Ambon, MalukuPost.com – Persidangan ke-42 Majelis Pekerja Lengkap (MPL) Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) resmi dibuka Wakil Gubernur Maluku (Wagub), Barnabas Nataniel Orno, Minggu (31/10/2021).
Kegiatan yang berlangsung di Elat, Kecamatan Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) ini turut dihadiri Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), Pendeta Elifas Tomix Maspaitella, Ketua DPRD Provinsi Maluku, Lucky Wattimury, Bupati Malra M. Thaher Hanubun, Wakil Bupati Petrus Beruatwarin, Deputi 1 Kantor Staf Kepresidenan RI, Febry Calvin Tetelepta, Anggota DPR RI Hendrik Lewerissa, Anggota DPRD Provinsi Maluku, Pimpinan dan Anggota DPRD Malra serta Kota Tual.
Wagub Orno dalam sambutannya mengatakan, Sidang MPL di Elat Kei Besar kabupaten Malra, menjadi sesuatu yang istimewa, sebab terselenggara pada wilayah dengan gugusan kepulauan yang indah dan mempesona, serta kekayaan warisan tradisi budaya yang luhur salah, satunya Festival Pesona Meti Kei.
“Saya patut memberikan apresiasi tinggi kepada Pemda Malra dan masyarakat setempat yang berhasil mengelola kearifan lokal ini menjadi sebuah ikon pariwisata tingkat nasional, bahkan mendunia,” ujarnya.
Selain itu, dalam relasi sosial-budaya masyarakat Evav, ada satu falsafah bijak yakni Vuut Ain Mehe Ngifun, Manut Ain Mehe Ni Tilur, dimana masyarakat Kei percaya bahwa mereka berasal dari satu sumber yang sama, memiliki ikatan persaudaraan yang kokoh, sehingga terpanggil untuk saling tolong menolong, menghormati, dan saling menjaga.
Hal tersebut tergambar jelas dalam praktek tradisi budaya Yelim, yang juga terjadi dalam moment sidang ke-42 MPL. Ini sebuah peninggalan leluhur yang patut dilestarikan dan dirawat oleh generasi ke generasi.
Wagub Orno mengakui semua itu sejalan dengan GPM yang sedang dan terus mengembangkan teologi kontekstual, yakni teologi yang mengakar pada tradisi dan budaya masyarakat setempat.
“Teologi yang bukan sekedar foto copi teologi dari luar, tetapi mengolah secara kreatif berbagai ramuan kearifan lokal dan mengembangkan pemahamanan serta cara hidup ber-Gereja yang ramah budaya dan sesuai dengan konteks kekiniian,” terangnya.
Untuk itu, MPH Sinode GPM dengan ikonnya sebagai Gereja orang basudara menjadi model kontekstualisasi berteologi di Maluku dan Maluku Utara, Indonesia bahkan dunia.
Lebih lanjut dikatakan, sub tema yang diangkat pada sidang MPL yakni membangun Gereja yang memiliki ketahanan dan daya juang demi kualitas hidup bersama di tengah pergumulan pandemi Covid-19 dan transformasi digital, sangat tepat dan relevan disaat ini, karena masih terus bejuang mengatasi pandemi Covid-19.
“Atas nama Pemda saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh umat bersama di Maluku, termasuk GPM yang selama ini telah berperan dan berkontribusi mengatasi penyebaran virus Covid-19,”ujarnya.
Menurutnya, dalam konteks perubahan menuju masyarakat digital, pemerintah Indonesia telah menggulirkan program transformasi digital yang tertuang dalam Peta Jalan Indonesia Digital 2021-2024, sebagai pedoman strategis perjalanan Indonesia menjadi bangsa digital, yang dilaksanakan melalui empat pilarm yaitu infrastruktur digital, pemerintahan digital, masyarakat digital, dan ekonomi digital.
Ini berarti seluruh warga bangsa merasa terpanggil untuk melakukan transformasi digital yang berdampak pada kesejahteraan bersama.
“Sampai disini saya mau katakan bahwa sub tema diatas menunjukan GPM sangat responsif dan memahami kondisi kekinian, antara perkembangan teknologi, kebijakan pemerintah serta kebutuhan umat. Lebih dari itu, GPM berperan aktif dalam menopang transformasi digital Indonesia. Sudah barang tentu GPM telah mengejawantahkan akta berteologi kontekstual. Jika zaman dulu konteks berteologinya adalah masyarakat tradisional dan sederhana, maka konteks saat ini adalah masyarakat kompleks dan digitalisasi,” ungkapnya.
Wagub Orno menambahkan, terait hal tersebut tentu saja pemerintah pusat maupun daerah akan terus menopang dan memfasilitasi pembangunan sarana prasarana kounikasi dan dikelola nantinya untuk membangun Maluku yang lebih baik, adil dan sejahtera.
“Marilah kita semua membangun Maluku dengan terus bersinergi dan berkolaborasi. Maluku tidak bisa dibangun oleh satu orang saja, satu agama saja, satu wilayah saja, Maluku akan maju jika kita terus saling menopang. GPM Sebagai mitra pemerintah daerah diharapkan dapat melayani dan bekerja bersama untuk mensejahterakan umat dan masyarakat secara baik,”pungkasnya.


