Makam 125 Tahun Milik Pendeta Luijke Asal Belanda Dipugar Seniman Ambon

Morello da Costa dan Nico Pesuarissa di lokasi makam Pendeta Luijke, dalam suasana sebelum dan sesudah pemugaran. (foto rudi fofid/fb morello)
Lukisan profil Pendeta W. Luijke

Laporan Rudi Fofid-Ambon

Malukupost.com – Seniman Morello da Costa melakukan pemugaran makam tua Pendeta William Luijke (Luyke) di Negeri Rumahtiga Ambon, Maluku. Morello mengambil inisiatif setelah menyaksikan makam tersebut terkesan kurang terawat.

Pemugaran dilakukan dengan memberi tambahan lapisan pada beton tua yang mulai lapuk. Morello juga memberi warna cat baru pada makam, selain memberi kerikil di sekeliling makam.

Setelah pemugaran, makam yang tadinya kusam dan ditumbuhi rumput liar, kini terlihat lebih cerah dan menarik. Makam Pendeta Luijke, istri, dan dua anaknya di Rumahtiga terletak di sisi  Jalan Waimeteng, atau yang sering disebut orang belakangan ini sebagai Lorong Prabowo.   Banyak orang melintas di situ, dan tidak banyak yang tahu bahwa di lokasi yang dinaungi dua pohon kelapa oranye, terbaring sosok pendeta yang pernah bekerja bersama dengan Pendeta Josep Kam dan Roskott yang terkenal di Ambon.

Ketiga sosok pendeta dan guru agama zaman Belanda ini sama-sama berkarya di Ambon sampai akhir hayat. Josep Kam dimakamkan di Belakang Soya, Roskott di Pemakaman Keluarga Huwae di depan SMA Negeri 3 Ambon.

“Semoga bukti sejarah ini tidak hilang oleh waktu, dan kiranya generasi muda tetap kenang sosok yang berjasa untuk Maluku ini,” kata Morello kepada Media Berita Maluku Post di Rumahtiga, Minggu (19/12).

Morello mengaku menyelesaikan seluruh pekerjaan pemugaran dalam waktu lima hari. Ia mendapat dukungan dua orang pamannya.

Sebagaimana pernah dipublikasi media ini, Pendeta Luijke lahir di Amsterdam, 7 September 1798. Ayahnya George Fredrik Luijcke and ibunya Margaretha Koeman. Ia menikah dengan Anna Carolina Petronella Harrar, dikaruniai delapan anak. Luijke wafat di Ambon, 21 Mei 1886, dalam usia 88 tahun. Pada nisan di samping makam Luyke, di nisannya tertulis Luyke Harrar, wafat 18 Juli 1879. Data ini sama dengan keterangan pada myheritage.com.

Delapan putera-puterinya berturut-turut berdasarkan tahun lahir yakni Willem Alexander Luijke (1844), Martha Frederika Luijke (1845), Frederik Christiaan Luijke (1847), Daniel Luijke (1849), Thomas Albert Luijke (1851), George Nikolaas Luijke (1853), Margaretha Agnes Luijke (1855), dan Benjamin Johannes Luijke (1861).

Enam dari delapan anaknya lahir di Ambon, Martha Frederika Luijke dan Frederik Christiaan Luijke lahir di Saparua. Tahun kelahiran anak menjadi bukti bahwa pada saat itu, Luijke bertugas di sana.

Dari buku Een Opwekker op Timor, De tragische geschiedenis van Geerlof Heijmering (1792-1867) karya Christiaan George Frederik De Jong, diketahui tempat-tempat tugas Luijke selama di Maluku adalah di Kota Ambon (1827-1828), Moa (1828-1829), Sarai-Leti (1829-1841), Kota Ambon (1841-1842), Haruku (1842-1849), Kota Ambon (1849-1854), Hutumuri-Ambon (1854-1855), dan Rumahtiga-Ambon (1855-1883).

Karya Luijke yang patut dihormati yakni sejumlah terjemahan kitab suci ke dalam Bahasa Leti. De Jong mencatat, Luijke membuat 30 pertanyaan dan jawaban, seperti katekismus dalam Bahasa Leti. Demikian juga Pangâdjaran deri pada Sapuloh Penjurohan Allah, dan Kisah Kelahiran Yesus, Tata Bahasa Leti, serta terjemahan lain.

Dalam catatan sejarah Klasis Letti Moa Lakor sebagaimana disiarkan sinodegpm.org, 2 November 2018, tertulis bahwa antara tahun 1823-1825, Pendeta Josep Kam tiba di Letti dan menetap di Serai (Batumiau). Ia membawa enam orang pendeta, salah satunya Pendeta Luijke. Luijke ditempatkan di Toinaman, namun diserang malaria sehingga Kam membawanya ke Patti. (Malukupost.com)

————
CATATAN:
Atas permintaan narasumber, dua paragraf pada berita ini yang sudah disiarkan, telah kami hilangkan. Demikian untuk menjadi maklum. Terima kasih. (Redaksi)

Pos terkait