Aurel Sopulatu Tentang Sampah Plastik: Nilai Rapor Kita 5, Ayo Mari Berjuang!

  • Whatsapp
Aurel Sopulattu (ketujuh dari kiri) bersama rekan-rekannya dari LebeBae Community dalam suatu aksi di Pantai Amahusu (foto koleksi Aurel Sopulatu)
Aurel Sopulattu (ketujuh dari kiri) bersama rekan-rekannya dari LebeBae Community dalam suatu aksi di Pantai Amahusu (foto koleksi Aurel Sopulatu)

Laporan Rudi Fofid-Ambon

Malukupost.com – Puteri Cilik Indonesia Lingkungan 2021 Aurel Eunike Sopulatu (13) punya opini kritis. Menurut dia, meskipun Kota Ambon berkali-kali mendapat tropi Adipura, namun kenyataan di lapangan sangat ironis. Sampah plastik sudah jadi semacam wabah yang tidak kunjung berakhir.

Aurel ungkapkan, Pemerintah Kota Ambon sudah punya program, bahkan sudah ada Perda Pengelolaan Sampah. Petugas kebersihan juga tiap hari sudah berjuang keras. Akan tetapi di berbagai sudut kota dari darat sampai ke laut, kata dia, sampah plastik masih terus saja mengepung kehidupan warga kota.

“Soal sampah plastik, kalau diberi nilai rapor, saya beri nilai lima,” katanya dalam satu wawancara dengan Media Berita Maluku Post di Ambon, Minggu (22/11).

Untuk bisa memperbaiki rapor merah dari nilai lima menjadi delapan, sembilan, bahkan sepuluh, menurut siswa kelas 2 SMP Kristen Kalam Kudus Ambon itu, semua elemen masyarakat harus terus berjuang. Bahkan, kaum remaja juga diajaknya ikut berjuang dengan karya nyata supaya bersama pemerintah ikut memerangi sampah plastik.

Aurel tidak hanya pandai mengkritik dengan memberi nilai lima untuk penanganan sampah plastik. Sebelum terpilih menjadi Puteri Cilik Indonesia Lingkungan, dia sudah aktif dalam komunitas LebeBae Community. Komunitas ini terdiri dari remaja-remaja sampai anak PAUD usia empat tahun. Mereka mempunyai program bersih-bersih lingkungan termasuk mengurus sampah plastik.

Selain sampah plastik, Aurel dan rekan-rekannya di LebeBae Community juga mempunyai program tanam pohon. Sebulan sekali atau dua kali, mereka menanam pohon di lokasi-lokasi kritis, terutama daerah penyanggah sumber air.

“Kita pakai prinsip, kalau seng sekarang, kapan lagi, kalau bukan katong, siapa lagi,” ujar Aurel.

Selain mengajak para remaja terlibat memerangi sampah plastik, Aurel menyerukan pemerintah menegakkan aturan yang sudah ditetapkan yakni Perda Pengelolaan Sampah. Alasannya, perda sudah ditetapkan, lengkap dengan sanksi-sanksi, tetapi hingga kini, pelaku pelanggaran perda tidak pernah diproses. Akibatnya, perilaku tidak disiplin sampah tidak berubah dan sampah plastik terus berserakan di mana-mana.

“Kami di LebeBae Community juga sudah bikin aturan kecil-kecil. Kalau pengurus membuang sampah sembarangan, kami kenakan denda Rp10 ribu,” ungkapnya.

MUSIK PRO LINGKUNGAN

Prestasi Aurel sebagai Puteri Cilik Indonesia Lingkungan 2021 bukanlah prestasi pertama. Sebelum ini, dia pernah menjadi juara nyanyi dalam festival bertaraf internasional di Bali dan Hongkong. Sebagai anggota Paduan Suara Berachah Kids Choir di Sekolah Kalam Kudus Ambon, Aurel dkk berhasil meraih predikat emas di kedua festival tersebut.

Saat ini, Aurel juga bergabung dengan Ambon Ukulele Kids Community (AUKC). Dia bisa bermain ukulele, gitar, dan menjadi vokalis. Bakat bernyanyi diakuinya datang dari kedua orang tua, Andre Sopulatu
dan Augie Pentury.

Bersama rekan-rekannya di LebeBae Community, Aurel bertekad akan terus bermain musik dan menggunakan musik untuk kampanye lingkungan hidup. Dia yakin, musik akan menjadi media efektif untuk membela lingkungan hidup. (Malukupost)

Pos terkait