Benarkah Makanan Pokok Kita (Masih) Sagu?

  • Whatsapp

Oleh Falantino Eryk Latupapua

Pagi ini, sarapan saya adalah tiga potong “kue” sagu kering, sepiring kecil kacang tanah goreng, serta segelas teh manis yang salobar untuk mencegah kelebihan asupan gula. Segera setelah menginjak usia kepala empat, saya memutuskan untuk pelan-pelan mengurangi konsumsi karbohidrat agar tubuh tetap sehat.

Saya sudah sangat jarang menikmati makanan yang sudah akrab sejak kecil ini. Beberapa hari lalu, ketika tiba-tiba merasa rindu (lagi), saya meminta istri saya untuk membelinya pada seorang penjual sagu keliling yang sesekali mampir ke kompleks perumahan tempat saya tinggal.

Pada kesempatan sebelumnya, saya mencoba mengajak dua anak lelaki saya untuk makan sagu dengan cara ini. Si sulung baru saja lulus sekolah dasar dan adiknya baru akan memasuki PAUD. Keduanya bergidik dengan wajah masam saat saya menyuapkan sagu kering yang sudah melempem sesudah dicelup dalam teh manis hangat, menelan dengan terpaksa, lalu menolak suapan kedua. Mulai saat itu hingga hari ini, mereka menjauh meskipun terus saya ajak untuk bersama-sama menikmatinya. Semua cerita heroik saya tentang sagu sebagai makanan “orang tatua”, makanan “perjuangan” ternyata tidak lagi mempan. Mereka tetap bergeming.

Dulu, saat saya dan ketiga saudara laki-laki saya masih kecil, orang tua kami yang guru dan bergaji pas-pasan selalu menghidangkan sagu, rebusan singkong, keladi, atau petatus (ubi jalar), pada setiap kesempatan. Jika kami menggerutu, maka sekumpulan kalimat wajib yang “mendidik” pun segera diucapkan: “anana ini kalo prang dong mati kamuka barang makang balagu…”; “anana ini ni dong lahir mangkali deng roti”; “ini makanan kasiang, katong bukang orang kaya jadi seng bole balagu”…. Kalimat-kalimat inilah yang sekarang saya modifikasi sedemikian rupa dan saya ucapkan kepada anak-anak. Hasilnya, mereka menatap saya dengan pandangan kosong dan sedetik kemudian berubah jadi gelengan kepala.

Saya pernah membaca suatu artikel panjang di salah satu portal berita daring yang terkenal, yang menghubungkan dengan gamblang antara kisah sukses seorang taipan mie instan yang terkenal dengan “penjajahan” makanan pokok di Indonesia mulai masa Orde Baru, mulai dari beras hingga (saat ini) terigu yang berujung pada nyaris punahnya makanan pokok daerah. Menurut penulisnya, sejarah panjang yang berorientasi kepentingan ekonomi konglomerasi pada masa Orde Baru-lah yang “berdosa” atas pemaksaan konsumsi beras, dimulai dari para pegawai negeri dengan jatah beras bulanan di karung goni yang kadang penuh kutu, hingga kemudian impor terigu, lalu ledakan produksi mi instan yang hari-hari ini telah sangat mencengangkan. Sesudah era mi instan, kita semakin mudah menyaksikan invasi makanan berbasis tepung terigu lewat berbagai media, termasuk internet. Makanan berbasis terigu yang dulu jadi makanan mewah, kini jadi makin biasa.

Pada masa kecil ayah saya, nasi menjadi makanan mewah yang muncul hanya pada hari Minggu sebagai hari yang dimuliakan oleh komunitas kristen Maluku. Pada masa-masa awal sekali, ketika negara sedang susah, orang tua dari orang tua saya bahkan pernah menghidangkan bulgur atau sorgum, sejenis biji-bijian serupa beras yang berwarna agak coklat dan baunya seperti kotoran. Pada hari-hari selain Minggu, menurut cerita beliau, mereka mengonsumsi singkong, papeda, atau keladi sebagai makanan pokok. Implikasinya, sejak awal sagu memang sudah dikonstruksikan sebagai makanan orang miskin, marginal, makanan orang kasiang, dan lain sebagainya, bukan oleh orang lain melainkan oleh orang Maluku sendiri. Buktinya, daur konsumsi beras yang menggantikan makanan pokok lain secara pelan-pelan, dapat ditelusuri secara diakronis dalam kehidupan keluarga menengah ke bawah berlangsung hampir tanpa hambatan, seperti yang terjadi pada keluarga kami. Secara pelan-pelan, konsumsi papeda/singkong/keladi,dll diubah menjadi kewajiban menghidangkan beras pada hari Minggu. Pada waktu sesudah itu, beras mulai sering dihidangkan; pada awalnya beras kutuan dan kuning warnanya serta rasanya tidak enak. Seiring membaiknya perekonomian keluarga, mulailah kami diberi beras yang lebih putih, bersih, pulen, dan wangi. Makanan beras pun mengalami modifikasi secara masif. Makanan yang khas Maluku seperti babengka haruku atau nasi pulut dalam berbagai varian pun sejatinya adalah hasil dari modifikasi yang masif itu. Hari-hari ini, beras pulen dan wangi pun mulai digeser oleh terigu. Anak-anak saya sangat antusias dengan sup krim yang dihidangkan dengan roti panggang bawang putih, atau pizza, atau ayam goreng ala Amerika tetapi uring-uringan ketika harus makan bubur bercampur jagung, sayur kelor, dan hati ayam.

