Liturgi, Sejarah, Jurnalistik, Sastra, dan Pesona Pastor Böhm

  • Whatsapp
Pastor Cornelis Johannes Bohm, MSC (foto fr atus mayabubun)

Laporan Rudi Fofid-Ambon

Malukupost.com – Cornelis Johannes Böhm adalah misionaris anggota Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus, Missionarii Sacratissimi Cordis Iesu (MSC). Ia lebih dari sekadar pastor dalam lingkaran Gereja Katolik di Keuskupan Amboina. Karya-karyanya melampaui beton gereja.

Sembari melaksanakan tugas-tugas imamat, pelayanan sakramental, memimpin paroki, Pastor Böhm atau juga disapa Pastor Kees, melaksanakan tugas ekstra. Salah satu yang paling menonjol adalah menulis. Ia menghasilkan banyak tulisan jurnalistik di media Keuskupan Amboina “Warkat Pastoral”, dan juga menulis sekitar 20 judul buku.

Buku-buku yang ditulisnya cukup beragam, mulai dari buku rohani Katolik, sejarah gereja, sampai ke penerjemahan karya sastra. Semua karyanya menjadi referensi bagi berbagai kalangan di dunia.

Khusus untuk Sejarah Gereja, ia menulisnya dalam beberapa seri. Sebagaimana tersimpam di Perpustakaan Rumphius, buku-buku yang ditulis Pastor Böhm antara lain “Sejarah Ringkas Kebangkitan Kembali Misi Katolik di Maluku 1886-1960”, “Sejarah Gereja Katolik di Tanimbar 1910-1995”, “Wajah Keuskupan Amboina”, “Sejarah ringkas Gereja Katolik di Maluku”.

Pastor Böhm menekuni dunia tulis-menulis selama bertahun-tahun, hampir di seluruh usia hidupnya. Tahun 2010, bersama Frits H. Pangemanan, Ia menulis “Sejarah Gereja Katolik Maluku Utara 1534-2009 yang diterbitkan Kanisius Yogyakarta tahun 2010.

Bukunya yang paling baru, juga oleh Kanisius Yogyakarta, berjudul “Sejarah Kehadiran dan Karya Tarekat MSC di Maluku Tahun 1903-2020. Buku ini baru saja dirilis bulan Agustus 2021. Artinya, inilah karya terakhirnya sebelum tutup usia.

Sebelumnya, bukunya yang lain sudah terbit untuk bacaan rohani Katolik. Misalnya, Bersua Sang Bunda, berisi 31 Renungan Tentang Bunda Maria, diterbitkan Kanisius Yogyakarta tahun 2002. Sepuluh tahun kemudian, tahun 2012, Kanisius menerbitkan bukunya “Doa-Doa Sebelum dan Sesudah Perayaan Ekaristi.

Pastor Böhm juga menerjemahkan buku karya Pastor Drabbe, MSC (1940) menjadi “Etnografi Tanimbar, Kehidupan Orang Tanimbar Zaman Dulu. Ia mengerjakannya bersama Karel Mouw, dan diterbitkan oleh Penerbit Gunung Sopai, Yogyakarta.

Buku lain yang diterjemahkannya adalah karya H. Geurtjens MSC menjadi “Legenda-Legenda Kei: Sekumpulan Mitos, Legenda, dan Cerita Masyarakat Kei”. Buku ini menjadi referensi baru bagi banyak peminat sastra di Maluku. Selain cerita rakyat di Kei, Pastor Pastor Böhm juga menulis sendiri cerita rakyat Tanimbar.

Sebuah kerja paling heroik juga dilakukan tahun 1999-2003, ketika konflik sedang berlangsung di Maluku. Pastor Böhm saban hari menulis dan menyiarkan informasi kronikal tentang apa yang terjadi di Maluku. Ia menulis dari sumber primer maupun sumber sekunder yang terverifikasi.

Di tengah arus berita media massa yang simpang-siur, gosip, provokasi, Pastor Böhm membuat kronik dengan gaya jurnalistik, mencari unsur-unsur 5W1H yang lazim digunakan wartawan, sehingga informasi singkat yang disiarkan bisa menjadi referensi yang dapat dipercaya.

Setelah konflik berlalu, ia mengumpulkan kembali semua kronik itu dan merangkumnya dalam buku Lintas Kerusuhan di Maluku. Karya ini diterjemahkan ke Bahasa Inggris menjadi “Brief chronicle of the unrest in the Moluccas, 1999-2003”.

Ada karya spektakuler yakni buku liturgi ribuan halaman namun Pastor Böhm selalu menolak menyebut karya tersebut sebagai karya pribadi karena ia bekerja dalam tim. Akan tetapi, dari berbagai kesaksian terhadap apa yang ada di meja kerjanya atau di layar komputernya, bisa diketahui, ia sedang bekerja untuk buku-buku liturgi Gereja Katolik Indonesia.

