Kota Langgur Adalah Tanah Sejarah, Negeri Para Martir

Pastor Adriano Rahaded SVD. (foto: dok.pribadi)

Sebuah catatan seorang Imam di Brazil

Langgur, MalukuPost.comApa arti sebuah nama jika hari ini dikenal dan esok dilupakan ? Apa arti sebuah nama jika hari ini disanjung, dipuja, dimuliakan, disakralkan, tetapi esok dilecehkan ? Akankah nama itu menjadi abadi atau nirmakna ? Nama adalah tanda. Dia menunjuk pada identitas diri suatu pribadi, tempat atau suatu bangsa.

Demikian ucapan Pastor Adriano Rahaded SVD, seorang Biarawan (Imam/Pastor) asal Kepulauan Kei (Duroa), Provinsi Maluku, Indonesia, yang kini bertugas di negeri Samba Brazil saat dihubungi wartawan Malukupost.com lewat telepon selulernya, Jumat malam (8/10/2021) atau Jumat pagi (waktu Brazil).

Usai dithabiskan sebagai Imam di Kupang oleh Uskup Agung Petrus Turang (tanggal 24 Oktober 2012), Pastor Adriano kemudian ditugaskan di negara Brazil hingga saat ini.

Yang unik dari Imam yang satu ini adalah, tanggal thabisan Imamatnya sama dengan tanggal lahirnya yakni 24 Oktober.

Bertepatan dengan hari ulang tahun Kota Langgur ke-10 sebagai Ibukota kabupaten Maluku Tenggara (Malra) di hari ini, Pastor Adriano mengingatkan betapa pentingnya Langgur dalam sejarah Gereja Katolik di Kepulauan Kei.

Pastor Adriano Rahaded SVD

“Langgur adalah sebuah nama. Dia adalah kisah tentang nama, sejarah, iman, kemartiran dan hidup itu sendiri. Disana, misi berawal, kekatolikan berakar, iman bertumbuh tanpa punah. Di tanah ini, makam-makam keramat para Martir terpatri indah bersama nisan-nisannya agar orang (Katolik) tahu diri darimana mereka berasal dan kemana mereka harus kembali. Pada makam-makam kudus itu, terpahat cinta paling agung, iman paling lestari,” tandasnya.

Terkait pentingnya Langgur dalam sejarah Gereja Katolik, lulusan Seminari St. Yudas Thadeus Langgur ini menegaskan Langgur adalah tanah sejarah.

“Langgur adalah tanah sejarah, negeri para Martir. Dia menjadi identitas iman, simbol lahirnya agama Katolik di Kei. Ya, dari Langgur, agama Katolik di Kei lahir, hidup, bergerak dan eksis hingga sekarang ini. Maka, jangan pernah lupa sejarah,” ungkapnya.

Diungkapnya, dari sejarah, diketahui bahwa Langgur tumbuh pesat menjadi pusat misi Katolik di kawasan timur Hindia Belanda.

Pembangunan Kapel, sekolah-sekolah, bengkel pertukangan, klinik, rumah sakit, dermaga, asrama dan lain-lain mengubah wajah Langgur menjadi kawasan pemukiman yang ramai menyaingi pusat pemerintahan kolonial di Tual kala itu.

“Tetapi dari mana munculnya kata Langgur ? Kata Langgur, konon berasal dari kata Langen Gur (Langen Sang Guru). Nama ini dipakai untuk menghormati Adolf Langen, penguasa Jerman kala itu yang juga punya andil dalam perkembangan peradaban Langgur,” terangnya.

Untuk itu, dirinya berharap orang (umat) Katolik di Kepulauan Kei selalu ingat dan terus mendoakan agar Langgur selalu diberkati.

“Hari ini, Langgur berpesta. Dari Brasil, negeri sepak bola, saya ucapkan Feliz aniversário a cidade de Langgur (selamat ulang tahun kota Langgur) sebagai ibukota Kabupaten Maluku Tenggara. Jayalah selalu tanah para Martir, Langgur Yang Mulia,” pungkasnya.

Pos terkait