aib ibu dua bapak dua”, mohon beri klarifikasi secara damai, bahwa peristiwa itu hanya gosip, kosong, hampa, hoaks.

Ambon, 29 Desember 2020

Penulis adalah Redaktur Pelaksana Media Online Maluku Post

Pos terkait