Puisi Sally Flower Di Inggris Jadi Lagu Katolik Berbahasa Kei

  • Whatsapp
Penyair Inggris Sarah Flower Adams alias Sally Flower dalam sketsa seniman Bengkel Sastra Nuhu Evav (BSNE) Adhrianct Rajapapa di Kei. (foto Adhrianct Rajapapa)
Penyair Inggris Sarah Flower Adams alias Sally Flower dalam sketsa seniman Bengkel Sastra Nuhu Evav (BSNE) Adhrianct Rajapapa di Kei. (foto Adhrianct Rajapapa)

Laporan Rudi Fofid-Ambon

Malukupost.com – Benjamin Flower adalah wartawan pemilik surat kabar Cambridge Intelligencer di Inggris. Ia menikah tahun 1800 dengan  Eliza Gould, seorang guru. Keduanya pasangan radikal.  Benjamin pernah masuk penjara karena perjuangan kebebasan berekpresi tahun 1799, sedangkan Eliza harus berhenti mengajar karena tidak tunduk pada intervensi penguasa.

Sebelum tutup usia tahun 1810, Eliza Gould melahirkan Eliza Flower (1803) dan Sally Flower (1805).  Praktis, Benjamin sendirilah yang mengasuh kedua puteri yang baru berusia tujuh dan lima tahun.   Meskipun susah payah dan bantuan guru di sekolah, Benjamin berhasil mewariskan bakat literasi kepada kedua anak.

Eliza Flower kemudian menjadi musisi dan komposer, sedangkan Sally menjadi penulis dan pemain teater.  Bahkan, kakak-beradik ini bisa berkolaborasi.  Puisi-puisi jenis himne yang ditulis Sally selanjutnya diberi komposisi musik oleh Eliza.

Sally bernama lengkap Sarah Flower. Dia lahir 22 Februari 1805 di Great Harlow, Essex, Inggris.    Tahun 1820,  Benjamin membawa kedua puteri pindah ke Dalston, dekat Hackney. Sembilan tahun setelah itu, 1829,  Benjamin tutup usia, sedangkan Sally positif mengidap TBC.

Justru saat-saat sakit TBC dan menjalani masa isolasi di Pulau Wight, Sally menulis puisi panjang berjudul The Royal Progress yakni tentang ratu terakhir Pulau Wight bernama Isabella. Sang ratu diturunkan tahun 1293 demi Raja Inggris Edward I.

Sally pun menulis di majalah Repository,  berupa, puisi, dan cerita dari tahun 1834 hingga 1836.  Sally berkenalan dengan sesama penulis William Bridges Adams.  William seorang duda, insenyur, dan penemu. Keduanya menikah tahun 1834. Maka nama Sally bertambah menjadi Sarah Flower Adams.

Sang suami mendorongnya menjadi seniman panggung.  Maka Sally pun naik pentas teater.  Belakangan, kondisi kesehatannya memburuk, sehingga kembalilah Sally ke dunia sastra. Vivia Perpetua: A Dramatic Poem in Five Acts, adalah karyanya yang terbit Februari 1841. Di dalamnya, martir Kristen Vivia dihukum mati, menolak kompromi, dengan bayinya di dadanya. Dalam karyanya ini, isu kebebasan perempuan dari kontrol laki-laki dibahas secara gambling.  Salah satu bait yang kuat, terjemahan bebasnya:

Belum pernah
Aku jumpai martabat sejati dalam diri siapa pun
yang membiarkan opini dunia melumpuhkan pemikiran.

Sally mewarisi karakter radikal sebagaimana ayah dan ibunya.  Dia senantiasa menjadi pendukung kuat semua hak asasi manusia, terutama hak-hak perempuan dan hak-hak kaum buruh. Sally menulis sejumlah puisi politik  sampai meninggal 14 Agustus 1848.  Dia dimakamkan di Harlow bersama kakak dan kedua orang tua dalam satu petak makam keluarga.

DARI TITANIC SAMPAI JUA DI KEI 

Sally menulis 13 lirik puisi pemujaan, himne, yang termuat dalam buku “Hymns and Anthems”, London 1841.  Terdapat sebuah himne yang terkenal secara luas di dunia yakni  “Nearer, my God, to Thee”.  Kakak Sally yakni Eliza Flower adalah musisi yang pertama kali membuat komposisi musik untuk puisi yang terinspirasi dari Mimpi Yakub, dalam Kitab Suci Pernjian Lama.

Setelah kematian, banyak komposer membuat  musik untuk lirik “Nearer, my God to Thee” dengan komposisi music dan variasi-variasinya. John Bacchus Dykes juga membuat komposisi musik tahun 1861 dan masih digunakan di Inggris sampai sekarang.  Seluruh dunia menyanyikan lirik  yang musiknya dikerjakan Lowell Mason, tahun 1856.  Arthur Sullivan juga menggubah tahun 1872 yang sering digunakan dalam kebaktian metodis.

Lagu “Nearer, my God, to Thee” juga menjadi sangat legendaris sehingga dimunculkan dalam adegan film “Titanic”. Pada  musibah Titanic, para musisi terus memainkan lagu tersebut sampai detik-detik terakhir kapal tenggelam tahun 1912.

Di Indonesia, Gereja-Gereja Kristen Protestan menyanyikannya dalam lagu yang diterjemahkan menjadi “Makin Dekat, Tuhan” (Kidung Jemaat 401).   Di Gereja Katolik Indonesia, lagu yang sama disadur dalam lagu berjudul  “Tuhan Berikanlah” (Puji Syukur, 712).

Para Pastor Belanda yang datang di Kei, kemudian bekerja sama dengan seniman-seniman Gereja  Katolik di Langgur menyadur lagu tersebut menjadi lagu  dalam Bahasa Kei dengan judul “U Fla  Hauk O, Duang”.  Lirik inilah yang kemudian sangat popular di Kei sebagai lagu Katolik berbahasa Kei.   Saking populer,  banyak orang muda menyangka sebagai karya asli seniman Kei.

Begitulah perjalanan sebuah puisi lirik puisi himne, menjadi lirik lagu, menempuh  jarak  jauh dan waktu yang lama, menembut batas negara dan kebudayaan.   Sally Flower atau Sarah  Flower Adams tentu tidak pernah tahu, karya puisi yang ditulis dalam keadaan sakit TBC telah tiba dengan selamat di Tanah Kei, beribu-ribu mil dari Inggris.  Dari buku ‘Hymn and Anthem“di Inggris  ke dalam buku “Siksikar Agam” di Kei:

U FLA O, DUANG

U fla hauk O, Duang, u fla hauk O
Ning sus te ning senang, ya u kai O
Bail O Umdok Umham, Bail u vak Musno am
U fla hauk O Duang, u fla hauk O

Ning lai ning vur harta, u rat vea
U dad ni gun aka? Bet Umdok vea
Bet u hauk sa O ram, bet u  lavur agam
U fla hauk O Duang, u fla hauk O

U piar vel ning ulin, u jaak nafsu
Umres vel ning vusin, Umvea ning u
Tomat er’ot aka? Umit Umkai bisa
U fla hauk O Duang, u fla hauk O

Ler i  u  nar feldan, ve Duang O
U fen rak ning, u turut wat O
Sus te matak senang, mam lai u ba norang
U fla hauk O Duang, u fla hauk O
 
(Sumber Malukupost: Oxford Dictionary/Wikipedia/dan berbagai sumber)

Pos terkait