In Memoriam: Pater C. J. Böhm, MSC

  • Whatsapp
Pastor Cornelis Johannes Bohm, MSC (foto fb robert b baowollo)
Pastor Cornelis Johannes Bohm, MSC (foto fb robert b baowollo)
Robert B. Baowollo

Catatan Robert B. Baowollo – Yogyakarta

Ia adalah seorang imam sederhana yang paham apa arti menjadi seorang misionaris. Ia mengenal dan menyapa umatnya satu per satu – seperti Yesus mengenal dan menyapa domba-domba-Nya.

Kami memanggil dia Pastor Böhm. Sebagian besar umat yang tak terbiasa dengan huruf vokal yang ada titik dua di atas (“umlaut”) memanggil beliau sebagai Pastor Bem. Dipanggil Böhm atau Bem sama saja. Ia tetap tersenyum ramah.

Saya mengenal beliau sejak hari pertama saya menginjakkan kaki di Ambon pada tahun 1979. Saya tinggal di Asrama Mahasiswa Wojtila – Benteng. Setiap hari bisa ‘main-main’ ke Pastoran Benteng, kadang ikut membantu Willem Mado dan Dora Ohoiwutun – dua staf inti Paroki Santa Maria Bintang Laut Ambon, terutama untuk urusan stensil Warkat Pastoral.

Saya juga aktif sebagai anggota seksi liturgi paroki, jadi dirigen dan anggota koor paroki. Pada suatu ketika Pastor Böhm yang baru pulang cuti dari Belanda membawa ole-ole untuk paroki sebuah orgel bekas sumbangan sebuah keluarga di Jawa. Kehadiran orgel itu mengungkap sisi lain dari Pastor Böhm. Menurut Uskup Amboina pada waktu itu, Mgr APC Sol, MSC, Pastor Böhm adalah organis terbaik di seminari asalnya dulu. Pimpinan MSC di Holland dengan sangat berat hati melepas sang organis untuk berangkat ke tanah misi dan bertugas di sebuah paroki dengan gedung gereja tanpa orgel.

Dan tentu saja kehadiran sebuah orgel modern di Gereja Santa Maria Bintang Laut tidak serta-merta membuat ibadah misa jadi semarak. Tak mungkin imam yang berdiri di altar harus juga turun dan duduk di bangku orgel untuk mengiringi lagu selama misa.

Untung saya punya bekal otodidak belajar harmonium di Seminari San Dominggo Hokeng dan pengetahuan musik yang cukup baik dari guru musik kami, maestro Pater Anton Sigoama Letor SVD. Selama bertahun-tahun saya mengiringi misa dengan organ. Di saat saya latihan persiapan, Pastor Böhm sering jalan mondar-mandir dari sakristi ke pintu depan. Saya tahu ia sedang memperhatikan apakah saya bisa main orgel untuk iringi misa. Ia tak pernah berhenti untuk menyapa, mengingatkan, atau mengoreksi permainan saya. Ketika saya melirik beliau dan mata kami bertemu, ia hanya tersenyum, lalu menganggukkan kepala tanda “teruskan latihanmu!”

Ketika ia dipindahkan memimpin Puspaswil di Tanimbar kami masih sempat ketemu ketika saya memimpin lokakarya Kerasulan Awan di wilayah itu. Ia memberi dukungan penuh atas kegiatan saya, termasuk memberi kendaraan dan sopir yang boleh saya pakai untuk ‘lihat-lihat’ sebagian Wilayah Tanimbar.

Ketika saya kembali dari Jerman dan mengunjungi Ambon dalam rangka penelitian, pada saat itu keuskupan Amboina sedang mengadakan Synode Keuskupan. Saya ditarik masuk ke dalam arena synode. Adalah Pastor Böhm yang jadi Kepala Puspaskup ‘menyuruh’ saya untuk mengenakan tanda peserta dan hadir sebagai peserta penuh (bukan peninjau).

Apa yang paling berkesan tentang pribadi Pastor Böhm?
Selama tinggal di Benteng saya menjadi anggota beberapa Rukun Doa dalam paroki Maria Bintang Laut, antara lain Rukun Ratu Permaisuri Surga (Belakang Kamar Mayat, Kudamati), Rukun Santa Maria Bintang Kejora (OSM atas), dan Rukun Doa St Patrisius(?) (lupa) di Gunung Nona. Pada ketiga rukun doa inilah saya menyaksikan kedekatan Pastor Böhm sebagai seorang gembala (pastor) dengan domba-domba (umat) yang menjadi tanggungjawabnya.

Pastor Böhm memiliki jadwal kunjungan bergilir ke semua rukun doa, membawa buku catatan “Duku” (Dana Umat Katolik Maluku) mengumpulkan sumbangan dari umat untuk misi gereja, mencatat dengan tertib dan melaporkan kepada dewan paroki. Tapi bukan itu yang terpenting.

Pastor Böhm adalah pastor yang mengenal dari dekat dan secara personal setiap keluarga, menghafal nama setiap anggota keluarga, dan menguasai persoalan setiap anggota keluarga mulai dari masalah sekolah anak-anak, yang sakit, dsb. Ketika kami berdiskusi di pastoran tentang orang-orang Flores di paroki, Pastor Böhm dapat menyebut nama dan menunjuk di mana rumah bapak ini, ibu itu, berapa anak mereka, siapa saja nama anak-anak itu, kapan terakhir ia mengunjungi mereka, dst.

Saya tidak ingin membuat perbandingan, Pastor Böhm lebih baik dari siapa, atau sebagai imam dan misionaris lebih baik dibanding imam yang mana, dst. Tetapi perkenalan saya dengan imam-imam misonaris MSC (Hati Kudus) seperti Pastor Böhm, Pastor Somer, Pastor Straeter, Pastor Jan van de Made, Pastor Bose, Mgr Soll, dll memberikan satu kesan yang membekas di hati saya: Mereka adalah orang-orang sederhana yang sudah selesai dengan diri mereka dan hanya ingin bekerja sebaik mungkin di tanah misi. Itu saja!

Suatu musim panas secara kebetulan saya berpapasan dengan Pater Somer di jalan antara Oostgeest dan Leiden, Pater Somer berjalan kaki membawa beberapa map, mirip seperti ia berjalan di Langgur Kei. Pater Straeter ke mana-mana tetap dengan verspa tua berwarna hijau kusam. Juga Pater van de Made. Uskup Sol malah lebih ekstrem: Naik sepeda antara rumah keuskupan di Batu Meja menuju Rumah MSC di Wainitu atau menyusur Sungai Wailela berjalan kaki hanya untuk mandi di bagian dalam yang sunyi .

Di dinding FB Pendeta Jacky Manuputty siang ini ia menulis bahwa Pastor Böhm adalah misionaris asal Belanda yang terakhir yang bekerja di keuskupan Amboina. Kata ‘misionaris terakhir” …. sesuatu yang lain ikut berakhir (juga)?

Pastor Böhm, Selamat Jalan! Ik ben trots op je!

Penulis adalah pekerja kemanusiaan, tinggal di Yogyakarta

(Tulisan ini pertama kali disiarkan di akun facebook.  Atas izin penulisnya, Maluku Post memuatnya di rubrik ini untuk pembaca.  Terima kasih.   Salam Redaksi)

Pos terkait