Seingat saya, mengemukanya wacana beras sebagai makanan pokok Indonesia pertama kali saya sadari lewat munculnya hegemoni Pulau Jawa sebagai pusat, sebagai simbol kekuasaan dan kemakmuran. Hal itu bukan saja terjadi pada tataran kebijakan pemerintah, melainkan juga terjelma dalam berbagai media dan bentuk penyebaran ideologi. Buku-buku pelajaran sekolah dasar dihiasi dengan pelajaran membaca dengan ilustrasi dan kalimat wajib: “Pak Tani menanam padi di sawah”. Saya belum pernah menemukan buku bacaan wajib SD, setidaknya pada zaman saya bersekolah dasar hingga menengah, yang mengandung ilustrasi lokal semacam jagung atau sagu. Secara pelan-pelan, wacana sagu sebagai makanan pokok mulai meluntur menjadi makanan kecil untuk sarapan pagi, kemudian makanan “sesekali”, lalu makanan langka dan mewah yang dihidangkan kepada para pejabat sebagai simbolitas formal menghargai kuliner daerah. Hari-hari ini, papeda dapat dinikmati di restoran dengan harga mahal sementara pada sisi yang lain, papeda sudah tidak banyak dihidangkan di area domestik karena generasi muda sudah mulai menganggapnya asing. Papeda bahkan disebut oleh Dieter Bartels sebagai “lebih banyak nilai romantisme ketimbang nilai gizinya.”

Ketika kita kembali bertanya, “Benarkah makanan pokok kita adalah sagu?” Dengan mencermati fakta-fakta yang telah dijelaskan di atas, tentu saja tidak. Makanan ternyata bukanlah sesuatu yang absolut sebagai identitas sebagaimana anggapan kita terhadap unsur lainnya seperti nama atau kategori suku bangsa. Bagi saya, sagu tinggal sekadar romantisisme yang akan semakin terkubur dalam-dalam. Hal ini bukan baru berlangsung sekarang melainkan sudah sejak lama, dengan relasi kuasa sebagai tonggak penambatnya yang utama. Ketidakmampuan kita menjadi pionir teknologi yang unggul pada suatu masa secara pelan-pelan akan membuat entitas budaya yang kita anggap unggul, beradab, dan penting akan tergusur dan menjadi tidak lagi nyata. Teknologi media saat ini membuat semua yang tidak cukup mampu memanipulasi citra unggul, beradab, digemari, dan memasyarakat, akan lenyap. Meminjam istilah Baudrillard, sagu sebagai makanan pokok tradisional telah menjadi realitas yang kehilangan makna; tidak lagi memiliki acuan referensial, tidak lagi esensial. Sagu adalah simulacra di tengah belantara internet dan di tengah puisi atau nyanyian tentang pelestarian tradisi dan budaya yang gaduh-gaduh sayup.

Lantas, apakah internet menjadi satu-satunya penyebab sagu menjadi hiper-realitas? Saya rasa tidak sepenuhnya demikian. Pada saat pohon-pohon sagu ditebangi hanya agar bisa mendirikan gedung megah sebagai simbol kemajuan dan keberadaban, saat itulah kita meletakkan titik awal suatu cerita panjang tentang sagu sebagai realitas yang kelak tidak lagi berwujud. Jika pertanyaan yang sama kembali mengelitik, kita cukup melihat ke meja makan kita masing-masing dan bisa kembali terdiam dan merenung. Sudahkan Anda makan sagu hari ini?

Penulis adalah Dosen FKIP Unpatti; Pemerhati Budaya Maluku

 

Pos terkait