“Pastor Böhm tidak pernah jadi anggota resmi di Komisi Liturgi KWI, tetapi terlibat dalam penerjemahan dan pemeriksaan terhadap teks-teks dan dokumen-dokumen liturgi sejak lama hingga akhir hayat. Ia terlibat dalam tahap-tahap awal terjemahan teks Missale Romanum, Dokumen Redemtionis Sacramentum, dan turut mengedit Kalender Liturgi dll,” kata Pastor Bernard Rahawarin yang dihubungi, Sabtu (21/8) pagi ini.

Pastor Böhm adalah salah satu pastor yang juga menaruh minat besar dan sangat menghormati ilmuwan G. E. Rumphius. Ia ikut mengumpulkan buku-buku Maluku untuk menopang perpustakaan yang dirintis oleh Mgr Andreas Sol MSC.

Untuk menopang minatnya dalam dunia tulis-menulis, Pastor Böhm juga menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi. Ia membuat tulisan tangan, menggunakan mesin ketik tradisional, pindah ke mesin ketik listrik, menggunakan mesin stensil, lantas mengoperasikan mesin fotokopi.

Ketika teknologi komputer sudah tiba, Pastor Böhm cepat menyesuaikan diri menggunakan DOS/WS, terus sampai MS Word. Ia pun membuat katalog digital Rumphius.xls sehingga pengunjung Perpustakaan Rumphius bisa memeriksa sendiri katalog perpustakaan dari rumah atau telepon genggam.

Ketika belum ada facebook dan twitter, Pastor Böhm sudah menggunakan miling list untuk menyebarkan informasi tentang Maluku. Usia yang makin menua tidak membuatnya gagap teknologi.

Melihat sepak terjangnya di Maluku, maka Pastor Böhm boleh disebut sebagai pastor serba bisa. Ia memiliki minat pada beberapa spesialisasi dan ditekuni secara serius dan penuh disiplin. Selain mengajar rupa-rupa mata kuliah di Sekolah Tinggi Pendidikan Agama Katolik (STPAK) Yohanes Penginjil dan Seminari Tinggi Fransiskus Xaverius, ia pun sangat menguasai musik gereja.

Dari berbagai kesaksian dan pengalaman keterlibatan berbagai pihak selama bertahun-tahun, terungkap Pastor Böhm sangat teliti dalam hal musik, artikulasi saat bernyanyi, intonasi saat baca kitab suci, dan berbagai hal teknis, termasuk juga penulisan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Dari berbagai kiprahnya, tidak heran pada suatu ketika, Pastor Böhm hadir di Yogyakarta, 22-24 November 2018. Ia diundang Panitia Borobudur Writers and Cultural Festival. Di sana, ia mempresentasikan hidup dan karya Rumphius, terutama karya monumental Herbarium Ambonense.

Pastor kelahiran Saantport, Velsen, Belanda, 5 November 1935 ini ditahbiskan menjadi pastor MSC 4 September 1960. Setelah menjadi guru seminari selama enam tahun di Tielburg, Uskup Andreas Sol mengajaknya ke Maluku. Putera pasangan Johannes Bernardus Bohm dan Geertruida Maria Glas itu akhirnya mengembara di Maluku.

Ia mulai tugas perdana di Waur Kei Besar (Februari 1966-Juli 1967), terus berpindah-pindah menjadi Rektor Seminari Langgur dan Pastor Pembantu Stasi Watraan (1967-1973), Pastor Paroki Langgur
(1973-1975), Paroki Santa Maria Bintang Laut (1975-1980), Rektor Seminari Saumlaki, Pastor Paroki Olilit Timur, dan Arui (1981-1995), Ahuru Ambon (1995-2002), Rumahtiga (2008-2013), hingga Halong (2013-2015).

Sejak 2008-akhir hayatnya ia menjadi Dosen STPAK dan sejak 2016 sebagai dosen Seminari Tinggi Fransiskus Xaverius Rumahtiga. Di Rumahtiga jualah sosok yang tidak bisa duduk diam dan selalu bergerak ini pernah mengalami kegetiran fisik. Ia pernah terjatuh dan cedera permanen. Operasi pada kakinya menyebabkan sebagian dagingnya diangkat. Akibatnya, pastor berjalan tidak rata.

Meskipun terlihat seperti pincang, hidup dan karyanya tidak pincang. Pastor Böhm tetap sederhana, rendah hati, kerja keras, senyum damai. Di Rumahtiga jualah, ia menghembus nafas terakhir, di tengah umat yang mencintainya.

“Selamat jalan, pesona!”  Tulis Leonard Balia,  Anggota Presidium Hubungan Masyarakat Katolik DPC PMKRI Cabang Ambon di akun facebooknya, sambil menyebar foto “sang pesona” di antara tumpukan buku. (Malukupost)

Pos terkait